TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
TJC EPISODE 44


__ADS_3

Kurang dari 1 bulan setelah Aulia melahirkan. Giovanno langsung mempersunting Aulia sebagai istrinya. Dia tidak mau mengulur waktu lagi.


Dengan keputusan mantapnya. Giovanno berhasil meyakinkan keluarganya kalau Aulia adalah pilihan yang tepat. Gio tidak meminta keluarganya untuk menerima Aulia. Gio hanya meminta keluarganya merestui pernikahannya.


Dengan perlahan-lahan, keluarga Gio perlahan luluh. Mereka luluh dengan sikap Aulia yang sungguh membuat mereka tidak mempunyai alasan untuk tidak menerima kehadiran Aulia.


Bisa dilihat hari ini yang dimana hari pernikahan Gio Dan Aulia. Keluarga Abraham bahkan menyiapkan acara pernikahan itu dengan antusias.


Aulia bersyukur karna keluarga suaminya itu sudah menerimanya dan juga anaknya. Mereka bahkan tidak terlihat keberatan dengan kedatangannya. Bahkan kini anaknya sudah jauh dari jangkauannya.


Ya siapa lagi kalau bukan keluarga Abraham yang berebutan untuk menjaga baby Aulia yang diberinama Agam Abraham.


Cup!


Gio mengecup kening Aulia. "Terimakasih, sayang. Terimakasih karna kamu sudah mau menjadi istriku. Aku berjanji akan selalu ada untukmu dan akan membahagiakanmu."


Aulia tersenyum manis menanggapi ucapan suaminya itu. Dia sungguh tidak menyangka akan dinikahi oleh seorang laki-laki yang usianya lebih muda darinya.


Namun tidak bisa Aulia pungkiri jika sikap dan perilaku Gio sungguh membuatnya terpana. Sikap dewasa yang sungguh membuat Aulia mantap menjadi istrinya.


"Tidak perlu berterimakasih seperti itu, suamiku. Mungkin ini sudah takdir kita. Terimakasih karna kamu sudah mau menerima keku--eumm!!" Ucap Aulia yang terpotong karna Gio menutup mulut Aulia dengan mulutnya.


"Jangan mengatakan itu lagi! Bagiku, kamu sangatlah sempurna. Aku sangat mencintaimu." Sahut Gio. Dia memeluk erat istrinya.


Melihat kebahagiaan anaknya. Ibunya Aulia tidak bisa berkata kata banyak. Dia cukup mengucapkan syukur dan alhamdulillah. Dia berharap kali ini kehidupan Aulia akan bahagia.


Sedangkan itu di mansion Rey.


Rey terus saja mengganggu baby twins yang tengah mimi kepada Renata. Bahkan dengan sengaja nya Rey mencabut put*ng Renata dari bibir mungil Darriel.


Kejahilan Rey tentunya membuat baby Darriel spontan langsung menangis.


Oee... oee... oee...


Tangisan baby Darriel menggema di dalam kamar.


"Mas!!! Jail banget sih kamu! Kasian Darriel. Dia aus!" Sentak Renata dengan wajah kesalnya.


Bukannya meredakan tangisan Darriel. Justru Rey malah tertawa lepas. Dia malah memeluk tubuh Renata.


Rey mengusap pipi gemul Darriel. "Cup... cup.. cup.. jangan menangis lagi sayang. Kalau kamu masih nangis. Ayah akan habiskan mimi bunda."


Renata memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya suaminya itu mengatakan hal seperti itu.

__ADS_1


Darriel berhenti menangis. Dia kembali mimi kepada Renata. Darriel menyed*t nya dengan sangat kencang. Bahkan tangan mungilnya itu memegangi dada Renata. Sikap Darriel seperti itu seakan takut diambil oleh ayah-nya.


"Hei hei boy! Pelan-pelan.. Ayah tidak akan mengambilnya. Kecuali malam hahaha..."


"Astagfirullahaladzim!! Mas!!! Bisa diam tidak sih?! Darriel mau tidur!!" Renata mencubit pinggang Rey. Dia sungguh kesal karena suaminya itu terus saja mengganggu Darriel.


"Aww... aww.. aww.. Ampun sayang!! Ahhh.. Sakit!!" Rintih Rey. Dia meringis saat mendapatkan cubitan ma*t dari istrinya.


"Rasain! Mangkanya jangan jahil!!"


Mendengar kebisingan yang berasal dari kamar anak dan menantunya. mama Widia spontan langsung menuju kamar menantunya itu.


"Ada apa ini?" Tanya mama Widia sambil menghampiri Renata.


Renata mendongakkan kepalanya. "Mas Rey gangguin mimi Darriel terus, mah. Padahal setiap malam juga mas Rey selalu dapet jatahnya." Ucap Renata yang membuat Rey sungguh malu kepayang.


