
Setelah berdiskusi dengan kedua belah pihak keluarga. Akhirnya dengan sangat berat hati, Wildan menatap ke arah Canika.
Tatapan yang di tunjukan oleh Wildan tentunya membuat Canika tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia tidak tega melihat Wildan. Namun inilah yang harus di terima oleh Wildan.
"Canika Mohana, dihadapan semua orang. mulai hari ini, detik ini, kamu bukan lagi istriku. Aku talak kamu!"
Deg.
Canika memejamkan kedua matanya saat kata talak keluar dari mulut Wildan. Air mata nya tidak bisa di kontrol lagi, dia menangis setelah Wildan menjatuhkan talak untuknya.
Bukan hanya Canika saja yang menangis, namun nyatanya semua orang yang melihat itu. Mereka ikut meneteskan air mata nya.
Dan tidak bisa dibohongi lagi kalau Rey juga ikut meneteskan air mata nya saat melihat adiknya menangis.
Untuk sesaat, Wildan terdiam setelah mengatakan itu. Tatapannya menjadi kosong seolah dunianya kini sudah hancur, yang tanpa sadar dia sendiri yang menghancurkannya.
Canika menggenggam tangan mama Widia. Dia menatap dalam ke arah mama nya itu seolah mengatakan Bawa aku pergi dari sini, mah.
__ADS_1
Mama Widia membantu putrinya itu untuk berdiri. Dia menuntun Canika untuk naik ke lantai atas.
Dengan tangan yang gemetar, Wildan mengajak ibu nya untuk pergi dari kediaman Mohana. Sebelum pergi, Wildan terlebih dahulu bersujud tepat di hadapan pak Bram. Orang yang dulu merawatnya dan menyekolahkan dirinya sampai dia bisa seperti sekarang.
Pak Bram tentunya tidak membiarkan Wildan untuk menyentuh kakinya. "Bangun," Dengan suara yang cukup serak, pak Bram meminta Wildan untuk bangun dari hadapannya.
"Jujur, saya sangat kecewa kepadamu. Wildan, saya sudah menyerahkan putri saya satu-satunya untuk kamu bahagiakan. Bukannya saya dulu pernah bilang? jika kamu tidak mencintai putri saya, kembalikan dia kepada saya dengan cara yang layak. Bukan seperti ini, raga dan hati nya telah hilang. Putri ku tidak seperti putri ku yang dulu."
Wildan hanya mampu terdiam saat mendengar perkataan dari tuan besar nya itu. Dia memang sungguh sangat keterlaluan dan tidak tahu diri. "Maafkan, saya. Tuan, maafkan saya tidak bisa menjaga putri anda dengan baik. Maafkan saya..."
Tidak ada kata apapun lagi yang mampu Wildan keluarkan selain kata maaf. Tapi, kata maaf itu tidak bisa mengembalikan istrinya.
Kini, tatapan Wildan tertuju kepada Reyendra. Sahabat, tuan, sekaligus mantan kakak ipar nya itu. Wildan tentunya sudah tahu kalau Rey saat ini sedang menahan dirinya untuk tidak menyakiti dirinya.
Bukannya pergi, justru Wildan malah menghampiri Reyendra. "Tuan..."
Bugh!
__ADS_1
"REY!!"
"WILDAN!!"
Rey tidak mampu menahan dirinya lagi. Dia memberikan bogem kepada Wildan, Rey tidak memperdulikan teriakan dari istri dan yang lainnya. Yang ada di pikirannya kini, memberikan Wildan pelajaran atas apa yang dia perbuat.
Tidak ada bentuk lawanan apapun dari Wildan. Dia hanya terdiam diri, karna dia juga tahu kalau dirinya pantas menerima ini.
Rey menarik pakaian Wildan. "Kamu anggap aku apa, Wil? kenapa kamu sangat tega! kenapa kamu tidak memikirkan perasaanku? cih! jika saja aku tidak memikirkan perasaan keluarga dan perasaan adikku, aku sudah menghabisimu, Wildan!"
"Maafkan aku, Rey. Aku tidak bisa menjaga amanah yang kamu berikan. Aku terlalu lemah untuk mengakui perasa-"
Bugh!
"Jangan ucapkan kata perasaan, s1alan!" Murka Rey
...----------------...
__ADS_1
Hallo, semuanya. Yuk mampir ke novel temenku: