
Rey dan juga Wildan kini berada di ruangan kerja nya.
Terlihat Rey sedang berbicara serius dengan Wildan.
Permintaan tuannya itu tentu membuat Wildan tidak setuju. Bagaimana bisa dia merusak wanita yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri?
"Tidak, tuan. Saya tidak bisa melakukan itu." Tolak Wildan dengan tegas. Dia berdiri dari duduknya.
"Pikirkan lagi, Wildan. Aku mohon, sangat mohon. Bantu aku."
Rey terus memohon agar Wildan mau membantu adiknya. Jujur dia pun tidak setuju dengan hal ini. Tapi apa lagi? Adiknya saat ini sedang membutuhkan itu.
Dengan segala cara. Akhirnya Rey berhasil membuat Wildan setuju.
Rey memeluk Wildan. "Terimakasih, Wil."
Jujur, jika bisa dikatakan. Hati Wildan sejujurnya tidak mau melakukan hal seperti ini. Apalagi saat ini dia sedang dekat dengan seorang wanita.
Dengan hati yang berat. Wilda keluar dari ruangan tuannya. Dia berjalan menuju kamar Canika.
Klek...
Wildan membuka pintu kamar Canika. Terlihat jelas Canika sedang uring-uringan, dia meringis panas.
Dengan tatapan sayu. Canika berjalan mendekat ke arah Wildan. Tidak menunggu lama, Canika langsung mencium bibir Wildan.
"Kak, tolong aku..." Lirih Canika. Dia menatap sayu ke arah Wildan.
Wildan menatap datar ke arah Canika. "Jangan menyesali semua ini. Kita tidak saling mencintai, dan aku sudah mencintai gadis lain. Aku melakukan ini hanya untuk membalas semua jasa tuan Rey dan tuan Bram. Aku harap kamu mengerti itu. Jangan khawatir, aku akan menikahimu." Ucap Wildan dengan lantang.
Canika tersenyum getir saat mendengar perkataan Wildan. Jujur saja di hatinya sungguh sakit.
Setelah itu. Wildan menahan tengkuk leher Canika, dia mencium Canika.
Wildan menuntun Canika ke kasur. Dengan perlahan Wildan merebahkan Canika.
"Mungkin ini akan sakit, tahan sedikit."
__ADS_1
Wildan mulai menyatukan tubuhnya dengan tubuh Canika. Beberapa kali hentakan, akhirnya Wildan berhasil menyatu dengan Canika.
"Sakit..." Ringis Canika saat Wildan berhasil memasukinya.
Wildan mengusap air mata yang menetes dari mata Canika. Setelah terdiam sebentar, Wildan mulai memaju mundurkan dirinya.
Malam yang panjang telah dilalui oleh Canika dan Wildan. Tidak pernah terbayangkan oleh keduanya kalau mereka akan melakukan hal seperti ini.
Ada sedikit rasa penyesalan di hati Wildan. Bukan menyesal karna menyentuh Canika, tapi dia menyesal karna telah mengkhianati wanita yang dulu dia cintai.
"Maafkan aku, semoga suatu saat kamu akan mengerti hal ini." gumam Wildan. Dia tertidur di samping Canika.
Suara dering telpon, berhasil membangunkan seorang gadis yang kini telah menjadi seorang wanita.
Siapa lagi kalau bukan Canika? Kejadian malam itu berhasil membuat statusnya berubah.
Dia terbangun dari tidurnya. Canika mengambil ponselnya.
Terlihat disitu ada notif pesan dari seseorang.
"Cepat sarapan. Dan bersiaplah, sore ini kita akan menikah." isi pesan tersebut.
Dengan langkah perlahan. Canika masuk ke dalam kamar mandi.
"kenapa sakit sekali... Rasanya aku tidak sanggup lagi."
Dia tidak menyangka kalau malam pertama itu seperti ini. Dia pikir akan seperti di novel-novel.
Di usia yang baru menginjak 19 tahun. Canika harus menikah dengan kondisi seperti ini.
"Kenapa semua menjadi seperti ini. Aku telah mengecewakan semua orang, termasuk kak Rey." Lirih Canika. Dia menangis dalam diam.
Sedangkan itu. Aulia terkejut saat mendapatkan kabar dari Renata kalau Canika akan menikah sore ini.
"Kenapa mendadak sekali? Aku seperti merasakan hal yang aneh." Lirih Aulia. Dia heran dan juga curiga.
"Ada apa sayang?" Gio bertanya saat melihat wajah istrinya.
__ADS_1
Aulia menatap suaminya. "Canika akan menikah sore ini. Tapi aku merasa ada hal yang janggal." Jawab Aulia.
"Canika?"
Aulia menganggukan kepalanya. "Iya, mantan adik iparku."
"Bagus dong kalo dia mau menikah. Memangnya kenapa?"
"Bukan seperti itu mas. Tapi aku tidak enak saat mendengar suara Canika. Aku rasa terjadi sesuatu padanya."
"Daripada penasaran seperti itu. Sudah, sebaiknya nanti kita langsung ke rumahnya?"
Kediaman mohana sudah sangat ramai dengan beberapa tamu undangan. Pernikahan yang dihadiri kedua belah pihak dan kerabat. Namun banyak tetangga yang kepo, mereka bahkan ikut datang.
Banyak yang menyinyirkan kalau Canika hamdu( hamil duluan)
"Aku takut, kak." Lirih Canika. Dia menggenggam erat kedua tangan wanita yang menjadi kakaknya.
Renata dan Aulia tersenyum. Renata mengusap lengan Canika. "Tidak usah gugup seperti itu. Rilex, tarik nafas dalam dalam, terus hembuskan perlahan."
SAH
SAH
SAH
Kata yang menggema di ruang tamu itu berhasil membuat status Canika berubah menjadi seorang istri.
Canika meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan menikah dengan Wildan.
Klek...
Mama Widia masuk ke dalam kamar putrinya. "Sayang..." Panggil mama Widia, dia memeluk putrinya.
"Ayo turun. Suamimu sudah menunggumu."
Canika keluar dari kamarnya dengan di dampingi oleh ibu dan juga kedua kakaknya. Dia berjalan dengan hati-hati karna masih sangat sakit.
__ADS_1
Semua mata menatap kegum ke arah Canika. Mereka terhipnotis dengan kecantikan Canika.
"Maafkan aku, Canika. Aku tidak bisa mencintaimu, aku tidak bisa menganggapmu sebagai seorang istri."