TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
JTC EPISODE 87


__ADS_3

Canika terdiam menatap lurus ke depan, dia tidak merespon apapun yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Sampai akhirnya Imel menyadari, dia langsung menepuk jidatnya sendiri. "Aduh, Can. Sorry ya, aku gak bermaksud untuk itu..." lirih Imel, dia menatap ke arah Canika.


Canika tersenyum manis, dia merangkul pundak Imel. "Tida apa apa, Imel. Sudahlah ayo sebaiknya kita masuk ke dalam kelas,"


Keduanya berjalan beriringan sambil berpegangan tangan, mereka berdua menikmati sapuan angin sejuk yang menghembus ke wajah mereka.


"Oh iya, Cika... kamu tinggal dimana?" tanya Imel.


"Aku tinggal bersama aunty Heppy, ya walaupun sebenarnya aku ingin tinggal sendiri tapi kan kamu tau sendiri bagaimana kak Rey, dia pasti tidak akan mengizinkan aku tinggal sendiri di negeri ini." jawab Canika sambil menghembuskan nafas kasarnya.


"Jadi sekarang kamu tinggal bersama Vian juga dong?" Canika menganggukan kepalanya.


Wajah Imel berbinar, dia menatap dalam kedua bola mata Canika. Sedangkan Canika yang mendapatkan tatapan itu, dia langsung mengerti akan apa yang diinginkan oleh Imel.


"Dasar! baiklah, aku akan membantumu..."

__ADS_1


"Aarghhhh, makasih sayang..." Imel memeluk tubuh Canika dengan erat tanpa memperdulikan sekelilingnya.


"Sesak Imel!!!"


Imel melepaskan pelukannya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehehe maaf, aku terlalu kesenangan haha." Canika memutar bola matanya malas.


Setelah keduanya mengikuti kelas pertama mereka. Keduanya langsung menuju perpustakaan untuk mengambil buku yang diminta oleh dosen mereka, tapi entah kenapa justru mahasiswi baru yang diperintahkan untuk mengambil buku itu.


Imel memegang tangan Canika dengan erat, dia tidak henti-hentinya terus menggerutu kesal. "Bisa-bisanya tu dosen malah nyuruh maba baru!!"


Kedua wanita cantik itu masuk ke dalam perpustakaan yang letaknya tak jauh dari kelas mereka, keduanya meminta bantuan kepada pengurus perpustakaan untuk mengambilkan buku yang diminta oleh dosen mereka.


Sambil menunggu, Canika melihat sekeliling perpustakaan yang nampaknya sangat bersih dan nyaman. Tatapan tertuju kepada sebuah buku yang berada di rak atas, dia melangkahkan kakinya menuju rak itu.


Canika berjinjit untuk mendapatkan buku itu, dia berpegangan kepada sisi rak yang ada di hadapannya itu. "Astaga, kenapa tinggi sekali? atau aku yang terlalu pendek?" lirih Canika.

__ADS_1


Dia melihat sekelilingnya seakan mencari sesuatu yang dapat membantunya untuk mendapatkan buku itu. Dan, yap! dia mendapatkan sesuatu yang bisa membantunya.


Kursi, ya! Canika melihat kursi yang terletak di sebelahnya. Dia bergegas untuk mengambil kursi itu, Canika naik ke atas kursi dan buku yang dia inginkan bisa dia dapatkan.


Dengan tersenyum senang, Canika melihat isi buku itu. Namun pergerakan tangannya terhenti sesaat mendengar suara yang cukup familiar di telinganya. Suara yang dari dulu tidak pernah dia dengar kembali, suara yang dia rindukan.


"Kami sudah melakukannya sesuai perintah anda, tuan."


"Bagus, kalian harus menjaga wanitaku. Aku tidak mau wanitaku mengalami kesulitan dalam hal apapun itu, dan kalian harus memastikannya itu! jika tidak... nyawa kalian taruhannya."


Deg.


Sedangkan itu, Vian kini sedang menatap ke arah balkon kamarnya. Dia mengeram keras saat mengingat bagaimana dulu wanita yang dia sayang, diperlakukan seperti itu oleh seorang laki-laki.


"Akan aku pastikan, kamu tidak akan mendapatkan kembali Canika. Canika mulai saat ini adalah milikku! dia Canika ku!" gumam Vian dengan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2