
Rega merebahkan tubuhnya di tempat tidur lamanya, ia memutuskan untuk bermalam di rumah keluarga Prasetya malam ini.
Tubuhnya terlalu lelah untuk pulang ke apartement, apalagi tadi Bunda memaksa untuk menginap, ia tak pernah bisa menolak keinginan Bundanya itu.
Lagipula ia juga merindukan kamarnya ini, kamar yang menjadi tempat tidurnya selama hampir sepuluh tahun.
Sembari bermalas-malasan ia menghidupkan ponselnya yang sengaja ia matikan dari siang tadi, tak ada yang menarik di sosmednya hanya puluhan pesan dan notifikasi panggilan tak terjawab dari gadis-gadis yang ia pacari.
Sejujurnya ia tak pernah serius dengan wanita-wanita itu, hanya iseng itulah tujuannya, belum ada yang bisa menyentuh lubuk terdalamnya sampai saat ini, para wanita itu hanya kelinci percobaan untuk hatinya.
Ia tersenyum saat mengingat sesuatu, ia segera membuka galeri ponselnya dan menemukan apa yang ia cari disana.
Foto ktp dari seorang gadis yang baru saja menabrak mobilnya tadi pagi. Rega tertawa kecil saat mengingat bagaimana ia berdebat cukup panjang dengan gadis itu.
"Gadis aneh!" ucapnya seraya memandangi foto ktp itu, sekali lagi senyumnya mengembang mengingat bagaimana gadis itu balik menantangnya saat ia mengancam membawanya ke polisi, benar-benar gadis yang sangat berbeda dengan para gadis yang ia temui selama ini.
Sebuah panggilan dari gadis yang baru di pacarinya beberapa bulan ini membuatnya mau tak mau mengangkat telpon itu.
"Halo, Sayang! Kenapa kangen ya sama aku?" ucapnya melancarkan gombalan mautnya.
🌺🌺🌺🌺🌺
Alika segera terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi nyaring, beruntung ia bisa bangun tepat waktu kali ini.
Ia segera bersiap untuk bekerja, "Ahhh hari ini aku harus lembur!" keluhnya.
Ya konsekuensi yang harus ia terima kareana kemarin ia meminta izin pulang cepat, ia ingin menghabiskan waktu bersama sang sepupu karena malamnya sepupunya itu di jemput oleh atasannya dan harus tinggal di tempat kerjanya.
Meski mendapat sedikit omelan akhirnya dengan bantuan dari Reihan ia bisa mendapat izin pulang cepat dengan catatan ia harus kerja lembur hari ini.
Reihan? Ia sebenarnya penasaran dengan karyawan baru di resto itu, kenapa atasannya terlihat begitu ramah dan segan pada pria itu? Dua tahun bekerja di sana tentu membuatnya cukup tahu seperti apa watak sang atasan yang terkenal ketus dan kejam itu, tapi mengapa itu tak terjadi pada Reihan? Apa Reihan saudara atasannya itu, ya?
Alika menggelengkan kepalanya, "Kenapa juga aku harus repot memilirkannya, lebih baik aku giat bekerja supaya bisa dapat rekomendasi." Ucapnya.
Alika segera keluar dari rumahnya tak sempat sarapan, ia akan mampir ke tukang bubur langganannya saja sebelum naik angkutan untuk sampai ketempat kerjanya. ahhhh ia mendengus kesal gara-gara tabrakan kemarin ia harus naik angkutan umum untuk pergi bekerja.
Suara deru mesin motor membuat perhatiannya teralihkan ia menoleh pada sumber suara itu.
"Reihan?" Pekiknya, cukup kaget dengan keberadaan pria berlesung pipi itu.
__ADS_1
Lelaki itu tersenyum, "Aku sengaja datang untuk menjemputmu," Ucap pria itu.
"Tau dari mana rumahku?" tanyanya sedikit curiga.
"Dari teman-teman!" Ujar lelaki itu. "Ayo nanti kau terlambat lagi!" lanjutnya
"ahhh iya, sebentar aku kunci pintu dulu." ucapnya.
"Kunci pintu? kau tinggal sendirian?" tanya pria itu.
Alika mengangguk. "Iya aku tinggal sendirian." Ucapnya.
"Kau tidak tinggal bersama teman, atau saudara disini?" tanya pria itu lagi.
"Kemarin aku sempat tinggal bersama sepupuku, tapi sekarang sudah mendapat pekerjaan jadi tinggal sendiri lagi deh." ucapnya tanpa curiga.
"Dapat pekerjaan? Sepupumu bekerja di mana? Tempatnya bekerja menyediakan tempat khusus untuk karyawan? Kenapa sepupumu tak lagi tinggal bersamamu?" Cecar pria itu membuatnya mengkerutkan dahi, heran.
Dan sepertinya pria itu menyadari perubahan wajahnya. "Maaf, aku tak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin tahu tentangmu, maafkan aku karena banyak bertanya." Ucap pria itu.
