
Rega beranjak dari duduknya begitu film sudah selesai, ia baru akan melangkah ketika matanya tak sengaja melihat gadis itu, gadis yang membuatnya penasaran.
Pandangan mereka bertemu, hanya sesaat karna si gadis kemudian segera pergi bersama seorang pria.
Mata Rega mengekor langkah gadis itu hingga menghilang dari pandangannya.
"Kamu kenal dia, Sayang?" tanya wanita di sampingnya, ia hanya menggeleng lalu menarik tangan wanitanya lembut untuk keluar dari tempat itu.
Rega mengajak pacarnya untuk makan di salah satu foodcourt di mall tersebut, perutnya sudah cukup keroncongan minta di isi.
Dan di tempat inipun ia melihat gadis itu lagi, masih bersama pria yang sama, mereka terlihat sangat akrab dan entah kenapa ia mendapati dirinya tak suka melihat kedekatan mereka.
🌺🌺🌺🌺🌺
Hari yang sangat melelahkan bagi Rega, punya banyak pacar ternyata cukup merepotkan, hari yang harusnya bisa ia pakai untuk istrirahat malah dipakainya untuk menyenangkan para wanitanya.
Ahhhh Rega menghembuskan napasnya sekarang ia menuju rumah keluarga prasetya, ia merindukan bundanya jam segini Bundanya itu pasti sedang menyiapkan makan malam untuk semua orang.
Mobilnya sudah memasuki halaman rumah keluarga prasetya, ia memarkir mobil lalu segera masuk kerumah itu.
Begitu membuka pintu aroma harum masakan menguar menggelitik indra penciumannya, benar dugaannya Bunda pasti sedang memasak makanan lezat yang akan mengenyangkan perutnya.
Rega segera menuju dapur, ia menempelkan telunjuk ke bibir saat Ayah Rangga dan Ivana hendak menyapanya ketika melewati ruang makan, ia ingin memberi kejutan untuk Bundanya.
Gep. Ia memeluk tubuh wanita paruh baya itu dari arah belakang, membuat Bunda terkejut dan langsung menoleh padanya.
"Dasar anak nakal, sudah seminggu tidak pulang, datang-datang malah ngagetin!" Pekik wanita paruh baya itu sembari memukul pelan lengannya.
"Sakit, Bun! Anak baru pulang masa malah dianiaya." Keluhnya, sembari melepas pelukannya.
"Salah sendiri bikin Bunda kaget."
Rega nyengir menampilkan giginya yang terbaris rapi, "Aku kangen banget sama Bunda!" Ucapnya sembari kembali berhambur di pelukan Bundanya.
Bunda Arini menyambut pelukannya kali ini, "Bunda juga rindu sekali sama kamu." Ucapnya. "Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Bunda.
"Seperti yang Bunda lihat." Ucapnya.
"Bunda lihat kamu kurusan sekarang, Ga! Apa kamu tidak makan dengan benar? Atau Inder memberimu banyak pekerjaan sampai lupa makan?" tanya Bunda lagi.
Rega tersenyum, "Ini karena aku jarang memakan makanannya Bunda, jadi tubuhku tidak menyerap gizi makanan yang kumakan dengan baik." Ucapnya membuat Bunda Arini tersenyum.
"Anak nakal, apa Bunda juga mau kau gombali, Hemz?" ucap Bunda. "Sekarang ayo kita makan, dan kau harus makan yang banyak biar tubuhmu tidak kurus lagi." Sambungnya seraya melangkah menuju meja makan untuk menyajikan masakan terakhir yang ia buat.
"Inder tidak ikut pulang bersamamu, Ga?" tanya Ayah begitu ia duduk di meja makan.
__ADS_1
"Dia...sedang cukup sibuk Ayah, apalagi dia juga dapat tambahan job dari Pramudza grup jadi kesibukannya bertambah." Jawabnya.
