
Tubuh Alika gemetar ketakutan, sudah terbayang kejadian buruk apa yang akan menimpanya. "Ahhhhh tolongggg!" Jeritnya ketika salah satu dari mereka berhasil meraih dan mencengkram tangannya.
Alika mencoba menarik kembali tangannya, sayang, cenkraman lelaki itu terlalu kuat. "Lepas! Toloooonggg! Lepaskan aku!" teriaknya seraya meronta, ia melakukan apa saja agar bisa terbebas menendang, menarik, dan meronta.
Alih-alih bebas dia justru terperangkap, salah satu dari mereka berhasil meraih kakinya dan mulai membopong tubuhnya ke tempat sepi.
"Tidak! Jangan!" Jeritnya lagi saat mereka mulai berusaha menyentuh bagian tubuhnya, ia menangis tapi tak di perdulikan, ia meronta tapu tubuh mungilnya bukanlah lawan sebanding untuk para pria itu.
Di tengah keputusasaannya Tuhan mengirim pertolongan untuknya.
Bugh.
Sebuah tendangan mengenai salah satu pria itu hingga terjungkal, membuat yg lainnya ikut bangkit dan menyerang sang penolong.
Alika segera beranjak dari posisinya, ia beringsut mundur dan mencari tempat yang aman.
Ia bergidik ngeri melihat pertarungan tidak seimbang itu, matanya membola saat melihat salah satu dari pemabuk itu mengeluarkan pisau dan mengarahkan pada pria yang menolongnya.
Sontak matanya beredar mencari sesuatu yang dia pakai untuk menyerang pemabuk itu, sebuah balok kayu yang cukuo besar ia temukan.
Bugh.
Dengan kekuatan yang tersisa ia menghantamkan balok kayu itu dari belakang hingga membuat pria pemabuk itu menggaduh kesakitan.
Dengan wajah penuh amarah pria itu berbalik menyerangnya, ia berlari menghindar, sayang nya kakinya tersandung hingga terjatuh cukup keras.
Pria itu menyeringai menyeramkan, mengarahkan pisau yang tadi di pegangnya kearahnya. "Ahhhh!" Jerit Alika seraya mengangkat kedua tangannya menangkis serangan, anehnya tak ada yang ia rasakan, ia justru mendengar pria itu merintih kesakitan.
Alika menurunkan tangan serta membuka matanya, ia terperangah saat melihat pria penolongnya memelintir tangan pemabuk itu dan menghempaskannya dengan kasar ke tanah.
__ADS_1
"Urus mereka, bawa ke kantor polisi dan pastikan mereka tidak bisa di tebus dengan jaminan!" Perintah pria itu pada para pria berbaju hitam yang datang.
Alika menghembuskan napas lega, tubuhnya masih gemetar, kepalanya terasa berputar, ia masih sempat melihat pria itu berbalik kearahnya, dan berjongkok di depannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya pria itu yang masih tertangkao indera pendengarnya sebelum akhirnya ia terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
🌺🌺🌺🌺
"Nona? Nona?" Pekik Rega saat wanita yang di tolongnya terkulai di pangkuannya. Matanya membelalak saat menyadari siapa yang wanita yang ia tolong.
"Alika!"
Tak berpikir panjang ia menggendong tubuh mungil wanita itu dan membawanya pulang ke rumahnya.
🌺🌺🌺🌺
Rega masih menatap penuh tanya pada wanita yang kini terbaring di tempat tidurnya, ia memutuskan membawanya pulang alih-alih membawanya ke rumah sakit, entahlah hatinya merasa harus melakukan itu.
Setau Rega wanita itu sedang berada di Villa keluarga pramudza yang berada di luar kota, kenapa sekarang ia menemukan wanita itu sendirian? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Whoooaaaa" Rega mulai menguap, tubuhnya terasa begitu lelah setelah seharian menemani Inder syuting, belum lagi ia harus meladeni rengekan manja dari para wanitanya membuatnya dan hanya memiliki waktu yang sangat sedikit untuk beristirahat.
Rega berjalan ke arah sofa yang ada di kamar itu, ia harus mengistiratkan tubuh lelahnya. Ia bisa saja tidur di kamar sebelah, tapi entah kenapa urung ia lakukan, ada rasa khawatir meninggalkan gadis itu sendirian.
Baru saja ia akan terlelap, pekikan dari gadis di tempat tidur itu membuatnya kembali terjaga.
"Jangan! Tolong... lepaskan... tolong" Racau Alika, membuatnya dan beranjak menghampiri gadis itu. Ia duduk disisi ranjang menggenggam tangan gadis itu. "Shssshhh kau sudah aman, ada aku tenanglah!" Bisiknya, gadis itu masih meronta membuatnya merangkul tubuh gadis itu dan kembali membisikan kalimat menenangkan. Dan sepertinya berhasil membuat gadis itu kembali tenang dan terlelap.
Rega memandangi wajah cantik Alika yang dihiasi peluh dikeningnya, ia mengambil tisu, menyeka bulir keringat di kening gadis itu.
__ADS_1
"Dia cantik juga kalau sedang tertidur begini." Gumamnya, ia tersenyum.
"Seandainya pertemuan pertama kita terjadi dengan cara yang baik, mungkin hubungan kita juga akan jauh lebih baik, tak seperti sekarang." ucap nya lagi.
"Kau bahkan selalu ketus padaku." gumamnya seraya terkekeh kecil.
Rega semakin mendekatkan tubuhnya saat gadis itu mulai kembali bergumam, "Ssssttttt, kau sudah aman aku akan menjagamu." ucapnya sambil membelai lembut puncak kepala gadis itu, mendekap tubuh itu mencoba menenangkan, namun entah mengapa dirinya juga ikut nyaman hingga tanpa sadar ia juga ikut terlelap, dengan tangan melingkar pada tubuh gadis itu.
🌺🌺🌺🌺🌺
Alika membuka matanya perlahan, saat sinar matahari yang masuk lewat celah jendela mulai membelai hangat wajahnya.
Tubuhnya terasa terhimpit membuatnya kesulitan untuk bergerak.
Deg.
Matanya membulat sempurna begitu menyadari keberadaan wajah tampan yang berada tepat di depannya, sejenak ia terpesona dengan salah satu mahluk ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna itu.
Tapi akal sehatnya segera mengambil alih saat tersadar ia berada di tempat tidur yang sama, dengan posisi berpelukan bersama lelaki yang tak halal untuknya.
"Aaaaaa....." Teriaknya seraya refleks mendorong tubuh lelaki itu hingga terjungkal dari ranjang.
Ia segera membuka selimut memeriksa keadaan tubuhnya, lalu menghembus nafas lega saat melihat pakaiannya masih lengkap. Sementara sang lelaki memegangi dahi yang sempat terantuk tembok akibat ulah Alika.
"Ada apa denganmu, huh?" Gerutu Rega kesal.
"Kenapa tidur ditempatku, memelukku pula." Ucapnya tak kalah sengit.
Rega menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal, "Aku ketiduran semalam!" Ucapnya, mengingat kejadian tadi malam yang membuatnya berada di tempat tidur yang sama dengan Alika.
__ADS_1
"Lagipula itu tempat tidurku, jadi wajar aku tidur disana." Lanjutnya, membuat gadis itu mencoba mengingat kejadian malam tadi.
"Jadi... kau pria yang menyelamatkan aku semalam?"