"Ingin tahu tentangku, kenapa?" tanyanya.
Alika menurut ia mengekor langkah besar pria itu menuju motor gedenya. Alika hampir menganga melihat motor yang dipakai Reihan, dan tak kuasa menahan jiwa keponya yang meronta-ronta.
"Sebelumnya kau bekerja dimana sampai bisa punya motor sekeren ini?" tanya Alika.
Reihan menggeruk tengkuknya yang tak gatal. "Itu... motor itu hasil gadai, ada orang yang membutuhkan uang jadi dia menggadaikan motornya padaku." ucapnya.
"Wahhhh kau sangat beruntung Rei," Ucapnya yang diangguki pria itu.
"Ayo naiklah, kita bisa terlambat!" Seru pria itu, membuatnya mau tak mau menurut.
🌺🌺🌺🌺
Rega menikmati secangkir kopi yang baru saja di letakkan sekertarisnya, "Apa ada lagi yang Anda perlukan, pak?" Ucap sang sekertaris dengan suara menggoda. "Untuk saat ini cukup, tapi saya akan memanggilmu kalau ada yang saya perlukan lagi." Ucapnya ramah,
"Kalau begitu saya ada di depan jika bapak memerlukan sesuatu." Ucap perempuan iti lagi sambil menggerling manja, Rega mengangguk dan tersenyum manis, perempuan iti keluar dari ruangannya dan sempat kembali meliriknya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.
Rega menghela napasnya, ia sudah sering berhubungan dengan wanita tapi sekertarisnya satu ini memang sangat agresif, saat ini ia berada di ruangan direktur utama sebuah hotel bintang lima ternama di kota ini.
__ADS_1
Ya Rega adalah direktur utama hotel ini, sekaligus pemegang saham kedua setelah Inder.
Hotel ini adalah hasil dari kerja keras mereka berdua, ia banyak belajar dari sahabatnya itu tentang kemandirian yang membuatnya bisa sampai di titik ini.
Dan setelah menyerahkan tugasnya sebagai manager pada Queenza dua bulan yang lalu, ia bisa lebih pokus pada hotel ini.
Ia memang tak lepas tangan dengan job managernya, jadwal kerja Inder semua tetap atas persetujuannya hanya saja kini ia akan lebih pokus pada hotel dan bisnis Inder lainnya, masalah syuting dan kebutuhan Inder sudah diurus oleh Za, wanita itu juga cepat belajar hingga ia tak harus banyak membuang waktu untuk menjelaskan semua yang harus di lakukan gadis itu.
Tak terasa waktu sudah menjelang malam, hanya tinggal satu file dan ia akan pulang untuk istirahat di apartementnya.
Rega segera berjalan menuju mobilnya, ia menuju apartement miliknya, di tengah perjalanan ia menerima telpon dari Inder dan berbincang dengannya.
"Lo tenang saja, selama ada gue semuanya aman terkendali." Ucapnya pada sahabatnya itu saat menanyakan tentang perkembangan hotel dan resto.
Cekittttt.
Kakinya sontak mengnjak rem saat melihat seorang wanita menyebrang di depan mobilnya.
"Gak gue gak apa-apa! Kita sambung nanti ya!" ucapnya pada Inder yang masih tersambung di telepon.
Rega menekan klaksonnya dengan kesal saat melihat gadis itu malah berdiri di depan mobilnya.
"Heii mau mati, ya! nyebrang sembarangan!" Umpatnya kesal, tapi wanita itu bergeming masih berdiri ditempatnya membuatnya turun berniat meluapkan kekesalannya.
Namun ketika ia mendekat gadis itu malah menekuk lututnya, menundukkan kepalanya dan mulai terisak. "Nona?" ucapnya yang sedikit kaget melihat reaksi wanita itu.
"Nona!" sentaknya, Nona orang-orang bisa berpikir kalau aku menyakitimu.
Gadis itu bergeming, aneh? Padahal ia bisa saja meninggalkan gadis tapi entah kenapa ia merasa tak tega.
Hingga akhirnya ia memutuskan membiarkan gadis itu menumpahkan tangisnya, Ia menunggu gadis itu sampai gadis itu terlihat lebih tenang. "Kau baik-baik saja Nona?" tanyanya setelah melihat gadis itu lebih tenang.
Gadis itu mulai mendongak saat menyadari kehadirannya, "Kau? Sedang apa kau di sini?"
Dan mata Rega membulat saat menyadari kalau gadis itu adalah orang yang pernah menabrak mobilnya.
"Jadi kau? Apa kau ingin mengakhiri hidupmu, Hah! Kau tau hampir saja aku menabrakmu tadi, kenapa kau selalu membuat masalah denganku?" Hardiknya pada gadis itu.
Air mata gadis itu mulau menggenang, ia baru kehilangan sesuatu dan sekarang orang ini malah membentaknya.
__ADS_1
"Masalah? Kau lah sumbermasalahku!"