"Ahhh Bunda sedikit khawatir pada anak itu, apalagi sekarang kamu sudah tidak bersamanya setiap saat, Ga." Keluh Bunda.
"Dia baik-baik saja, Bun." Ucap Rega. "Meskipun tidak menemaninya, Rega tetap mengawasinya kok."
"Anakmu itu sudah dewasa, Bun. Dia sudah bisa menjaga dirinya, jadi jangan terlalu khawatir, lagipula Ayah juga menempatkan beberapa pengawal kepercayaan Ayah untuk mengawasinya, jadi kalau ada apa-apa kita pasti akan dapatkan kabar." ucap Ayah menenangkan istrinya.
Obrolan itu berlanjut pada bahasan yang lebih ringan, sepanjang makan malam mereka bercengkrama, kehangatan keluarga yang tak Rega dapatkan dari keluarganya justru ia dapatkan di sini, dan ini pulalah yang membuatnya selalu rela menyempatkan diri untuk pulang kerumah ini.
Makan malam sudah usai, Rega pamit ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuhnya.
Ia baru merebahkan badan, sembari mengutak-atik benda pipihnya ketika pintu kamarnya diketuk dan suara Bunda tertangkap indra pendengarnya.
"Ga! Boleh Bunda masuk?"
"Masuk saja Bun." Jawabnya.
Bunda Arini masuk kekamarnya, dari raut wajahnya Rega bisa menebak pasti ada sesuatu yang ingin Bunda katakan.
Rega bangun dan duduk di kasurnya, ia menaruh ponselnya dan bersiap memdengar apapun yang akan dikatakan wanita di depannya.
"Tadi Mamamu telpon Bunda!" ucap Bunda membuat wajahnya berubah muram. "Katanya mau telpon kamu tapi gak bisa, Mama dan papamu baru saja pulang dan ingin bertemu denganmu, Nak." Ucap Bunda lagi.
"Mereka itu orang tuamu, Nak," Ucap Bunda lembut. "Kamu tetap harus menghormati mereka, temuilah mereka. mereka bilang mereka merindukanmu."
"Mereka gak pernah anggap Rega anak mereka, Bun. Paling mereka sedang membutuhkan batuan Rega saat ini." Ucapnya.
"Gak boleh gitu, Nak! Jangan buat Bunda merasa sudah salah mendidikmu, hingga kamu membenci orang tuamu. Temui mereka, ya. Dengarkan apapun yang ingin mereka katakan, Bunda mohon."
Rega mengangguk pasrah, ia tak pernah bisa menolak jika Bundanya yang meminta.
"Bunda tau kalau kamu anak yang baik!" Puji Bunda sembari tersenyum. "Sekarang istirahatlah, Bunda kabari Mamamu dulu."
Rega menghembuskan napas kasar begitu Bunda pergi, hanya karena permintaan Bunda lah ia bersedia bertemu dengan orang tuanya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Esoknya sepulang dari kantor, ia pulang kerumah keluarganya.
Benar saja kedua orang tuanya sedang berbincang di ruang tengah dan langsung menyambutnya begitu ia datang.
"Syukurlah kamu sudah datang, sayang. Mama rindu sekali padamu, bagaimana kabarmu?" Ujar sang Mama menghampirinya.
"Baik! Sangat baik meski tanpa kalian!" Ucapnya dingin.
__ADS_1
Entah kenapa ungkapan rindu dari sang ibu tak mampu menyentuh hatinya, berbeda jika bunda yang mengucapkannya tentu ia akan segera menghambur pada wanita itu dan mengatakan kalau dia juga sangat merindukannya.
"Kau membuat Mama sedih mendengar kata-katamu, apa kau tidak merindukan kami, sayang?" ucap Mamanya seraya merentangkan tangan hendak memeluknya, tapi ia menghindar dan memilih untuk duduk di sofa tepat di depan Papanya.
