
Alika memandang kesal sang bos baru dari balik file yang sedang ia pelajari. Ini hari pertamanya bekerja, tapi ia sudah di kerjai habis-habisan oleh bosnya itu. "Ada, ya, orang seperti dia." pikirnya.
Bayangkan saja, ia sudah disuruh membuat kopi hingga lebih dari lima gelas dan tak ada yang sesuai dengan selera bos nya itu, padahal setelah ia cicipi semua kopi itu enak, hingga ia berinisiatif menaruh kopi pertamanya di gelas berbeda dan di serahkan pada sang bos yang ternyata justru kopi itu bisa di terima. "Huhh dia benar-benar mengerjaiku." gumamnya kesal.
Menjelang siang sang bos juga menyuruhnya memasakkan makanan, "Huh...sebenarnya pekerjaanku ini apa, sih? Sekertaris pribadi atau Asisten rumah tangga? Sampai di suruh masak segala?" Masih ngedumel pelan tak habis pikir dengan kelakuan bosnya.
Ia bahkan di haruskan memanggil bosnya itu dengan panggilan 'sayang', Gila, Kan! Mana ada karyawan yang manggil atasannya dengan sebutan sayang?
Dan Kini ia di hadapkan dengan setumpuk file yang harus dia pelajari, file berisi sejarah berdirinya hotel ini dan segala aturan yang harus dia patuhi selama bekerja di sini.
Alika rasanya ingin mengutuk atasannya yang sedang sibuk berkutat dengan ponselnya itu, ia mulai membaca lagi poin-poin perjanjian kerja samanya dengan pria itu.
..."Hah!! Apa-apaan nih? " memekik dalam hati, saat membaca beberapa poin yang terasa aneh baginya....
Ingin bertanya tapi ia urungkan saat sang bos terlihat sibuk dengan telponnya.
"Iya, aku pasti datang." Ucap sang bos entah dengan siapa ia bicara.
Alika kembali pada file nya, kembali membaca poin terakhir dari kontrak kerja samanya dengan pria itu.
"Sudah selesai?" tanya pria berhidung mancung itu membuatnya sedikit kaget.
"Sudah." ucapnya. "Boleh kah aku mengajukan keberatan untuk beberapa peraturan yang Anda buat?" tanyanya hati-hati.
"Tidak boleh!" tegas pria itu. "Bukankah di situ di tulis, jika kau tidak bisa mengganggu gugat keputusanku, lagipula memangnya poin mana yang membuatmu keberatan?"
Alika menghela napasnya, seharusnya ia berpikir panjang sebelum menyetujui tawaran ini. "Tentang antar jemput." Ucapnya. "Bukankah itu terlalu berlebihan untuk seorang karyawan? Bagaimana mungkin Anda akan mengantar dan jemput saya setiap hari?"
"Kenapa tidak mungkin?" ucap lelaki itu.
Apa yang aku lakukan tak seberapa, Inder bahkan memakai alasan pekerjaan seperti ini untuk mengajak Za tinggal bersamanya agar bisa meluluhkannya. Batin Rega.
"Jangan geer ran, aku hanya ingin memastikan kalau karyawanku datang dan pulang tepat waktu." Ucap pria itu santai. "Lagi pula kau sudah menyetujui semuanya jangan kau pikir bisa menjadikan ini sebagai alasan untuk lari dari tanggung jawabmu." Imbuhnya.
"Si-siapa yang kegeeran, aku kan hanya bertanya." Ucap Alika. "Dan jangan khawatir aku tak berniat lari dari tanggung jawabku." Tegasnya.
"Baguslah! Sekarang bereskan file dan semua barangmu karena hari ini kau ada acara penting, kau bisa pulang lebih awal." ucap pria itu.
Alika menurut tak banyak lagi berkomentar, acara penting? Ahhh dia hampir lupa kalau hari ini ada pesta penyambutan Za. Alika membereskan semua pekerjaannnya lalu segera keluar dari ruangan mengikuti langkah kaki bos barunya itu.
