TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
TJC EPISODE 58


__ADS_3

Tanpa disadari oleh Canika, sendiri tadi Wildan mendengar dan merasakan perlakuan Canika.


Setelah Canika pergi, Wildan terbangun dari tidurnya. Dia memegang selimut itu. "Mungkin ini sudah kehendak takdir, tapi aku juga tidak bisa menjanjikan kalau aku akan mencitaimu." Lirih Wildan.


Hubungan rumah tangga yang seharusnya harmonis, penuh canda dan tawa, namun berbeda dengan pernikahan yang dijalani oleh Canika dan Wildan.


Mungkin pernikahan ini hanyalah sekedar status yang seharusnya tidak terjadi.


Meskipun Wildan tidak memperlakukan Canika layaknya istri sesungguhnya. Tapi Wildan tetap memberikan nafkah lahir untuk Canika. Dalam hati, Canika hanya bisa bersabar. Mungkin cinta suaminya belum ada untuknya.


"Kak, aku mau ngomong sama kamu." Ucap Canika yang akhirnya membuka suara.


Wildan menatap ke arah Canika. "Ada apa?"


"A-aku mau melanjutkan kuliah," Lanjut Canika, dia menundukkan pandangannya.


"Terus?"


Canika mendongakkan kepalanya. Dia menatap suaminya yang hanya menjawab "Terus?" kenapa tidak ada jawaban yang di inginkan oleh Canika.


"Kalau kamu mau melanjutkan kuliah, ya silahkan." Setelah mengucapkan itu, Wildan melangkahkan kakinya meninggalkan Canika.


"Apa tidak ada sedikitpun rasa dihatimu, kak?"


Wildan menghentikan langkah kakinya. Tidak ada jawaban apapun dari Wildan, dia kembali melangkahkan kakinya.


"Kenapa aku menangis? aku sendiri yang membuka luka ini." Lirih Canika.

__ADS_1


Canika menyeka air matanya. Dia masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap ke rumah temannya.


Saat hendak menggantikan baju, dia kebingungan karna tidak ada kopernya.


Canika turun ke bawah setelah memakai kaos Wildan yang kegedean di tubuhnya.


"Bi, bibi..." Canika berteriak memanggil art apartemen.


"Iya, non. Ada apa?" Sahut Bi Ani.


"Bi, maaf. Liat koper aku ga?" Tanya Canika.


Bi Ani menggelengkan kepalanya. "Tidak, non. Bibi dari kemarin tidak datang ke sini, mungkin tuan Wildan yang menaruhnya." Jawab Bi Ani.


"Wildan?" Gumam Canika. Dia menganggukkan kepalanya. "Baiklah, bi. Makasih ya, bi."


Canika kembali masuk ke dalam kamarnya. Pikirannya yang berbelit saat hendak mengirimkan pesan kepada suaminya.


"Apa yang harus aku katakan?"


Canika memegangi ponselnya. Cika mengetik sebuah pesan yang tertuju pada suaminya.


*Isi pesan.


"Kak, dimana koperku?" Saat hendak mengirimkannya. Canika menggelengkan kepalanya*.


"Tidak, tidak, tidak, masa aku bertanya seperti itu?"

__ADS_1


Sudah banyak pesan yang tidak jadi di kirimkan oleh Canika. Sampai akhirnya ponselnya berdering dan tertera sebuah pesan dari Wildan, suaminya.


"Kopermu tertinggal di mobil, pakai saja pakaian yang ada di dalam lemari kamarmu." Isi pesan dari Wildan.


"Baju dalam lemari?" Lirih Canika. Dia memperhatikan seisi kamarnya. Dan memang ada sebuah lemari pakaian yang terletak di ujung sudut kamarnya.


Setelah membalas pesan itu, Canika melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian tersebut.


Klek..


Canika membuka lemari pakaian. Canika mengerutkan keningnya saat pakaian di dalam ini adalah pakaian yang tertutup.


Banyak kerudung dan juga gamis. Tidak ada pakai yang sering dipakai oleh Canika.


"Pakaian siapa ini? apa ini milik ibu?" Tanya Canika sambil berlirih.


Jika melihat dari ukuran baju itu, ukurannya tidak sama dengan tubuh ibu mertuanya. Hati Canika mendadak gelisah, pasalnya suaminya itu tidak memiliki adik perempuan ataupun saudara perempuan.


"Ap..."


"Non, ini tadi ada yang ngirim paket."


"Oh iya, makasih ya bi." Canika mengambi paperbag itu. Dia melihat isinya yang ternyata ada beberapa pakaian yang biasa dia pakai.


Sebuah surat yang ada di dalamnya, membuat Canika merasakan hatinya sedikit sakit.


"Siapa wanita itu?"

__ADS_1


__ADS_2