Rey melotot saat mendengar ucapan istrinya. Astaga! Bisa-bisanya istrinya itu mengatakan hal yang se private itu? Ya walaupun kepada ibunya. Tapi tetap saja dia malu.


Mama Widia langsung menjewer telinga anaknya. Bisa-bisanya anaknya itu terus menggempur menantunya. "Kamu itu ya!!" mama Widia menarik telinga Rey dengan kencang.


"Kalau kamu terus gempur Rena. Yang ada twis bakalan cepet punya adik!!" Lanjut mama Widia.


"Astaga.. lepasin mah! Sakit!!"


Mama Widia melepaskan telinga Rey. "Sudah. Mulai malam ini Renata tidur sama mama."


"Ga ada loh-loh-han! Renata tidur sama mama!!" Final mama Widia. Dia sungguh tak habis pikir dengan sikap anaknya yang sama dengan ayahnya. Sama-sama tidak puas.


Rey meringis kesal. Dia sungguh kesal karna mamahnya itu malah memisahkannya dengan Renata.


Di sisi lain. Terlihat seorang gadis cantik yang tengah menangis. Dia menangis histeris, berteriak, dan terus saja mengumpat.


Bagaimana tidak? Dia baru saja menyaksikan kekasihnya sedang bercinta dengan temannya sendiri.


"Aarrrggghhh!! B@j1ng@n kamu Aldo!!!!" Teriak gadis itu.


Brak!


Gadis itu tidak sengaja menabrak tubuh seorang laki-laki yang sepertinya tidak asing lagi dimatanya.


"Canika?"


Gadis cantik itu mendongakan kepalanya. Dia menatap seseorang yang memanggilnya namanya.

__ADS_1


"K-kak?"


"Sedang apa kamu disini? Dan kenapa matamu sembab?"


Canika menggelengkan kepalanya. Jika dia menjawabnya. Nanti yang ada urusannya lain lagi. Dia yakin kalau sekertaris kakaknya itu pasti akan memberitahukannya kepada kakaknya.


Ya, gadis cantik itu adalah Canika. Adik Rey.


"A-aku.. t-tidak apa-apa." Jawab Canika dengan lirih. Mulut bisa berbohong tapi air matanya tidak bisa berbohong. Itulah yang dibaca oleh Wildan dengan raut wajah Canika.


Wildan langsung menarik Canika ke dalam pelukannya. Dia langsung membawa Canika ke dalam mobilnya.


Wildan membiarkan nona mudanya itu menangis sendirian. Dia tidak mau mengganggunya.


Canika menangis tanpa memikirkan kondisi disekitarnya. Bahkan dia memeluk dan menggunakan kemeja Wilda untuk menglap ingusnya.


Sedetik kemudian Canika langsung tersadar. Wajahnya merona malu saat mengetahui kemeja sekertaris kakaknya itu sudah basah karna air mata dan juga ingusnya. Astaga!!


"Ma-maaf, kak." Lirih Canika. Dia menjauh dari Wildan.


"Hmm.. sudah. Sebaiknya kita pulang." Wildan menjalankan mobilnya. Dia menuju ke mansion Rey.


Sepanjang perjalanan. Tidak ada percakapan apapun dari Wildan ataupun Canika. Keduanya saling terdiam diri.


Tanpa sadar Canika mulai terlelap. Mungkin dia lelah karna menangis dan berteriak.


Sesampainya di mansion Mohana. Wildan langsung memarkirkan mobilnya.


Saat hendak keluar. Dia melirik Canika yang tengah tertidur lelap.


Tanpa sadar. Wildan mengukir senyum tipisnya saat melihat wajah polos Canika. Wajah bocil yang dulu sering memintanya mengecup pipinya.


Tanpa menunggu permisi atau apapun itu. Wildan keluar dari mobil dengan memangku tubuh Canika.


Melihat kedatangan Wildan. mama Widia, papa Bram, Renata, dan Rey. Dibuat terkejut saat melihat kedatangan Wildan dengan memangku Canika.


"Ada apa?" Tanya Rey. Dia menghampiri sekertarisnya.


"Tadi saya bertemu nona Canika di Cafe. Jadi sekalian saja saya antar pulang. Tapi nona Canika tertidur didalam mobil, mangkannya saya menggendongnya masuk." Jawab Wildan dengan lantangnya.


----------------


Hay. Salam hangat dari author. Seperti biasa, author minta dukungan dan support nya dari kalian semua untuk novel author.

__ADS_1


LIKE+KOMEN+VOTE!!


RATE BINTANG 5 DAN TEBARKAN BUNGA KALIAN 🌹🌹🌹


__ADS_2