TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
Sebuah Penawaran


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Alika izin bekerja karena sakit di lututnya, hari ini ia memutuskan untuk kembali pada pekerjaannya.


Alika baru saja akan pulang dari resto tempatnya bekerja, ia menunggu taksi online yang ia pesan ketika sebuah mobil berhenti tepat di depannya.


Ia mengerutkan kening, "Tidak mungkin, kan taksi online pake mobil semewah ini?" ucapnya dalam hati.


Seorang pria turun dari mobil itu dan tersenyum padanya. "Hai! Kita bertemu lagi." Sapa lelaki itu dengan senyum manisnya. "Sepertinya, kakimu sudah sembuh?" tanyanya seraya memperhatikan kakinya.


Alika mengangguk, "Iya, terima kasih untuk semua bantuanmu saat itu." Ucapnya tulus.


"Sama-sama! Bisa kita bicara sebentar?" ucap lelaki itu lagi. "Bagaimana kalau bicara didalam?" lanjutnya, menunjuk resto tempatnya bekerja.


Alika mengangguk, ia mengekor di belakang lelaki yang tak lain adalah Rega, pria yang menolongnya beberapa hari yang lalu.


Sejujurnya Alika sedikit merasa risih, apalagi beberapa teman kerjanya kini menatapnya penuh tanya.


Sedangkan pria itu justru terlihat santai mengedarkan pandangan keseluruh arah, "Resto ini lumayan juga, berapa mereka membayarmu?" tanya pria itu membuatnya sedikit kaget.


"Maaf, kau bicara apa barusan?" ucapnya mengerutkan alisnya hingga hampir menyatu.


Pria berhidung mancung dengan senyuman mempesona itu menatapnya, "Aku tanya berapa gajimu disini?" ucap pria itu lagi membuatnya sedikit kesal.


"Berapapun gajiku tak ada hubungannya denganmu." ucapnya yang berubah ketus.


"Ada apa dengan pria ini?" Batinnya menggerutu.


"Tentu ada!" Jawab Rega santai.


"Hah? Maksudmu."


Pria itu merogoh saku celananya, memberikan sebuah kunci motor dengan gantungan kunci berbentuk Hati yang sangat ia kenali. "I...iini..." ucapnya tergagap.


"Kunci motormu! Dan motornya sudah diantar kerumahmu." Ucap pria itu.


"Tapi... bukankah kau bilang motorku...?"

__ADS_1


"Apa kau benar-benar berpikir aku membuang motormu?" pangkas pria itu, Alika itu mengangguk membuatnya terkekeh.


"Apa aku terlihat sekejam itu? Oh ayolah, aku hanya merasa motor itu sudah tak layak pakai, jadi kuputuskan memberikanmu motor baru dari pada mengembalikan motor bututmu yang bisa saja mencelakakanmu." jelas pria itu.


"Saat itu aku pikir kau akan senang, tapi ternyata aku salah," Lanjutnya. "Kau lebih menyukai motor bututmu itu, jadi aku menyuruh mekanik untuk memperbaikinya." tutur pria itu lagi.


Alika merasa terenyuh dengan kata-kata lelaki didepannya.


"Ternyata dia lelaki baik juga, aku benar-benar sudah salah menilainya." Batin Alika.


"Terima kasih" Ucapnya tulus.


"Jangan ucapkan terima kasih, bukankah itu sudah kesepakatan kita?" Ucap Rega. "Dan karena kulihat kau sudah sembuh, aku ingin membahas mengenai masalah ganti rugi." Ucap Rega seraya menyandarkan pumggungnya di kursi membuatnya kembali menghela nafas.


Ia mengangguk, "Iya tentu, berapa yang harus kubayar? Aku akan membayarnya setelah mendapatkan gajiku bulan ini." Ucap Alika.


Selisihnya pasti tak terlalu jauh, kan? Mobilnya saat itu hanya tergores saja. pikir Alika.


"Kau tenang saja, aku sudah merinci semuanya." Ucap pria itu sembari menyodorkan sebuah kertas padanya.


Alika membuka kertas yang terlipat itu, matanya terbelalak melihat deretan angka didalam kertas nota itu.


"Mobilmu hanya sedikit lecet dan tergores saat kecelakaan itu, kenapa tagihannya bisa sebanyak ini? Apa kau sedang mencoba menipuku, Tuan?" hardiknya.


"Nona, kau menuduhku menipumu? Aku bisa melaporkanmu kepolisi." ucap pria itu berbalik mengancamnya. "


Mobilku itu adalah mobil sport yang diimpor langsung dari luar negeri, jadi jika terjadi kerusakan sekecil apapun, ya alatnya juga akan diimpor langsung dari sana jadi harganya agak sedikit mahal." tutur lelaki itu.


Huh! Sedikit mahal dia bilang!"


Alika masih terdiam ia benar-benar tak tau harus berkata apa.


"Dan aku ingin kau membayarnya lunas dalam tempo satu minggu!" Rega melanjutkan kata-katanya membuat matanya kembali membelalak.


"Satu minggu?! Apa kau gila, Hah? Darimana aku dapatkan uang seratus juta dalam waktu satu minggu." Pekik Alika.

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu, lunasi dalam satu minggu, atau kukirim tagihannya pada orangtuamu dikampung!" Ucap Rega. Membuatnya segera menggeleng.


"Tidak! Jangan kirim ke orang tuaku." sergahnya.


Bisa mati kena serangan jantung, jika sampai ayah dan ibu tau anaknya punya hutang sebanyak ini. Batin Alika.


"Tapi aku punya penawaran bagus untukmu." Ucap Rega membuyarkan lamunan Alika.


"Penawaran apa?" tanyanya.


"Kau bisa bekerja padaku, selama satu tahun dan aku akan menganggap hutangmu lunas." Ucap Rega percaya diri.


Alika tampak berpikir, "Boleh aku pikirkan dulu?" tawarnya.


Pria itu mengangguk, "Kuberikan waktu lima menit untuk berpikir." ucapnya.


"Hah! Lima menit? Yang benar saja." tawarnya.


"Apa-apaan dia, ngasih waktu untuk berpikir hanya lima menit dia pikir ini kuis." Gerutu Alika dalam hati.


*Apa-apaan dia, ngasih waktu untuk berpikir hanya lima menit. Dia pikir ini kuis!


Aku ralat ucapanku tadi, dia bukan pria baik. Dia perhitungan, dan juga menyebalkan! Gerutunya dalam hati*.


"Waktumu habis! Jadi putus kan!" cetus pria itu.


"Hah! Aku bahkan belum sempat berpikir." Sungutnya.


"Lalu kau diam tadi sedang apa? kukira kau sedang berpikir?" cibir Rega.


"Sudah, jangan banyak alasan. Aku bukan Inder yang bisa super sabar, sekarang katakan apa keputusanmu? Bekerja padaku selama satu tahun, atau bayar kerugianku dalam satu minggu?"


Alika mendengus sebal lelaki ini benar-benar tak memberinya pilihan, haruskah ia menerima penawaran lelaki ini? Tapi jika ia menolak, dari mana ia akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu?


"Bagaimana?" tanya pria itu tak sabar.

__ADS_1


"Huhhhh ... baiklah aku akan bekerja padamu!" cetus Alika pada Akhirnya.


Ia bisa melihat pria itu tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2