TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
TJC EPISODE 66


__ADS_3

Semenjak acara kemarin. Semua orang tak henti-hentinya mengucapkan syukur alhamdulillah. Mereka sungguh bahagia karna bisa berkumpul dengan kondisi yang sedang berbahagia.


Dan tibanya setelah beberapa hari, hari ini adalah hari spesial bagi ketiga sahabat Renata. Yang dimana kini mereka mengucapkan janji suci mereka.


"Selamat, ya kak. Semoga kalian menjadi pasangan suami istri yang bahagia sampai maut memisahkan kalian." Ucap Canika. Dia mengucapkan selamat kepada ketiga sahabat kakak iparnya itu.


"Makasih ya, Cika." Dewi mengusap perut Canika. "Semoga disini, cepat ada baby nya ya?"


Canika tersenyum manis menanggapi ucapan Dewi. Sejujurnya dia juga ingin secepatnya hamil, karna dia mendengar dari seseorang kalau istri hamil, suami akan perlahan mencintainya.


Sepulangnya dari acara pernikahan sahabat kakak iparnya. Canika dan Wildan langsung berpamitan untuk pulang.


Sebelumnya, Renata sudah mengusulkan untuk mereka ikut saja ke mansion utama.


"Tidak usah, kak. Lain kali saja." Tolak Canika dengan halus. Dia menolak untuk ikut pulang ke mansion utama.


Canika mengusap wajah cantik adik iparnya. "Baiklah, sayang. Maafkan kakak, ya. Hampir saja kakak lupa karna kamu sekarang sudah menjadi istri orang hehe,"


Setelah berpamitan dengan keluarganya. Canika menyusul suaminya masuk ke dalam mobil.


Wildan menjalankan mobilnya menuju apartemen nya. Sesampainya disana, Wildan langsung keluar dari dalam mobilnya.


Entah angin dari mana, Wildan membukakan pintu untuk Canika.


Deg.


Untuk sesaat, Canika terdiam. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh suaminya.


"Mau tetap seperti itu?" sentak Wildan, yang membuat Canika tersadar dari lamunannya.


Namun dengan singgap, Canika menggelengkan kepalanya. Dia bergegas keluar dari mobil.


Mereka masuk ke dalam apartemennya. Canika masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Sedangkan Wildan, dia menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin.


"Kenapa cuaca sekarang panas sekali?" Lirih Wildan. Dia merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya.


Untuk sesaat, Wildan langsung teringat dengan minuman yang diberikan oleh bos sekaligus kakak iparnya itu.


"Shiit!!" Umpat Wildan.


Beberapa saat Wildan mencoba menenangkan tubuhnya. Justru tatapannya beralih ke arah istrinya, Canika.


Gluk!


Susah payah Wildan menelan ludahnya. Dia merasakan aliran listrik menjalar ke tubuhnya. Melihat Canika yang memakai piyama tidur, sungguh membuat sesuatu di bawah sana sudah sangat bengakak.


"Ada apa, kak?" tanya Canika. Dia heran karna Wildan terus saja menatap ke arahnya.


Saat Canika mendekat ke arah suaminya. Justru suaminya itu semakin gelisah.

__ADS_1


"P-pergilah!" tegas Wildan dengan suara beratnya.


Deg.


Canika terdiam. Dia diam saat suaminya itu memintanya pergi, tanpa tau sebabnya apa.


Akan tetapi, melihat raut wajah suaminya yang seperti menahan sakit. Canika berinisiatif untuk membantu suaminya.


"Ini, kak." Canika memberikan segelas air dingin kepada suaminya.


Bukannya mengambil gelas yang disodorkan oleh Canika. Wildan justru malah menarik tengkuk leher istrinya.


Dan..


Cup!


Wildan mendaratkan bibir tebalnya di bibir ranum Canika.


Deg.


Jantung Canika tidak hentinya berdetak kencang. Dia sungguh terkejut dan tidak menyangka akan mendapatkan serangan mendadak seperti ini.


Karna tidak ada respon dari istrinya. Wildan menghentikan gerakan bibirnya. Dia mendongakkan kepalanya menatap ke arah suaminya.


Tatapan Wildan seperti yang ingin meminta lampu hijau dari Canika. Melihat tatapan sayu suaminya. Canika mengangguk pelan.