"Tanyakan itu pada diri kalian sendiri! Apa kalian benar-benar merindukanku?" bibirnya.
"Apa begitu cara bicaramu dengan orang tua?" sergah sang Ayah.
"Tak usah banyak basa-basi, katakan saja apa yang kalian inginkan dariku?" tanyanya.
"Rega!" Bentak sang Papa karena merasa tak dihormati oleh sang anak.
"Kenapa? Tapi memang seperti itu kan kenyataannya. Kalian hanya mengingatku ketika kalian butuh saja! Jika kalian memang benar merindukanku kenapa baru sekarang? Kemana saja kalian selama ini? Aku sudah terbiasa hidup tanpa kalian, jadi biarkan aku melanjutkan hidupku dengan tenang!" geramnya seratnya beranjak dari duduknya.
Rega baru akan melangkah ketika sang Mama berkata. "Perusahaan papamu diambang kehancuran, Ga!" Ucap Mamanya membuatnya menghentikan langkah. "Kau benar kami memang membutuhkan bantuan darimu saat ini."
Rega tersenyum getir, Benar kan dugaannya, mereka mengingatnya hanya ketika butuh saja.
"Papamu kena tipu, dan jumlahnya tidak sedikit, jika kamu tak mau membantu kami perusahaan Papa akan bangkrut, dan seluruh aset keluarga kita juga akan ikut hilang." Lanjut Mamanya dengan wajah yang sendu.
"Dan bahkan mungkin Papa akan di penjara, karena semua uang sudah papamu pertaruhkan dalam bisnis ini tapi ternyata itu hanyalah bisnis piktif."
Rega berbalik, menatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu nanar. Meski rasa kecewanya pada kedua orang tuanya sangat besar, tapi jauh di lubuk hatinya ia masih sangat menyayangi mereka, ia tak tega melihat mereka tertimpa kemalangan.
Rega menghela napasnya, ia menatap kedua orang tuanya bergantian. "Apa yang bisa ku bantu?" Ucapnya. "Perusahaan kalian lebih besar dari perusahaan yang kurintis bersama Inder, tapi aku akan membantu semampuku." Ucapnya tulus.
Senyum terbit di bibir kedua orang tuanya, setidaknya ada sedikit harapan bahwa sang anak akan membantu mereka.
"Terima kasih, Sayang. Mama senang mendengarnya. Tapi bukan itu yang kami inginkan darimu." Ucap Mama seraya memeluknya kali ini ia tak lagi menghindar. "Uang yang di butuhkan Papamu tak sedikit, jadi Papa membutuhkan suntikan dana yang cukup besar untuk memulihkan perusahaannya." Imbuhnya.
"Lalu? Apa kalian ingin aku meminta bantuan Ayah Rangga agar mau menginvestasikan saham di perusahaan?" tanyanya, tapi Mamanya menggeleng.
"Lalu kalian ingin aku melakukan apa?"
"Sudah ada investor besar yang menanam saham di perusahaan Papa, tapi... Papa merasa posisinya masih sangat rentan karena banyak perusahaan yang juga benaung di bawah perusahaan besar ini, kemungkinan Papamu tersingkir masih sangat besar, jadi...." Ucap sang Mama menggantung.
"Jangan bertele-tele, Ma! Katakan saja apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku?" ucapnya.
"Kami ingin kau mendekati anak dari pemilik perusahaan ini, buat dia tergila-gila padamu bahkan kalau perlu nikahi dia, dengan begitu perusahaan Papa akan aman!" ucap sang Papa.
Rega melepas tangan sang Mama yang masih menggenggam tangannya, kini ia tahu kemana arah pembicaraan ini.
"Kalian bisa menyuruhku apa saja, tapi tidak berbuat curang seperti ini!" ucapnya lantang, seraya berbalik untuk pergi.
"Maaf tapu kali ini aku tidak bisa menolong kalian!"
__ADS_1