
Terdengar hembusan nafas seseorang yang terlihat begitu pilu, hembusan nafas yang seakan memberitahukan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
"Aku memang bodoh, aku telah menyia-nyiakan waktu ku bersamamu, Aku telah menyia-nyiakan semuanya. Kenapa hatiku selalu sakit disaat mengingat air mata mu itu? aku memang bodoh, sangat bodoh!tapi orang bodoh sepertiku ini masih menginginkan dirimu, sayang." lirihnya sambil mengusap sebuah bingkai foto seorang wanita yang tengah tersenyum manis.
"Sampai kapan kamu akan terus seperti ini, nak?"
Terdengar jelas suara wanita paruh baya, dia berjalan menghampiri seorang laki-laki yang tengah memandang bikai foto.
Wanita paruh baya itu memeluk putra nya. Kejadian masalalu yang berhasil mengubah putra nya menjadi laki-laki yang berbeda dari sebelumnya. Putranya itu bahkan menjaga jarak dengannya sendiri.
__ADS_1
Sebagai seorang ibu, tentunya dia sudah paham dengan perasaan putra nya. Sering kali dia memperkenalkan putra nya itu kepada wanita-wanita cantik dan baik, namun itu semua tidak mampu membuat putra nya itu luluh.
Tidak ada wanita yang mampu meluluhkan hati putra nya. Ralat, namun lebih tepatnya... putra nya itu masih terjebak dalam penyesalan masalalu nya.
"Sudah nak, jangan terus seperti ini. Sudah saatnya kamu memperbaiki hidup mu, tata kembali masa depan mu, nak. Jangan terus seperti ini, apa kamu tidak kasihan kepada ibu mu ini? ibu sudah tua, nak. Sebelum ibu tiada, ibu ingin melihat kamu bahagia.. semua manusia tidak laput dari kesalahannya nak, ibu tidak akan melarang apapun yang kamu lakukan. Tapi ibu mohon... jangan terus menyendiri dan meratapi penyesalan seperti ini, nak."
Mendengar ucapan ibu nya, Wildan dengan tatapan kosong nya dia menatap ke arah ibu nya itu. Apa yang dikatakan oleh ibunya menang benar, tapi dirinya masih enggan untuk keluar dari masalalu nya.
Memang semenjak kejadian itu, dia menjadi tertutup terhadap siapapun, baik keluarga, ibu, ataupun siapapun itu. Dia menutup dirinya dengan rasa bersalah yang mendalam, setiap hari dia merasa dihantui oleh penyesalan nya terhadap seorang wanita cantik yang dia sia-siakan, terutama penyesalan terhadap bayi nya.
__ADS_1
Andai saja bisa memutar waktu, dia tidak ingin mengikuti permintaan mantan kekasihnya itu. Mungkin jika dia tidak menuruti ucapan mantan kekasihnya itu, mungkin sampai sekarang dia sudah bahagia bersama keluarga kecilnya. Namun nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa dikembalikan menjadi nasi.
Dengan tangan yang lembut, ibunya Wildan mengusap wajah tampan putra nya itu. "Sudah saatnya kamu meneruskan kejayaannya keluargamu, nak. Umur ibu sudah tua, tidak bisa meng-handlae lagi."
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Wildan, hanya anggukan kepala singkat yang sedikit membuat seorang wanita paruh baya itu tersenyum manis.
"Heru akan menemanimu, dia akan mengajarkanmu. Pergilah, kejar apa yang kamu mau, nak. Ibu akan mendukungmu dari sini,"
Entah bagaimana getaran hati Wildan rasanya sangat aneh, dia merasakan hatinya bergetar dan pikirannya tertuju untuk mendapatkan kembali hati pujaannya.
__ADS_1
......"Baiklah, sudah saatnya aku mengejarmu. Sudah saatnya aku yang berjuang untuk mendapatkanmu, tunggu aku sayang. Aku berjanji akan berubah menjadi seperti yang kamu inginkan, aku akan mengabulkan semua keinginanmu dulu, tunggu aku sayang..." Batin Wildan. ......