Mendapatkan lampu hijau dari Canika. Wildan langsung mendaratkan kembali ciumannya.


"Eugh!"


Ke-esokan harinya..


Setelah kejadian malam kedua itu, hubungan Wildan dan Cika kini semakin baik dan dekat.


Mereka pun sering melakukan dinner romantis. Malam berikutnya pun terjadi.


Namun sudah dua hari ini sikap Wildan Tidak seperti biasanya. Dia berubah tak ada lagi sosok Wildan yang lembut penyayang dan perhatian.


”Ada apa dengan suamiku? Apa aku berbuat salah? kenapa sikapnya berubah seperti itu?” Lirih Canika yang menghela nafas nya.


Canika melirik jam tangannya. Dia mengerutkan kening nya saat melihat jam yang tak biasanya suaminya itu lupa menjemputnya.


”Mungkin mas Wildan sibuk, sebaiknya aku tunggu taksi aja.” Gumam Cika yang bergegas menuju gerbang kampus.


Ya, Canika melanjutkan pendidikan. Bukan tanpa alasan, Canika ingin mendapatkan gelar sarjana seperti kakaknya.


Saat hendak menuju gerbang kampus. Canika terkaget saat mendengar suara klakson motor.


Tin..


Tin..

__ADS_1


Tin..


Sebuah Motor menghadang langkah kaki Canika. Tentu saja itu membuat Canika jengkel. ”lu punya mata gak sih hah?! Hampir aja gua ketabr4k!" Sentak Canika.


Bukannya minta maaf, justru seseorang itu malah tertawa. "Hey, hey, jangan marah marah seperti itu, sayang. Nanti cepet tua loh!"


Canika memutar bola mata nya malas. Dia bergegas langsung melanjutkan langkah kaki nya.


Namun baru saja selangkah, tangannya terlebih dulu di cekal oleh lelaki yang menghadang nya.


”Ayo aku antar. Pasti suamimu itu sedang sibuk. Dan tidak baik juga seorang wanita berjalan sendirian di jalan sunyi. Nanti di gondol macan!"


”Ck! tidak usah berpikir terlalu benyak! ayo naik!" Sambung Aldo. Dia mmeberikan jeketnya untuk menutupi paha Canika. Ya karna rok nya hanya sebatas lutut.


Dengan terpaksa akhirnya Canika naik. Tidak ada obrolan sepanjang perjalanan hingga Canika terkaget sesaat Aldo menghentikan motor nya.


“Ngapain ke sini?“ Tanya Cika dengan jengkel nya. Ya karna dia memang ingin segera pulang untuk mempertanyakan sikap Wildan.


Aldo tersenyum. “Sudah lama kan kita tidak mampir lagi ke Cafe ini? Ayolah kali ini aja please.“ Aldo memasang mimik wajah yang menyebalkan belum lagi mereka menjadi tontonan para pengunjung cafe.


Aldo memilih tempat duduk yang berada di pojok. “Mau pesan apa?“ Tanya Aldo sesaat memberikan buku menu pada Cika.


“Seperti biasa saja,“


Canika yang tengah memainkan hanponnya. Dia terhenti dan seketika melotot saat menangkap sosok yang ada di dalam pikirianya itu ada tepat di hadapannya. “Wi..wi..wildan?"Lirih Cika.


Tanpa sadar, air mata yang menetes sesaat melihat pemandangan Itu.


Brak!


Cika menggebrak meja yang membuat semua orang terkaget termasuk Aldo. "Anjir, kamu kenapa?“


Tanpa menjawab pertanyaan dari Aldo, Canika langsung berlari dengan air mata yang membasahi pipi nya.


****


Sedangkan di sisi lain, Rey tengah khawatir memandang wajah pucat istrinya. “Sayang Wajah mu pucat sekali,“ Ucap Rey dengan wajah yang cemas.


"Ayo kita periksa ke dokter!" Sambung nya


Renata tersenyum, dia menangkup kedua pipi suaminya dan...


Cup.


“Aku baik baik aja mas, mungkin hanya kecapean.“


“Tap...“ Nara menasuh telunjuknya di bibir Rey.


“Sudah jangan khawatir!" Ucap Renata. Dia mencoba menenangkan suasana hati suaminya. sejujurnya dia juga merasakan ada hal aneh dari tubuhnya itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2