
Dengan bantuan Vian dan aunty Heppy, kini Canika sudah mulai beradaptasi dengan kampus baru nya. Tidak lupa dia juga meminta Vian untuk menemaninya bertemu dengan sahabatnya.
Canika mempertajamkan pandangannya. Wajahnya seketika langsung berbinar setelah melihat seorang wanita yang dia tunggu sejak tadi, dengan singgap Canika langsung melambaikan kedua tangannya.
"IMEL!!" teriak Canika, dia berlari memeluk sahabatnya itu. Ya, menang sejak kecil Canika lebih dekat dengan Imel dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.
Imel sendiri, dia tidak kalah senangnya saat melihat kondisi sahabatnya itu yang mulai membaik. Dia membalas pelukan sahabatnya itu.
Keduanya berpelukan seakan melepaskan rindu di antara keduanya. Sedangkan Vian? dia hanya menyaksikannya dengan tatapan datar.
"Apa kabar kamu, Cika?" tanya Imel setelah melepas pelukan sahabatnya itu.
"Seperti yang kamu lihat sekarang, aku mulai membaik. Dan itu semua berkat dukungan dan do'a dari kalian." jawab Canika dengan sendu.
Imel tersenyum manis, dia mengusap wajah cantik sahabatnya itu. "Baguslah jika kamu sudah membaik, aku sangat takut jika kamu akan berubah menjadi gorila."
Tuk!
Dengan wajah yang kesal, Canika menjitak jidat sahabatnya itu. "Kamu itu, mana bisa aku berubah menjadi gorila. Seharusnya kamu bilang kalau aku sekarang sudah berubah menjadi bidadari."
__ADS_1
Mendengar ucapan Canika, Imel langsung tertawa keras, dia memegangi perutnya yang geli.
"Astaga, ternyata sikap narsis mu itu masih ada." ucap Imel sambil menggelengkan kepalanya.
Sedetik kemudian, Imel langsung terdiam dan menghentikan tawa nya saat melihat dihadapannya ada mahluk yang sangat tampan, bak pangeran yang datang dari kayangan.
"Astaga, siapa dia? apa dia jodohku? oh, may ghost! dia sangat tampan!" jerit Imel di dalam hatinya.
Melihat tatapan Imel, Canika sudah menduga kalau sahabatnya itu pasti akan mesem kepada sepupunya. Memang tidak ada beda nya dari dulu sampai sekarang, sikap Imel yang mata ketampanan itu pasti akan langsung mesem dengan siapapun yang tampan.
"Awas air liur mu jatuh, Imel!" cicit Canika sambil tertawa renyah.
Imel menatap tajam ke arah Canika. "Awas lo Canika!"
Setelah mengobrol sebentar, mereka langsung masuk ke dalam kelas yang sudah menunggu mereka. Terlebihnya menunggu kedatangan mahasiswi baru itu.
"Udah sampe sini aja, makasih banyak ya Vian." ucap Canika.
Vian menganggukan kepalanya. Dia mengusap rambut Canika. "Belajar yang rajin, Cina. Jangan sampai aku sia-sia membawa mu ke sini hanya untuk menangis saja."
__ADS_1
Canika memajukan bibirnya, ck! menang sepupunya itu sungguh menguji kesabarannya.
Setelah itu, Vian berjalan pergi dari kelas Canika. Sehingga itu membuat Imel langsung menarik tangan Canika untuk menanyakan sesuatu hal.
"Siapa dia? apa dia kekasih baru mu itu?"
Tuk!
Lagi dan lagi, Canika menjitak jidat Imel. Dia sungguh gemas dengan pertanyaan Imel, sungguh tidak bisa di cerna. Bagimana bisa dia memiliki kekasih lagi? sedangkan dirinya saja baru selesai bubar idah dengan mantan suaminya itu.
"Sakit, pea!" ringis Imel, dia mengusap jidatnya yang sudah dua kali menjadi kor-ban tangan sahabatnya itu.
"Dia itu sepupuku, namanya Vian. Dia tinggal di sini, dan dia juga yang menemaniku ke sini." jelas Canika.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu mempunyai sepupu yang sangat tampan?"
"Untuk apa aku memberitahukan hal seperti itu? bagiku, Vian biasa saja." Ucap Canika.
Imel memutar bola matanya malas, "iya karna itu yang ada di hatimu hanyalah kak Wildan."
__ADS_1
Deg.