
Tujuh tahun kemudian.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, cinta pertamanya yang kandas tujuh tahun yang lalu tak memberi dampak yang cukup berarti bagi kehidupan Rega.
Rega tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga Prasetya, ia sudah seperti anak tertua keluarga itu, hanya mungkin sekarang ia justru lebih dekat dengan Inder ketimbang Ivana. Apalagi sejak lulus kuliah, ia merangkap menjadi manager sahabatnya itu.
Sejak Ivana menikah tiga tahun yang lalu Rega memilih untuk tinggal di apartement yang ia beli. Bukan karena ia masih menyimpan rasa pada wanita itu, tapi ia tak ingin kedekatan mereka memancing kesalahpahaman diantara Ivana dan suaminya.
Dan tentang perasaannya pada Ivana? Ia sudah mengubur rasa itu dalam-dalam, tak ada alasan baginya untuk terus memupuk cinta di masa lalu terlebih ia melihat sendiri Ivana sudah bahagia bersama lelaki pilihannya.
Rega juga sudah mulai membuka hatinya untuk wanita lain, bahkan tak hanya satu! sudah ada beberapa wanita yang masuk daftar sebagai calon penghuni hatinya, meski sampai saat ini masih belum ada yang mampu untuk membuat hatinya kembali merasakan getar yang pernah ia rasakan pada Ivana.
Pemuda berusia dua puluh empat tahun itu segera melajukan mobil sport kesayangannya membelah jalanan ibukota, ia tersenyum geli melihat file yang membuatnya bergadang semalaman.
Ia menggelengkan kepala mengingat beberapa phoint persyaratan yang ia tulis semalam, tak disangka sahabat terbaiknya bisa melakukan hal gila dengan mengikat seorang perempuan untuk tinggal bersama atas nama pekerjaan.
Bertahun-tahun mengenal Inder ia tahu benar hanya ada satu gadis yang berhasil membuat sahabatnya itu tertarik, yaitu sang peri burung yang mampu membuat sahabatnya itu begitu penasaran, hingga meluangkan waktu setiap liburan sekolah hanya untuk mencari keberadaan gadis itu.
Tapi kini, Sepertinya ada gadis lain yang mampu membuat sahabatnya itu berpaling dari peri burungnya, ia belum tahu seperti apa gadis itu, ia hanya berharap gadis itu adalah gadis yang terbaik untuk sahabatnya.
Rega baru setengah perjalanan menuju apartement Inder ketika tiba-tiba mobil di depannya berhenti membuatnya ikut berhenti juga.
Baru saja ia benapas lega karna berhasil berhenti tepat waktu, tiba-tiba...
Brukkk.
Suara hantaman cukup keras dibagian belakang mobilnya membuatnya kembali mengumpat.
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Alika Aurora, gadis manis yang tak terlalu tinggi itu menjalankan motornya dengan kecepatan maksimal karena terburu-buru.
Hari ini untuk pertama kalinya ia bangun kesiangan, membuatnya kalang kabut bahkan ia tak sempat mandi karena sudah sangat terlambat untuk pergi bekerja.
Pikirannya kalut, apalagi dari kemarin ia sudah di wanti-wanti oleh atasannya bahwa pagi ini akan ada tamu spesial yang akan datang ke restoran tempatnya bekerja, dan sialnya malah terlambat gara-gara marathon nonton drakor kesayangannya yang dilanjut dengan membaca novel online romantis.
Brukkkk..
Karena tak pokus ia tak melihat mobil di depannya berhenti hingga tabrakanpun tak terhindarkan.
Motornya hampir tak berbentuk, lututnya sakit karena menyentuh aspal dan mobil yang ia tabrak sedikit penyok di bagian belakangnya.
"Ahhhh mobil sport lagi!" Keluhnya saat menyadari yang ia tabrak bukanlah mobil sembarangan. "Tuhan... tak bisakah yang kutabrak itu mobil angkot saja? kenapa harus mobil sport, hiks... biaya perbaikannya pasti mahal." lanjutnya dalam hati, ia mendongak menyadari seseorang sudah berdiri didepannya.
"Ma...maaf," Ucapnya gugup, "Aku tak sengaja menabrak mobilmu." Alika menatap pria itu dengan wajah memelas.
Namun alih-alih menolongnya pria itu justru memakinya. Menyebalkan!
Namun, bibirnya sedikit terangkat saat pria itu menawarkan tumpangan untuknya, terlebih pria itu juga mengembalikan ponsel dan juga ktp nya meski dengan ucapan yang cukup membuat telinganya panas. "Ternyata dia baik juga!" batinnya.
"Berhenti di depan!" Ucapnya pada lelaki disebelahnya.
"Kau bekerja di sini?" tanya pria itu, sembari menghentikan mobilnya.
"Iya!" Ucapnya sembari tersenyum manis. "Terima kasih sudah mengantarku." Ucapnya tulus.
"Bukan masalah!" ucap pria itu membuat senyum kembali terbit dibibirnya, tapi senyum itu lenyap saat mendengar kelanjutan kalimat dari pria itu.
"Lagipula dengan begini, aku tahu kemana harus mencarinya untuk memberikan tagihan perbaikan mobilku." Ucap pria itu dengan senyum smirknya.
__ADS_1
Alika menghela napas. "Jadi ini tujuannya memberiku tumpangan? Aku ralat ucapanku tadi, dia bukan pria baik tapi pria menyebalkan!" Batinnya memggerutu.
Ia baru akan melangkah meninggalkan tapi urung saat pria itu kembali memanggilnya. "Dan Nona!"
"Ya?"
"Untuk ongkos jasa mengantarmu sampai kemari akan kumasukan dalam tagihanmu nanti, jadi persiapkan uangnya dari sekarang!" ucap pria itu dengan senyum smirk nya membuat matanya membulat.
"Dasar pria menyebalkan!!" teriaknya pada mobil yang sudah menjauh dari tempatnya. "Kenapa ada orang nyebelin kayak dia sih?" gerutunya.
Alika menghela napas, tak ada waktu untuk terus kesal dengan pria yang bahkan sudah tak nampak di matanya, ia harus segera masuk untuk bekerja.
Alika berbalik dengan gugup melangkah cepat, memasuki restoran tempatnya bekerja, dan keningnya mengernyit ketika sang manager resto justru menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Syukurlah kau sudah datang! Kemarilah akan saya kenalkan denga karyawan baru kita!" ucap pria yang biasanya galak itu.
Dengan wajah bingung Alika menghampiri lelaki itu. "Perkenalkan ini Reihan, pegawai baru di resto kita."
"Pegawai baru?" gumamnya. "Bukankah kemarin atasannya itu bilang akan datang tamu yang spesial? kenapa malah ada pegawai baru?
Sebelum otaknya mendapat jawaban, suara berat lelaki di depannya membuyarkan lamunannya. "Reihan! Senang bertemu denganmu!"
"Alika, senang juga bertemu denganmu!" ucapnya.
"Baiklah, Mas Reihan saya tinggal dulu, ya. Semoga betah bekerja di sini."
"Terima kasih, pak!"
Alika mengerutkan dahinya, rasanya ada yang ganjil dengan sikap sang manager yang mendadak begitu ramah. "Jangan terlalu banyak melamun, sebaiknya kita mulai bekerja." Ucap pria itu bercanda.
__ADS_1
Alika menatap pria yang kini menatapnya, "Kau benar! Ayo mulai bekerja!"