TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
TJC EPISODE 43


__ADS_3

Mendengar kabar kekasihnya kece.lakaan tentunya membuat Giovanno langsung menghambat Aulia. Dia tidak mau kehilangan Aulia. Apalagi saat dokter mengatakan kalau kini kondisi Aulia sangatlah kritis.


"Apa tidak ada cara lain dok?" Tanya Gio dengan wajah memelas nya. Dia sungguh terpukul saat mengetahui kalau rahim Aulia harus diangkat saat ini juga. Beruntungnya baby yang ada dikandungan Aulia bisa terselamatkan.


Sebagai seorang dokter. Gio juga pasti bisa merasakan dengan kondisi genting saat ini. Dia tidak bisa memutuskan ataupun meminta dokter untuk mempertahankan rahim Aulia.


Gio menarik nafasnya. Dia menatap ke arah dokter. "Apapun itu. Lakukanlah. Buat calon istriku selamat." Final Gio. Dia sudah yakin akan keputusannya.


Bara menatap ke arah Gio. Baru kali ini dia melihat sahabat sekaligus teman kerjanya itu bersikap dewasa. Bara menepuk pundak Gio. Dia memberikan semangat serta dukungan untuk Gio.


Oprasi langsung berjalan. Kini Gio terduduk didepan ruang oprasi. Dia menunggu dengan wajah yang cemas.


Tak berselang lama terdengar suara tangisan bayi.


Oee... Oee... Oee...


Deg.


Gio terdiam saat mendengar suara tangisan bayi yang berasal dari ruangan oprasi. Tanpa sadar air matanya ikut menetes.


"Anakku.." Lirih Gio.


Ya. Aulia terpaksa harus mengeluarkan bayi nya secara cs. Namun sepertinya cobaan lagi-lagi datang kepada Aulia. Kini dia harus kehilangan rahimnya.


Oprasi berjalan lancar. Kini Aulia dan bayi nya sudah dipindahkan keruangan rawat.


Gio sudah mempersiapkan semuanya. Rasanya dia kini seakan mendapatkan anaknya. Gio tidak perduli dengan status anaknya bukanlah anak kandungnya. Karna bagi Gio, Anak Aulia adalah anaknya juga.


Cup!


Gio mengecup kening Aulia dengan sangat lama. Dia tidak mampu menahan kebahagiaan dan juga keharuan nya. "Sayang.. Bangunlah... Apa kamu tidak mau melihat anak kita? Lihatlah dia sayang. Dia sungguh tampan."


Tok..


Tok..


Tok..


"Masuk!"


Klek..


Suster masuk ke dalam ruangan rawat Aulia dengan membawakan bayi nya. "Ini, Pak. Silahkan di adzani." Ucap Suster yang mempersilahkan Gio untuk mengadzani anaknya.


Gio menangkap bayi mungil yang kini sudah menjadi anaknya. "Cantik sekali.. Seperti ibunya."

__ADS_1


Gio mulai mengadzani anaknya. Baru pertama kali ini dia memegangi bayi mungil yang sungguh dia tidak percaya kalau bayi ini akan menajamkan anaknya.


Setelah selesai mengadzani. Gio membawa bayi mungil itu ke dekat ibunya.


"Sayang.. Bangunlah! apa kamu tidak mau melihat anak kita? Lihatlah dia sungguh sangat tampan." Gio meletakan bayi nya tepat disamping Aulia. Dia berharap dengan ini Aulia bisa cepat sadar.


Terbukti. Tangisan bayi itu mampu membuat sang ibu terbangun. Kontak batin diantara keduanya seakan langsung erat.


Aulia menggerakan jari-jarinya secara perlahan. Dia membuka matanya dengan perlahan-lahan. "G-gio?" Lirih Aulia. Dia menatap Gio yang tengah tersenyum manis ke arahnya.


Gio mengambilkan air minum untuk Aulia. Dia membantu Aulia untuk meminum air itu. "Bagaimana keadaanmu, sayang?" Tanya Gio sambil mengusap wajah cantik Aulia.


Aulia terdiam sebentar. Dia meraba perutnya. Kedua bola matanya langsung melotot saat merasakan perutnya yang rata.


"Di-dimana bayiku?!" Pekik Aulia. Dia tidak memperdulikan rasa sakit oprasi yang masih sangat basah.


"Ahh!! dimana anakku??" Teriak Aulia. Dia sungguh histeris. Pikirannya langsung melayang. Dia membayangkan yang tidak tidak.


Gio memeluk tubuh Aulia. "Tenang sayang. Anak kita baik-baik saja. Lihatlah itu (Gio menunjuk kasur bayi.) di dalam itu ada anak kita sayang."