Sepanjang perjalanan dari ruangan Direktur hingga lobi ia hanya diam dan mengikuti langkah kaki sang bos hingga menuju parkiran.
"Masuk!" titah Rega begitu sampai di depan mobilnya.
Alika membuka pintu belakang mobil dan duduk di kursi belakang.
"Ck! Memangnya aku ini supirmu?" Decak pria itu. "Duduk di depan!"
__ADS_1
Alika menghela napas lalu menuruti titah sang bos.
🌺🌺🌺🌺🌺
Sudah seminggu ia bekerja bersama Rega, dan semakin hari bosnya itu semakin aneh saja.
Bagaimana tidak, setelah menyuruhnya memanggil sayang pria itu bahkan memberi hukuman sebuah ciuman di pipinya jika ia memanggil Pak. Gila, bukan!
Dan saat ini ia berdiri di depan pria itu untuk memohon izin cuti agar bisa menghadiri pernikahan sepupunya, tapi dari tadi pria itu hanya memandanginya membuatnya semakin gugup saja.
"Jadi... bagaimana, Pak?" Ucapnya memberanikan di untuk kembali bertanya keputusan atasannya.
Lalu kemudian segera memejamkan mata seraya menutup wajah dengan kedua tangannya saat menyadari sudah salah memanggil atasannya itu. "Bodoh kenapa aku memanggilnya pak, lagi?" Batin Alika.
"Turunkan tanganmu! Saya sedang tidak mood untuk menghukum kamu!" bisik pria itu tepat di telinganya.
Gadis itu menurunkan tangannya, perlahan menatapnya waspada.
"Baik, saya akan beri kamu cuti, Tapi... Ada syaratnya." Ucap pria itu.
"Syarat?" Tanyanya itu mulai cemas.
"Hal gila apa lagi yang akan ia jadikan sebagai syarat? Dia sudah menyuruhku memanggilnya sayang, menghukumku dengan ciuman, sekarang apalagi yang laki-laki ini rencanakan?" Batinnya mulai menerka.
Ia menatap pria itu sebal, "Anda mau meminta syarat apa lagi?" Cetusnya dengan bibir mengerucut.
Rega mendekati Alika membuatnya mundur selangkah ke belakang. "Anda mau apa?" Tanyanya dengan tatapan waspada.
"Awas saja kalau dia berani menodai bibirku, akan kutendang juniornya sampai tidak bisa bangun lagi!" Tekadnya dalam hati.
Namun, yang terjadi adalah matanya reflek menutup begitu wajah Rega semakin mendekat, Alika bahkan bisa merasakan hembusan hangat napas pria itu menerpa wajahnya, tapi sedetik kemudian.
Cetakk... Rega menyentil jidatnya.
"Awww!" Pekik Alika sontak langsung membuka matanya membulat. "Apa yang kau lakukan?" Pekiknya seraya mengusap keningnya yang terasa sakit.
"Itu hukuman karna kau sudah berpikir mesum!" Ucap pria itu seraya melipat bibirnya.
"Siapa yang berpikir mesum?" Sanggahnya dengan wajah yang terasa memanas.
"Kalau bukan mesum, lalu kenapa kau memejamkan matamu? Seolah aku mau menciummu saja."Cibir pria itu.
"Itu... Aku... kupikir..." masih mencoba berkilah padahal apa yang lelaki itu katakan semuanya benar.
"Apa yang kau pikirkan?" Ucap lelaki itu, seraya kembali mendekat.
Glek Alika menelan ludahnya saat wajah pria itu begitu dekat dengannya.
__ADS_1
"Ahhh Sial! Kenapa dia terlihat begitu tampan?" Rutuknya dalam hati. Matanya tak bisa berpaling dari salah satu makhluk Tuhan yang nyaris sempurna ini, bahkan untuk sekedar berkedippun matanya seolah tak Rela.
"Kenapa? Apa kau sedang mengagumi ketampananku?" Ucap Pria itu menyeringai membuatnya memalingkan muka mencoba menyembunyikan wajahnya yang merona. "Anda terlalu percaya diri, siapa yang mengagumi ketampanan anda!" Kilahnya lagi.
