TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
TJC EPISODE 76


__ADS_3

Kedua bola mata cantik itu perlahan mulai membukakan pandangannya. Pandangan yang pertama dia tangkap adalah pandangan dokter dan seorang laki-laki yang menggenggam tangannya.


"A-air.." Lirihnya yang menginginkan segelas air minum.


Dengan singgap, Wildan langsung memberikan segelas air minum itu kepada istrinya. Dia membantu Canika untuk meminum air itu.


Ya, wanita cantik itu adalah Canika. Dia baru saja terbangun pasca kejadian naas kemarin.


Sedetik kemudian, kejadian kemarin langsung terlintas di dalam pikiran Canika.


"Tidak! Anakku? A-anakku baik-baik saja, kan?" Ucap Canika sambil histeris nya. Dia menatap ke arah dokter. "Dok, jawab saya! Anak saya baik-baik saja, kan?"


"Anda tenang, nona. Anak anda baik-baik saja," jawab dokter.


"Tidak! jangan bohong, dokter! jika anak saya baik-baik saja, kenapa perut saya sakit? Ini bekas jahitan oprasi, kan?! JAWAB SAYA!!!" Gertak Canika dengan mimik wajah emosinya. Dia bukan anak kecil yang bisa di bohongi, dia paham dalam bidang kedokteran jadi dia sudah pasti sangat paham dengan kondisinya saat ini.


"Maafkan kami, nona. Kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda, anda mengalami benturan yang mengakibatkan janin anda keguguran."


DUAR!


Bak tertusuk ribuan pedang, jantung Canika seketika berhenti berdetak. Ucapan dokter itu langsung menggema di telinganya.


"TIDAK!! TIDAK!!" teriak Canika yang tidak terima saat anaknya tidak bisa terselamatkan.


"Tenang, sayang..." Wildan memeluk Canika. Namun dengan singgap, Canika melepaskan pelukan itu.


"Jangan menyentuhku!" Teriak Canika dengan tegasnya.


Canika kehilangan kendali, dia mengamuk dan melepaskan selang infus nya.


Dokter dan suster mencoba menenangkan Canika, namun tetap saja. Keduanya tidak bisa menenangkan Canika.


"PERGI KALIAN! PERGI!!!!!!!" Teriak Canika.


Wildan meminta dokter dan suster untuk meninggalkan ruangan istrinya. Dia tau kondisi istri nya saat ini sedang tidak stabil.


Cantika menangis histeris. Dia menangis histeris sambil memeluk perutnya. Cukup lama Canika menangis seperti itu. Sampai akhirnya, dia menatap ke arah suaminya.


"Puas kamu, kak?"


Deg.


"A-apa maksudmu, Canika?!"


Canika menatap sinis ke arah Wildan. "Bukannya ini yang kamu mau, kak? menghilangkan bayi ini agar kamu bisa menceraikan aku? selamat kak, selamat! Keinginan mu sudah terkabulkan, sekarang tidak ada lagi yang menjadi penghalang untuk cinta kalian."

__ADS_1


Wildan menggelengkan kepalanya. "Tidak, maafkan aku sayang. Sungguh, maafkan aku... a-aku menyesal.. Maafkan aku, ku mohon.." Wildan memeluk tubuh Canika. Dia menyesali perbuatannya yang sungguh sangat melukai hati istrinya.


Tidak ada respon apapun dari Canika. Dia hanya terdiam memandang lurus ke depan. Canika membiarkan Wildan untuk memeluknya.


Pandangan indah yang sudah Canika susun rapih, kini harus hancur saat dirinya kehilangan penyemangat nya.


Wildan menyeka air mata istrinya. Wildan mengecup kening Canika. "Maafkan aku,"


Canika memejamkan mata nya. Rasa sakit yang tadi dia rasakan, kini semakin besar saat Wildan baru menyesali perbuatannya itu.


"Lepaskan aku," Canika meminta Wildan untuk melepaskan pelukannya.


Dia menatap lurus ke arah Wildan. "Talak aku, kak! Talak aku sekarang juga!" Tegas Canika yang membuat Wildan syok bukan main.


"Tidak! tarik ucapanmu, Canika! Aku tidak akan menceraikanmu!" Tolak Wildan dengan tegasnya. Dia menolak saat istrinya itu meminta dirinya untuk menalaknya.


"Jangan egois, kak! Bukankah ini yang kamu mau? Ceraikan aku! Hiks.. Ceraikan aku!!"


BRAK!


Pintu ruangan rawat Canika terbuka dengan keras oleh seseorang.