Aulia memicingkan kedua matanya. Dia menatap ke arah Gio. Kedua matanya seolah bertanya apa benar yang dikatakan oleh Gio?


Gio menganggukan kepalanya. "Iya, sayang. Itu anak kita. Bayi kita." Jawab Gio. Dia memeluk tubuh Aulia.


Air mata Aulia tidak mampu dia tahan lagi. Rasanya sungguh bahagia. Dia menangis bahagia dalam pelukan Gio.


Gio mendongakan kepalanya. Di mengecup kening Aulia. "Terimakasih, sayang. Terimakasih karna kamu sudah menghadirkan malaikat kecil yang sungguh cantik. Dia mewariskan kecantikanmu."


Saat hendak memeluk kembali Gio. Aulia merasakan perutnya yang sungguh sakit. Dia meringis sakit. "Ahh.. Sakit!!" Ringis Aulia.


Gio langsung memanggil dokter. Sedetik kemudian dokter dan perawat langsung menghampiri Aulia.


Dokter memeriksa Aulia. Dia meminta Aulia untuk tidak terlalu banyak bergerak karna luka bekas jaitan itu masih sangat basah.


Aulia mengerutkan keningnya saat mendapatkan kalau dirinya telah melakukan oprasi 2 kali.


Mendapatkan tatapan Aulia. Gio langsung meminta dokter dan perawat pergi. Dia harus mempersiapkan diri untuk memberitahukan kebenarannya kepada Aulia.


"Sayang.." Panggil Gio.


Aulia memundurkan duduknya. "Apa yang terjadi? Jawa aku!" Sentak Aulia. Dia meminta Gio untuk menjawab pertanyaannya.


Gio menghembuskan nafas kasarnya. Dia meraih tangan Aulia. "Apapun itu, percayalah. Aku akan tetap menerimamu apa adanya. Aku mencintaimu."


Hati Aulia semakin tidak tenang. Ada apa yang terjadi padanya? Itulah yang kini berputar jelas di pikiran Aulia.

__ADS_1


"*Rahimu telah diangkat."


"Rahimu telah diangkat."


"Rahimu telah diangkat*."


Deg.


Kata itu seolah langsung menggema ditelinga Aulia. Dia menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu.


"A-apa maksdunya?!"


"Karna benturan yang cukup keras. Dokter memutuskan untuk mengangkat rahimu yang sudah rusak." Lanjut Gio.


Tubuh Aulia langsung lemas. Dia menangis histeris. "Apa yang kamu maksud?! katakan yang jelas!!!" Sentak Aulia dengan nada yang cukup tinggi.


Gio menangkap tubuh Aulia. Dia memeluk tubuh kekasihnya itu.


Melihat wanita nya menangis histeris. Gio juga ikut meneteskan air matanya. Dia menyalahkan kebodohannya yang memilih berangkat.


Andai saja dia memilih untuk tetap diam di apartemen nya. Pasti semua ini tidak akan terjadi. Semua karnanya. Itulah yang ada di pikiran Gio. Dia menyalahkan dirinya sendiri.


Setelah beberapa menit menangis. Kini Aulia terdiam bisu. Dia tidak mengatakan sepatah katapun.


Gio sudah membujuk beberapa kali untuk Aulia memakan sedikit makanan. Namun tetap saja, Penolakan yang justru Gio terima.


"Sayang.. Aku mohon! jangan bersikap seperti ini.. Semuanya sudah kehendak takdir. Apapun yang takdir rencanakan, pasti akan ada hikmahnya." Gio berjongkok tepat di hadapan Aulia.


"Kamu boleh memvkvlku, atau melakukan apapun. Tapi aku mohon, jangan diamkan aku seperti ini. Hatiku sungguh sakit!"


Aulia menatap ke arah lain. Sungguh dia merasa kalau kini dirinya semakin tidak pantas menjadi pendamping Gio.


Aulia melepaskan cekalan tangan Gio. "Pergilah.. Carilah wanita yang senada denganmu. Carilah wanita yang sempurna. Jangan bersamaku.. Aku tidak layak untumu.." Lirih Aulia.


"APA MAKSUDNYA HAH?! APA YANG KAMU KATAKAN?!" Suara bariton Gio kini keluar. Dia sepertinya marah mendengar ucapan dari Aulia.


Aulia menangis dalam diam. Gio memeluk Aulia.


"Aku tidak perduli tentang itu. Bagiku, kamu sudah sangat sempurna. Aku mencintaimu! dan hanya kamu!"


----------------


Hay. Salam hangat dari author. Seperti biasa, author minta dukungan dan support nya dari kalian semua.


Yuk!!

__ADS_1


LIKE+KOMEN+VOTE!!


RATE BINTANG 5 DAN TEBARKAN BUNGA KALIAN!!


__ADS_2