
Sedangkan itu, kini Canika sudah siap dengan sebuah koper yang bersikan barang bawaannya. Canika menatap sekeliling mansion utama yang menjadi kenangan indah dan pahit untuknya. Dia melangkahkan kakinya menuju taman bunga yang berada di samping mansion, taman yang dulu menjadi saksi bisu atas penyataan cinta nya kepada sekertaris kakak nya itu.
...FLASBACK ON...
..."AKU SUKA SAMA KAK WILDAN!!" teriak Canika saat berhadapan dengan sosok laki-laki dewasa yang berada di hadapannya. ...
...Bukannya menanggapi ucapan Canika, justru laki-laki itu malah menyentil kepala Canika. "Masih kecil, gaboleh ngomong gitu!" Ucapnya sambil berjongkok tepat dihadapan gadis kecil yang tak lain adalah Canika. ...
..."Hiks, tapi kan Cika suka sama kakak... Apa kakak enggak suka sama Cika?" tangis gadis itu pecah dihadapan laki-laki tampan ini. ...
...Dengan tangan kekar nya. Wildan menarik Canika kecil ke dalam pelukannya. "Tentu saja kakak suka sama kamu, kakak sayang sama kamu."...
...Seketika wajah Canika kecil itu langsung berbinar, dia menatap ke arah laki-laki tampan yang sudah berhasil mengunci rapat hatinya. "Serius? kakak serius sayang sama Cika?" ...
__ADS_1
...Wildan menganggukan kepalanya. "Iya sayang, kakak serius sayang sama Cika. Mangkannya Cika sekarang berhenti menangis, nanti malah lambat tumbuh dewasa nya." ...
...Canika kecil itu langsung menyeka air mata nya. Dia memeluk erat Wildan tanpa rasa canggung, "Terimakasih kakak, tunggu Cika dewasa. Cika akan menjadi istri yang baik untuk kakak."...
..."Dan kakak akan menunggu saat itu," Balas Wildan. ...
...FLASBACK OF...
Tanpa terasa, air mata Canika kembali meneteskan kala mengingat bagaimana dulu kenangan kecilnya bersama dengan Wildan. Dia terduduk lemas di kursi yang dulu menjadi tempat favoritnya bersama Wildan.
Tanpa di sadari oleh Canika, sendari tadi di belakangnya ada yang tengah menatap ke arahnya dengan tatapan sendu. Terlihat jelas dari raut wajahnya kalau dirinya sedang merasakan rasa sakit saat melihat air mata Canika.
"Seharusnya aku yang lebih dulu mengambil hatimu, Canika. Mungkin ini tidak akan terjadi kepadamu, seharusnya aku menjaga dirimu dari laki-laki sialan itu. Aku bersumpah, mulai sekarang aku akan menjagamu, aku akan melindungimu, dan aku tidak akan pernah mengizinkan siapapun untuk menyakiti hatimu lagi." Gumamnya bersungguh-sungguh untuk menjaga Canika.
__ADS_1
Canika membuka kedua matanya disaat dirinya merasa namanya di panggil. "Ah, maafkan aku. Aku ketiduran," Ucap Canika yang mengusap kedua matanya.
Vian menganggukan kepalanya. "Sudah, ayo sebaiknya kita langsung pergi. Pesawat sudah menunggu kedatangan kita." Ajak Vian.
Canika menganggukan kepalanya. Dia mengikuti langkah Vian yang membawa kopernya itu.
Keduanya masuk ke dalam mobil, tidak lama kemudian mobil itu melaju menuju bandara untuk mengantarkan kedua saudara ini.
"Berkas-berkasku bagaimana, Vian?" Tanya Canika panik, dia baru ingat dengan berkas-berkas penting nya.
Vian mendongakkan kepalanya. "Sudah, semuanya sudah siap. Tadi sebelum pulang, aku minta Bibi untuk menyiapkan segara berkas-berkas pentingmu. Dan tentunya dengan kotak surat itu."
Canika membulatkan kedua bola matanya saat mendengar ucapan terakhir dari Vian. "A-apa?"
__ADS_1
Vian menyilangkan kedua tangannya di dada bidang nya. "Kotak surat yang berisikan perasaanmu itu."