TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
TJC EPISODE 54


__ADS_3

Saat Canika dan yang lainnya sedang berpesta. Dia terdiam setelah meminum jus yang dia pesan tadi.


Canika heran saat merasakan rasa nya. Berbeda seperti saat dia minum dulu.


"Kenapa rasanya beda sekali? seperti ada yang aneh." Lirih Canika. Dia berdiri dari duduknya. Namun saat hendak berdiri. Dia merasakan tubuhnya oleng.


"Astaga! lu gapapa Can?" Tanya Dina. Dia menahan tubuh Canika yang hendak ambruk.


Canika memegangi kepalanya. "Aku gapapa. Hanya sedikit pusing saja." Sahut Canika.


Dina memanggil Imel. "Mel. Kayanya Canika mabok. Lu jaga dia." Ucap Dina. Dia memberikan Canika kepada Imel.


Imel membantu Canika untuk duduk. "Lu kok bisa minum sih? bukannya lu ga kuat sama minuman itu." Tanya Imel.


Canika tidak mendengar jelas ucapan temannya itu.


Aldo dan yang lainnya menyusul Canika.


"Ada apa sama Cika?" Tanya Aldo.


"Gatau. Coba lu tunggu bentar. Gua mau ngambil air buat Cika."


Sedangkan itu di sisi lain tepatnya di mansion utama. Terlihat Reyendra tengah marah besar. Pasalnya dia baru mengetahui adiknya yang pergi ke club malam.


"Kenapa kalian mengizinkannya?!" Tanya Rey dengan rahang mengeras.


Renata memegangi tangan suaminya. Dia mencoba menenangkan suaminya.


"Mas!" Renata menggelengkan kepalanya.


Rey menghela nafasnya. Dia melirik sekretarisnya. "Wil. Susul adikku!"


"Baik, tuan." Wildan langsung keluar dari gedung. Dia langsung membawa mobilnya menuju lokasi Canika.


"Aku sudah pernah bilang! Jangan pernah izinkan Cika untuk pergi malam!" Tegas Reyendra. Dia pergi dari hadapan kedua orangtuanya.


Sedangkan itu kini Wildan telah sampai di sebuah club malam yang sudah sering dikunjunginya untuk menemui klien.


Wildan berjalan masuk dengan tergesa-gesa. Hatinya khawatir akan Canika.


Kedatangan Wildan tentunya langsung menjadi santapan para wanita wanita yang berada di club. Karna bisa dibilang kalau Wildan adalah orang yang tampan dan memiliki pesona yang memukau.


"Dimana Cika?" Tanya Wildan kepada salah satu teman Canika yang berpapasan dengannya.


Imel mengerutkan keningnya saat melihat Wildan. "Cika?"


Imel terdiam sebentar. Mungkin karna pengaruh minuman, dia menjadi bingung.

__ADS_1


"Oh... Canika? Ya, dia berada di sana (Imel menunjukkan arah Canika.)"


Tanpa menunggu lagi. Wildan langsung berlari menuju arah yang diarahkan oleh Imel.


Tatapan Wildan langsung tertuju ke arah Canika yang tengah terdiam. Canika memegangi kepalanya.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Aldo kepada Canika. Dia memeluk Canika dengan erat.


"Engh! Lepaskan.."


Aldo langsung menarik tengkuk leher Canika. Dia mencium Canika.


Melihat itu. Rahang Wildan langsung mengeras. Dia langsung berlari dan memberikan pelajaran untuk Aldo.


Bugh!


"Berani-beraninya kamu!" Wildan mengha.jar Aldo tanpa ampun. Dia membuat wajah tampan Aldo berubah menjadi macan tutul.


Wildan menarik kerah baju Aldo. "Dengarkan ini baik-baik. Jika terjadi sesuatu kepada Cika. Saya tidak akan melepaskan kamu begitu saja!" Sentak Wildan. Dia mendorong tubuh Aldo.


Canika yang melihat itu. Dia tidak terlalu jelas melihatnya. Tatapannya menjadi buram. Wajahnya memerah.


Wildan langsung membawa Canika. Wildan memasukkan Canika ke dalam mobilnya. Namun saat hendak memasangkan sabuk kepada Canika. Dia terlebih dulu terdiam dengan lirihhan Canika.


"Sttt... panas..." Lirih Canika.


Wildan mengeram kesal. Dia menyadari kalau Aldo telah memasukan obat perang.sang kepada minuman Canika.


Sepanjang jalan Canika terus merintih kepanasan. Dia merengek ingin membuka bajunya dengan alasan gerah dan juga panas.


