
"Sayang, kamu sudah siap?" Tanya Reyendra kepada istrinya.
Renata menoleh ke arah suaminya. Dia berdiri dari tempat rias nya. "Sudah, mas."
Gluk!
Rey menelan air liur nya dengan susah payah. Dia sungguh terkejut melihat penampilan istrinya yang sungguh menggoda. Sudah lama sekali dia tidak memakan istrinya.
Melihat tatapan suaminya. Renata hanya tertawa ringan, dia menepuk pundak suaminya. "Awas ilernya netes! udah ayo berangkat, mas!"
"Jika saja ini malam hari, aku mungkin sudah melahapmu, sayang." Bisik Rey di telinga Renata.
Tidak pernah terpikirkan oleh Renata kalau sikap messum suaminya itu tidak akan berubah, masih sama seperti dulu.
Kedua pasangan itu menuruni tangga dengan berpegangan tangan. Keduanya menjadi sorotan mata keluarga mereka.
"Awas, nanti twins punya adek lagi!" sewot Canika karna kesal kepada kakaknya yang sungguh tidak bisa jauh dari kakak iparnya itu.
__ADS_1
Vian mencubit pipi Canika. "Heh, gak boleh gitu!" Ucap Vian sambil mencubit pipi Canika.
"Sakit tau, Vian!" Kesal Canika karna sepupunya itu mencubit pipi nya dengan sedikit keras.
"Sudah-sudah, kalian ini malah berantem. Gak boleh gitu, nanti puasanya batal!" ucap Elyana adik dari Vian yang usianya baru menginjak 5 tahun.
Semua keluarga mohana, sangat bersyukur melihat sikap Canika yang mulai menunjukkan perubahannya. Dia mulai tersenyum dan bersikap seperti dulu lagi.
Ya, setelah perceraian itu. Hari-hari Canika di sibukan dengan kegiatannya. Dia juga mulai mau dibimbing untuk sembuh oleh psikiater.
"Udah, ayo sebaiknya kita berangkat!" Pak Bram mengajak semua keluarganya untuk cepat masuk ke dalam mobil.
Dengan menggendong baby Dhanesh, Canika nampak sangat senang sambil sesekali dia juga bercanda dengan sepupunya itu.
Sepanjang perjalanan menuju sukabumi, Canika sempat tertidur. Dia tertidur sambil menyenderkan kepalanya ke sepupunya.
Vian Arditarya. Sepupu jauh dari Canika ini sangat terkejut dan marah saat mengetahui kondisi sepupunya, Canika. Dia juga terkejut saat mendapatkan kabar kalau Canika sempat mengalami gangguan jiwa.
__ADS_1
Vian mengusap rambut Canika. "Maafin gua Can, seharusnya gua datang cepat. Mungkin semua yang terjadi kepada lu, gaakan terjadi sekarang. Maafin gua, Can." Batin Vian sambil mengusap rambut sepupunya itu.
Melihat sikap Vian, Rey tersenyum tipis. Kedekatan keduanya masih sama seperti dulu, tidak ada perubahan sedikit pun. Rey juga bersyukur karna semenjak kedatangan Vian, banyak perubahan baik yang ditunjukan oleh Canika.
Sesampainya di sebuah Villa, keluarga mohana langsung disambut hangat oleh pegawai Villa. Mereka sangat senang karna akhirnya keluarga mohana mau berkunjung lagi ke Villa ini.
Bu Mega sangat senang saat melihat Canika yang kini sudah tumbuh menjadi wanita cantik, "Ya ampun, nona Cika sangat cantik sekali." Puji Bu Mega kepada Canika sambil memegangi wajahnya.
Canika hanya tersenyum, dia menyalami bu Mega. Mereka masuk ke dalam Villa itu karna cuaca saat ini sudah mulai turun hujan juga.
Sedangkan itu, di sisi lain tepatnya di sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Terlihat seorang laki-laki yang tengah meremas sebuah foto yang baru saja dia dapatkan dari anak buahnya.
Raut wajah marah nya terlihat dari setiap sudut wajahnya. Dia menatap sebuah foto yang terbongkai cantik di atas meja nya.
"Kamu hanya milikku, kamu hanya milikku! Canika!"
...----------------...
__ADS_1
Hallo, semuanya. Yuk mampir ke sini juga!