
Alika sedang menikmati waktu istirahat dan makan siangnya ketika ponselnya berdering dan Nama sang sepupu muncul disana.
"Ada apa sepupuku, Sayang? Apa kau sudah merindukanku?" Ucapnya bercanda.
"Al, aku mendapatkan undangan makan malam dari keluarga pramudza!"
Ucapan Za dari balik telpon membuatnya menghentikan aktifitasnya. "Apa kau akan datang?" tanyanya.
"Tentu, aku harus datang."
"Kau yakin akan datang Za? Apa kau siap kembali ke rumah itu lagi?"
"Aku harus datang, Al. Akan sangat tidak sopan kalau aku menolaknya." Ucap Queenza.
"Tapi Za, apa kau siap terluka? Bukankah gadis penggantimu juga ada disana? Aku tak ingin kau terluka melihat kebersamaan mereka." ucapnya lagi.
"Aku akan baik-baik saja, Al." Ucap sepupunya lagi. "Jangan khawatir!" imbuhnya.
"Aku tutup dulu, ya Al. Inder memanggilku nanti kita bicara lagi."
Panggilan itu berakhir, tapi kekhawatiran di hati Alika tak juga usai. "Tuhan tolong lindungilah sepupuku." ucapnya dalam hati.
🌺🌺🌺🌺🌺
Reihan memperhatikan Alika yang terlihat banyak melamun, gadis yang biasanya cerewet itu kini tak terlalu banyak bicara, Rei menghampiri gadis itu, beruntung tak terlalu banyak pengunjung hingga mereka bisa sedikit mengobrol.
"Kau kenapa?" tanyanya begitu duduk di kursi dekat Alika.
__ADS_1
"Apa?"
"Kau kenapa? Dari tadi kuperhatikan kau banyak melamun hari ini." Tanyanya lagi. "Kau sedang punya masalah?" tanyanya lagi.
Alika menggeleng, "Tidak. Hanya sedikit khawatir." Ucapnya.
"Khawatir? Siapa yang kau khawatirkan?" tanya Rei penasaran.
Alika menatap pria di depannya, kemudian menggeleng. "Sudahlah, bukan hal yang penting juga." ucapnya, Alika tak bisa bercerita tentang Za pada siapapun termasuk Reihan.
"Penting untukku!" ucap Reihan membuat gadis itu menatapnya. "Apapun tentangmu akan menjadi sangat penting untukku." Sambungnya.
Alika menatap netra pria itu."Apa maksud perkataannya itu? Kenapa semua tentangku akan jadi penting untuknya?" Batin Alika.
Reihan menyadari tatapan Alika yang tak biasa, ia juga tak tau kenapa sosok gadis ini selalu berhasil membuatnya penasaran tentang kehidupannya, bukan hanya karena tugas yang di berikan sang tuan untuknya tapi ada rasa asing yang membuatnya selalu ingin bicara dengan gadis itu, selalu ingin dekat dengan gadis itu, dan selalu ingin tahu tentang gadis itu.
Mungkinkah ia menyukai gadis di depannya ini? Entahlah, apapun itu untuk sementara ini harus ia kesampingkan. tugas nya belum selesai, ia belum bisa menikmati hidupnya dengan normal.
Alika tersenyum, "Terima kasih," ucapnya. "Terima kasih karena sudah perduli padaku."
"Ya sudah, aku kembali kedalam, ya." Ucap Rei yang diangguki oleh Alika.
🌺🌺🌺🌺🌺
Hari sudah merangkak malam, dari siang tadi Alika merasa gelisah, apalagi panggilannya diabaikan oleh sepupunya itu membuatnya semakin tidak tenang.
Dan semua itu tak luput dari perhatian Reihan, itu sebabnya pria itu mengajaknya jalan-jalan sepulangnya dari resto.
__ADS_1
Mereka sepakat untuk nonton, Film komedi menjadi pilihan mereka kali ini.
Dan sepertinya itu adalah pilihan tepat untuk mengusir kegelisahan gadis itu, Reihan tersenyum saat melihat gadis itu bisa tertawa lepas.
"Mau kemana lagi?" tanyanya, setelah keluar dari bioskop.
"Sepertinya pulang saja, aku sudah sangat lelah saat ini, lagi pula ini sudah cukup malam." Ucap Alika.
"Baiklah."
Mereka sepakat untuk pulang, dan mengobrol sebentar di teras kossannya.
Alika menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, kekhawatirannya pada Za kembali memenuhi pikirannya, ia mengambil ponsel lalu menghubungi nomor sepupunya itu, tapi bukan Za yang mengangkat, suara pria yang cukup ia kenal menjawab telpon itu membuatnya semakin khawatir sekaligus panik.
"Ada apa? Bukankah Za pergi bersamamu? Apa terjadi sesuatu?" Cecarnya pada pria itu saat tahu Za sudah tak bersama atasannya itu.
Inder mulai menceritakan apa yang terjadi, seperti yang sudah dia duga sepupunya itu pasti akan kembali terluka jika bertemu dengan keluarga lamanya.
Inder juga bertanya kemana Za biasa pergi bila sedang bersedih atau marah, pasalnya mereka sempat bertengkar sebelum gadis itu pergi meninggalkan rumah keluarga pramudza.
Alika berpikir sejenak, "Cari dia di danau, tebing, atau pantai!" ucapnya.
Sepupunya itu akan meluapkan semua amarahnya di sana jika sedang sedih atau marah.
Panggilan itu berakhir, ia sudah meminta Inder mengabarinya jika sudah menemukan Za, sedang dirinya tak henti berdoa untuk keselamatan Sepupunya itu.
Malam semakin larut, masih belum ada kabar dari Inder, ingin ikut mencari tapi di luar hujan cukup deras dan tak ada kendaraan yang bisa mengantarnya.
__ADS_1
Ia kembali menghubungi nomor ponsel Za, lagi-lagi suara pria yang mengangkat telponnya, ia pikir itu Inder ternyata pria itu mengaku teman Inder.
Namun, kali ini suara serak dari sebrang telpon itu membuat keningnya mengernyit, "Kenapa aku merasa familiar dengan suara pria ini?"