Rega tersenyum smirk melihat warna pipi Alika yang memerah, " Sudahlah, tanpa kau akui pun aku bisa melihat dari warna pipimu itu!" Ucap Rega membuat gadis itu memegang kedua pipinya.
"Kau masih ingin mengajukan cuti?" Tanya Rega, mengalihkan pembicaraan.
Gadis itu menoleh, lalu mengangguk.
"Baiklah, tapi sebagai syaratnya aku yang akan mengantarmu kesana, dan kau harus mengijinkanku tinggal dirumahmu, Bagaimana?" Tanyanya santai.
"Hah! Tapi untuk apa anda repot-repot? Saya bisa pulang sendiri dengan travel. Dan... menginap dirumah saya? di sana itu bukan kota metropolitan seperti di sini, bisa digrebek saya kalau bawa lelaki nginep dirumah." Ujar Alika mencoba mencari alasan.
"Kalau begitu sayang sekali, kau tidak bisa mendampingi saudaramu dihari pernikahannya, karena pekerjaan disini masih sangat banyak, dan kau masih karyawan baru jadi aku tak bisa mengizinkanmu cuti." Ucap Rega santai. "Kau bisa kembali melanjutkan pekerjaanmu." Lanjutnya
"Dasar Bos kejam, jadi dia ingin mengantar dan menginap dirumahku supaya aku masih bisa bekerja? Benar-benar tak berperasaan." Rutuk Alika dalam hati.
Rega kembali ke kursinya dan berpura-pura sibuk, ia mengabaikan wajah memelas Alika yang masih berdiri di depannya.
"Pak, emhhh maksudku Sayang, tolong pikirkan lagi, Za pasti akan sedih jika saya tak bisa mendampinginya, dan saya yakin CEO kita tidak ingin calon istrinya sedih di hari pernikahannya." Bujuk Alika lagi.
Rega menatap gadis itu, "Dari itu aku mengajukan syarat padamu, agar kau bisa tetap hadir disana sekaligus bertanggung jawab untuk pekerjaanmu!" Ujar Rega tak mau kalah.
Telak! Alika tak bisa berkata-kata lagi, "Aku memang tidak akan bisa menang melawan dia!" Keluh alika dalam hati.
Dan akhirnya dengan berat hati, Alika menyetujui syarat dari Rega.
Mereka berangkat setelah jam makan siang. sepanjang perjalanan, percakapan mereka hanya tentang arah jalan yang harus dituju, hingga menjelang senja mereka baru sampai di kampung halaman Alika.
Alika segera keluar dari mobil. "Anda bisa parkir sebelah sana!" Ucapnya.
Alika sengaja menunggu Rega selesai memarkirkan mobilnya, ada sesuatu yang harus ia rundingkan dengan lelaki itu.
"Sudah Selesai?" Tanyanya begitu Rega kembali. "Ia, kau masih di sini? Ayo kita masuk!" Ajak Rega
"Tunggu! Ada sesuatu yang harus saya bicarakan." cegah Alika.
Rega menghentikan kakinya yang baru akan melangkah, dan menatap gadis itu. "Mau bicara apa."
"Bisakah selama ada di sini, saya memanggil Anda pak saja? Orangtua saya akan salah paham kalau saya memanggil anda dengan sebutan sayang." Ucap Alika Hati-hati.
Rega tersenyum, "Baiklah, tak masalah." Ucapnya.
"Sungguh? Anda tidak akan menghukum saya seperti tempo hari, kan?" tanyanya memastikan. Bisa pingsan orangtuanya kalau melihat anak gadisnya dicium sembarangan.
Rega mengangguk, membuat gadis itu tersenyum lebar. "Ternyata dia punya hati juga!" Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Tapi sebagai hukumannya masa kerjamu padaku diperpanjang jadi dua tahun." Ucap Rega dengan Santai.
"Huh kuralat ucapanku tadi, dia tak punya hati, dia itu hanya punya otak. Makannya selalu bisa manfaatkan segala kesempatan untuk keuntungannya!"