"Kakak..." Lirih Canika.


Rey memberikan bogem mentah nya kepada Wildan. Dia menghaj4r Wildan dengan membabi-buta.


Renata memeluk adik iparnya. Dia sungguh terkejut saat mendengar kabar kalau adik iparnya itu mengalami tabrakan dan lebih terkejutnya lagi dia mendapatkan adiknya melihat suaminya itu bersama wanita lain.


"Tenang, sayang. Ada kakak disini." Renata mengusap punggung Canika yang sedang menangis dalam pelukannya.


Wajah Wildan kini menjadi babak belur, dia tidak melawan kakak iparnya itu. Dia tau dirinya salah, dan dia pantas mendapatkan ini.


Saat Rey hendak memberikan pukvlannya lagi. Papa nya terlebih dulu menghalanginya.


"Cukup, Rey! Sudah cukup!" Teriak pak Bram. Dia memisahkan anak dan menantunya itu.


"Tidak, pah! Dia harus merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh adikku! Beraninya dia bermain api!"


Canika memeluk tubuh kakaknya. "Kak, hiks.. Sudah!"


Deg.


Rey terdiam saat merasakan pelukan hangat dari adiknya. Punggungnya menjadi basah saat terteteskan air mata Canika.


Rey membalikan tubuhnya. Dia memeluk adiknya. "Maafkan kakak, maafkan kakak.."

__ADS_1


Mama Widia tidak bisa berkata apapun lagi. Dia sungguh tidak menyangka dengan apa yang di perlakukan oleh menantunya kepada putrinya.


Rey memeluk erat adik nya. Adik yang dari dulu dia jaga, namun kini dihancurkan oleh laki-laki yang dipercaya oleh Rey.


Rey mengecup kening Canika. Dia mengusap air mata Canika. "Jangan menangis lagi, kamu tidak pantas untuk menangis." Ucap Rey dengan tatapan sendu nya.


Dia mengajak Canika untuk pergi dari rumah sakit. Tapi terlebih dulu, Wildan mencegahnya.


"Jangan bawa istriku, tuan!" Teriak Wildan.


Rey menatap sinis ke arah Wildan. "Istrimu? apa kamu sudah pantas untuk mendapatkan gelar sebagai seorang suami? Cih! aku akan pastikan, kamu akan menerima balasan yang setimpal!" tegas Rey.


Dia menggendong tubuh lemah adiknya dan membawanya pergi.


Sedangkan itu, Wildan menangis dalam diam. Dia mencoba mengejar mobil Rey. Namun tidak bisa.


"Jangan tinggalkan aku, CANIKAAA!!" Teriak Wildan saat dirinya kehilangan mobil kakak iparnya itu.


Wildan ambruk di tempat. Dia terduduk sambil mengerutuki kebodohannya. Dia sungguh bodoh karna menyia-nyiakan seorang istri yang seperti Canika.


Benar, penyesalan datang saat akhirnya. Wildan menyesali banyak hal yang dia lakukan kepada Canika.


Saat Wildan menangis. Tiba-tiba saja, datang seorang wanita yang memeluknya.


"Lepaskan aku, sialan! Semua ini gara-gara kamu!" Murka Wildan. Dia menatap tajam ke arah wanita yang tadi memeluknya itu.


Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Maafkan, aku... Maafkan aku..."


Sepanjang perjalanan. Canika hanya menatap ke arah jalan. Sesekali air mata nya kembali menetes saat membali mengingat momen manis yang sudah dia siapkan untuk anaknya nanti.


"Kenapa kamu pergi, nak? apa kamu tidak kuat dengan sikap ayah mu itu? kenapa kamu meninggalkan mama sendirian disini, seharusnya kamu membawa mama pergi bersamamu. Mama tidak sanggup kehilanganmu, nak..." Batin Canika tersendu-sendu.


Renata menggenggam erat kedua tangan Canika. Dia menatap ke arah suaminya yang sudah pasti sedang tidak bisa di ajak berbicara.


Terlihat jelas dari raut wajah suaminya. Renata mengusap punggung suaminya untuk menguatkan suaminya.


Rey menoleh ke arah istrinya. Dia tersenyum tipis seolah-olah berkata kalau dirinya baik-baik saja. walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, Rey merasakan dirinya sudah gagal menjadi seorang kakak.


Rey menatap ke arah adiknya. "Maafkan kakak, maaf karna kakak sudah gagal menjadi seorang kakak untukmu."


...----------------...


Hallo, semuanya. yuk mampir juga ke sini!


__ADS_1


__ADS_2