TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Begitu masuk ke dalam rumah Alika, mereka di sambut dengan wajah ramah kedua orang tua gadis itu.


Pelukan hangat menjadi sambutan berikutnya untuk gadis itu, "Ibu rindu sekali sama Neng." Aku sang Ibu seraya memeluk erat tubuh sang putri yang sudah cukup lama tak pulang ke rumah.


"Neng, juga kangen sama Ibu dan bapak." Sahut Alika. "Ibu sama Bapak apa kabar?" Imbuhnya seraya melepas pelukannya dari sang ibu dan beralih mencium punggung tangan bapaknya.


"Alhamdulillah, sae Neng." Sahut Bapak. "Neng kumaha? Sehat, kan?" lanjut pria paruh baya itu seraya membelai lembut putrinya.


"Alhamdulillah, Neng Sehat, Pak."


Mata Ibu membulat saat menyadari keberadaan seorang pemuda yang tengah berdiri di depan pintu rumah nya yang terbuka lebar. Karena begitu bahagia dengan kepulangan putri mereka sampai tak menyadari jika putri mereka tak datang sendiri.


"Ari budak kasep itu teh saha?" bisik sang Ibu bertanya dengan mata penuh rasa ingin tahu.


Alika menghela napas, ia menghampiri pria itu dan mengenalkannya pada kedua orang tuanya.


"Bu, Pak, kenalkan ini atasan Neng, namanya Pak Rega." Ucapnya seraya melirik pria di sampingnya, yang mengangguk sopan. Alika terus menatap pria itu, memastikan bahwa pria itu benar-benar tidak akan menghukumnya seperti biasa.


"Selamat datang di gubuk kecil kami, Den." Ucap Bapak, "Mohon maaf bila kami hanya bisa menyambut seadanya." Lanjutnya lagi membuat pria itu meringis malu.


"Panggil Rega saja, Pak, Bu," Sanggahnya merasa tak enak bila mereka memanggilnya dengan sebutan Den.


Kedua orang tua itu saling berpandangan, tersenyum lalu mengangguk setuju. "Hayuk atuh di suruh masuk si ujang kasepna." tegur sang Ibu ketika melihat Alika masih mematung.


"Iya, Bu." sahut Alika. "Ayo, Pak. Mari silahkan masuk." ajaknya pada pria itu.


Rega menurut, pria berparas tampan itu mengekor langkah ketiga orang di depannya.


Rega di persilahkan duduk di kursi ruang tamu yang terbuat dari kayu dengan ukiran khas, sedangkan Alika mengekor sang ibu untuk membantu menyiapkan minuman dan camilan.


"Ibu kira si ujang kasep pacar kamu, Neng." cetus sang ibu membuatnya tersedak ludahnya sendiri.


"Uhuk...uhuk..."


"Ibu ngomong apa, sih? kenapa ibu bisa berpikir begitu?" sanggahnya tak habis pikir dengan pemikiran Ibunya.


"Ya, Ibu pikir kamu bawa calon mantu untuk ibu dan Bapak." ucap Ibu lagi.


"Neng belum kepikiran untuk nikah, Bu." ucap gadis itu. "Neng masih mau kerja, masih pingin bikin bapak dan Ibu bangga dulu." lanjutnya.


Ibu tersenyum, mengusap puncak kepalanya "Dengan kamu menjaga diri selama hidup di kota, itu sudah membuat kami bangga, nak." ucap Ibu, membuatnya terharu.


Keharuan itu tak berlangsung lama, mereka segera membawa minuman beserta camilan ke ruang tamu.


🌺🌺🌺🌺


Di ruang tamu Rega banyak berbincang dengan bapak, dari cerita Bapak ia baru tau kalau Alika adalah anak tunggal, sama seperti dirinya.


Bedanya gadis itu adalah anak yang telah di nanti lama hingga kehadirannya menjadi sebuah anugrah istimewa, sedang dirinya? Ia hanya di anggap sebagai pelengkap keluarga saja.

__ADS_1


"Mangga di leueut, kasep." Ucap Ibu Alika dengan aksen sundanya yang kental.


Rega menatap Alika mencari arti dari kalimat Ibu yang sama sekali tak ia mengerti.


"Silahkan di minum, Pak." Jelas Alika.


Rega mengangguk paham, "Terima kasih, Bu." ucapnya.


Mereka berbincang sebentar lalu orang tua Alika menyuruh gadis itu membawanya ke kamar untuk tempatnya beristirahat.


Sebuah kamar sederhana yang tentunya jauh lebih kecil dari apartemen ataupun kamarnya di rumahnya, tapi cukup nyaman dan juga rapi sebagai tempat peristirahatan.


"Bapak bisa tidur di kamar saya." ucap Alika membuatnya menoleh.