"Panas.... panas!!" Teriak Canika. Dia menarik tengah gaunnya.


"Damn!" Umpat Wildan. Dia menambahkan kecepatan mobilnya.


Sesampainya di mansion mohana. Lagi dan lagi keluarga mohana dibuat terkejut dengan kedatangan Wildan dan Canika dengan kondisi yang sama seperti waktu itu.


"Apa yang terjadi pada putri ku, Wildan?!" Tanya Pak Bram dengan suara bariton nya.


"Mohon maaf tuan. Saya terlambat datang. Mantan kekasih non Cika telah memasukkan obat perang.sang kepada minuman non Cika."


"APA?!!!" Pekik semuanya. Mereka terkejut saat mengetahui kalau Canika dalam pengaruh obat perang.sang dengan dosis tinggi.


"Hiks... Sayang!! Anakku..." mama Widia lngsung berlari memeluk tubuh Canika.


"Panas, mah.." Ringis Canika. Tanpa sadar air matanya ikut menetes.


Melihat kondisi adiknya. Jujur hati Rayendra menjadi sakit. Dia sakit hati karna merasa gagal menjadi seorang kakak.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Adik yang dari dulu dia jaga dan dia rawat itu hampir saja ternodai.


Tanpa berkata apapun. Rey langsung naik ke lantai atas.


Renata tau tentang sikap Rey. Dia bahkan melihat Rey menyeka air matanya.


Seorang kakak mana yang tidak sakit hati saat melihat kondisi adiknya yang seperti itu.


Ingin sekali Renata memeluk suaminya. Tapi situasi saat ini sedang genting. Dia harus cepat mengambil tindakan untuk adik iparnya.


Renata menghampiri adik iparnya dengan membawakan secangkir air dingin.


Dia menyodorkan cangkir itu kepada Cantikan. "Minumlah."


Canika menerima uluran cangkir itu. Tapi tetap saja di dalam dirinya masih sangat panas. "Panas!!!"


Mama Widia mendongak menatap menantunya. "Bagaimana ini, Rena? Mama bingung hiks.." Tanya mama Widia. Dia memeluk erat tubuh putrinya.


Renata mengusap punggung mama mertuanya. "Mama jangan khawatir. Kita harus sabar menghadapai situasi saat ini. Biarkan aku berbicara dulu dengan mas Rey." Jawab Renata. Dia berdiri dari duduknya. Dia menyusul suaminya.


Klek...


Renata membuka pintu kamarnya. Dia menutup pintu dengan perlahan.


Terlihat di ujung sana. Suaminya itu sedang menangis. Lebih tepatnya dia marah, kesal, dan juga sedih.


"Mas?" Panggil Renata.


Rey terdiam saat istrinya itu memeluknya.


"Sayang..." Renata membalikan tubuh suaminya yang kini menghadap ke arahnya.


Tidak bisa dibohongi lagi kalau suaminya itu sedang menangis. Matanya sembab.


Panggilan itu berhasil membuat Rey gugur. Air matanya menetes begitu saja. Dia memeluk istrinya. "Aku gagal... Aku gagal menjadi seorang kakak yang berguna..."


Rey menangis dalam pelukan istrinya. Sekuat apapun dia, sehebat apapun dia. Tetap saja dia lemah akan keluarganya dan juga istrinya.


Renata mengusap punggung suaminya. "Sudah, mas. Jangan menyalahkan dirimu. Kamu tidak mesti menyalahkan dirimu sendiri. Ini semua musibah." Tutur Renata.


Renata menyeka air mata suaminya. Dia menangkup kedua pipi suaminya. "Sebaiknya sekarang kamu bantu aku, mas. Telpon sekretaris Wildan. Dan suru dia kemari." lanjut Renata. Dia meminta Rey untuk menelpon Wildan.


Rey mengerutkan keningnya. "Untuk apa?"


Renata membisikkan sesuatu kepada Rey. Mendengar itu, Rey memekik terkejut.


"Tidak! Tidak! Mereka tidak saling mencintai... Aku tidak mau adikku merasakan hal yang sama seperti dirimu."

__ADS_1


"Mas. Yang dulu tidak perlu disamakan seperti sekarang. Aku yakin. Dengan seiring waktu, pasti mereka akan saling mencintai. Apa kamu lupa? Dulu juga kamu tidak mencintaiku. Tapi sekarang? Semuanya kehendak Allah, mas."


Setelah mempertimbangkan ucapan istrinya. Rey akhirnya setuju dengan rencana Renata. Meskipun terdengar buruk, tapi ini semua demi menyelamatkan adiknya.


__ADS_2