
"Kenapa kamu baru memberitahukannya, sayang?" Tanya mama Widia dengan raut wajah kesalnya. Dia sungguh kesal karna kehamilan anak perempuannya itu justru tidak diketahui olehnya.
Canika menggaruk tengkuk leher nya yang tidak gatal. "Hehehe, Cika cuma mau ngasih kejutan aja buat kalian."
Melihat keduanya. Renata hanya tertawa rendah. Dia memeluk adik iparnya itu. "Selamat ya, sayang. Sebentar lagi, kamu akan menjadi seorang ibu." Ucap Renata, dia memberikan ucapan selamat untuk adik iparnya itu.
Canika membalas pelukan kakak iparnya. "Terimakasih banyak, kak."
"Oh, iya. Apa kakakmu tahu, tentang kehamilan mu?" Tanya mama Widia. Karna pada fasalnya, dia mengetahui kalau anaknya itu takut kepada kakaknya.
Canika menundukan pandangannya. Dia menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak, kak Rey tidak mengetahuinya." Jawab Canika dengan suara yang pelan.
Renata mengusap punggung adik iparnya. "Nanti biar kakak yang memberitahukannya."
Ketiga wanita cantik itu saling mengobrol satu sama lain. Berbagai banyak pengalaman, apalagi membahas pengalaman saat mengalami fase hamil dan melahirkan.
Mendengar itu, Canika menjadi sedikit ngeri. Membayangkannya saja sudah membuatnya ngilu, apalagi merasakannya.
"Hahaha, jangan takut, Cika." Renata menggenggam tangan Canika. "Rasa sakit itu akan hilang saat melihat buah hati kita, kamu tau? kakak melahirkan 4 orang jagoan, ya walaupun kakak tidak merasakan lahiran secara normal. Namun kakak juga merasakan bagaimana sakitnya melahirkankan, kamu jangan merasa takut. Ada kami disini," Tutur Renata. Dia memberikan dukungan penuh untuk adik iparnya itu.
__ADS_1
Mengandung di usia muda memang sangat rentan. Tapi bagi Canika, kehamilan ini dia harapankan bisa membuat keharmonisan di dalam rumahtangganya.
Setelah mengobrol cukup lama. Canika berpamitan untuk ke perusahaan suaminya. Dengan diantar oleh kakak iparnya, Canika menuju perusahaan itu dengan senyuman mengembang.
"Syukurlah jika kamu bahagia bersama Wildan, semoga saja dugaanku selama ini salah." Lirih Renata.
Dia sangat senang saat melihat adik iparnya itu bahagia dengan pernikahannya. Dia tidak mau adik iparnya itu merasakan hal yang sama seperti dirinya.
Sesampainya di perusahaan MHN GROUP. Keduanya langsung di sambut hangat oleh semua pegawai kantor.
Khususnya Reyendra. Dia menyambut kedatangan istri dan adiknya. Rey memeluk erat istrinya. "Tumben ke kantor, ada apa, sayang?" tanya Rey kepada Renata.
"Aku hanya mengantar Cika, katanya dia mau bertemu dengan suaminya." Renata menatap ke sekeliling, "Dimana Wildan, mas?" Tanya balik Renata.
Deg.
Canika terdiam saat mendengar itu. Cafe? dia bahkan tidak memberitahu kedatangannya, tapi bagaimana bisa suaminya itu malah menunggunya di cafe.
Untuk menghindari rasa kekhawatiran kakaknya. Canika pun tersenyum. Dia menepuk jidatnya yang seolah lupa.
__ADS_1
"Astaga, maafkan aku. Hehehe iya tadi aku minta buat k-mas Wildan menunggu di cafe." Sosor Canika dengan wajah gugupnya. Dia bergegas berpamitan kepada kakaknya untuk menemui suaminya.
Canika berjalan tanpa arah, dia bingung mencari keberadaan suaminya. Cafe dekat kantor tidak ada sosok suaminya. Lantas, dimana suaminya?
Dia mencoba menghubungi nomor suaminya itu. Namun tetap saja, tidak ada respon apapun.
Langkah kaki Canika terhenti saat berada di sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari arah cafe. Dia melihat sosok laki-laki yang perawakannya seperti suaminya, Wildan.
"Apa itu mas Wildan?" Lirih Canika. Dia bergegas menghampiri suaminya. Tapi, langkah kakinya kembali terhenti saat setelah berada tepat di belakang tubuh suaminya.
DUAR!
Bak tertusuk ribuan pisau, hati Canika hancur saat melihat seorang wanita yang tengah menyenderkan kepalanya ke dada bidang suaminya. Lebih terkejut lagi saat mendengar suara suaminya yang membuatnya sungguh terkejut.
"Jadi ini?" Ucap Canika yang mengagetkan Wildan dan seorang wanita.
"Ca-?"
...----------------...
__ADS_1
Yuk mampir ke sini juga!