"Ini kamarmu?" tanyanya.


Gadis itu mengangguk. "Hanya ada dua kamar di rumah ini, kamar ini dan kamar orang tua saya." Tuturnya. "Bapak bisa tidur di sini."


"Lalu kau?"


"Saya akan tidur dengan Ibu." Ucapnya. "Bapak saya akan ikut berjaga bersama yang lainnya di rumah Za." lanjut Alika sebelum ia kembali bertanya.


Rega mengangguk, ia melangkah masuk ke kamar itu. Matanya menyapu seluruh ruangan bernuansa peach itu dengan seksama.


"Maaf, jika kamar ini kurang nyaman untuk Anda, Pak." Ucap Alika.


"Hah?"


"Panggilan itu juga berlaku untukmu selama aku di sini." Lanjut pria itu.


"Baik, Pak." Ucap gadis itu lalu segera menutup mulutnya, "Maksudnya Rega, semoga Anda bisa tidur nyenyak, saya permisi dulu." Ucap gadis itu seraya melangkah meninggalkan kamar itu.


Sepeninggal Alika, Rega kembali memperhatikan setiap sudut kamar ini. Sebuah Foto diatas nakas menarik perhatiannya.


Foto dua orang gadis berseragam putih abu-abu yang tersenyum ceria kearah kamera, itu foto Alika dan Za Rega tersenyum gemas melihat ekspresi Alika di foto itu.


"Dia memang menggemaskan sejak dulu rupanya." gumamnya seraya tersenyum.


Rega juga mengamati jajaran buku yang tertata rapi di rak, ia sangat tertarik pada buku-buku itu.


"Novel?" gumamnya lagi setelah melihat dari dekat deretan buku itu. "Dia penggemar novel ternyata."


Satu lagi sisi lain gadis ketus yang ia kenal beberapa bulan belakangan ini, entah kenapa dia semakin ingin tau tentang gadis itu.


Malam yang semakin larut membuatnya memaksa badan untuk merebah, besok hari yang akan sangat melelahkan bagi semua orang termasuk dirinya.


🌺🌺🌺🌺


Udara dingin yang menusuk kulit membuat Rega terbangun sangat pagi, ia meraih jaketnya, ingin rasanya kembali merebah dan memejamkan mata sayangnya rasa lengket dan tak nyaman di badan membuatnya tak bisa kembali tidur.

__ADS_1


Setelah sampai semalam ia terlalu lelah hinga tak sempat untuk mandi, badannya mulai terasa gatal sekarang.


Waktu sudah menunjukan pukul 4.30 di ponselnya, sebuah rekor bangun terpagi yang baru saja ia menangkan.


Ia keluar dengan handuk di pundaknya.


"Anda mau mandi, Pak?" tanya Alika yang sedang berada di dapur.


"Iya."


Gadis itu membuka pintu di dekat dapur. "Silahkan, Pak," ucap gadis itu lagi.


"Kau masih saja memanggilku, Pak." tegurnya dengan mata memincing.


"Ahhh Maaf, maksudnya Rega, silahkan kau bisa mandi di sini."


Rega menyapukan pandangannya pada ruangan lembab itu, ia bergidik saat jemarinya menyentuh air di bak.


"Maaf, di sini tak ada water heater, tapi jika Anda ingin mandi dengan air hangat saya bisa..."


"Tidak perlu!" pangkas lelaki itu, memangnya kau pikir aku tidak bisa mandi air dingin? Aku tidak semanja itu." ucapnya seraya masuk dan menutup pintu kamar mandi.


Rega menggantungkan handuk di sebuah gantungan yang berada di balik pintu, ia lalu membuka semua pakaiannnya.


Ia bergidik saat air dari shower mulai menyentuh kulitnya, "Dingin banget!" Gumamnya, tapi rasa tak nyaman di tubuhnya membuatnya melanjutkan kegiatannya.


Dalam sepuluh menit ia sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar, dan rambut yang basah.


Glek. tanpa ia sadari ada seseorang yang meneguk kasar salivanya melihat pemandangan indah tubuhnya, "Kau sudah selesai." tanya Alika.


"Ia mengangguk, "Aku baru ingat kalau jas ku masih di mobil, bisa tolong bawakan?" tanyanya.


"Tentu, kau bisa menunggu di kamar biar nanti aku yang bawakan." Ucap Alika seraya berlalu dari hadapannya.


Ia menurut, lantas menunggu Alika di kamar, tak berapa lama gadis itu datang membawa pakaiannya.


Ia tersenyum melihat gadis itu mendekat, tapi sesaat kemudian mata nya melebar saat melihat tubuh gadi itu terhuyung kearahnya dan sedetik kemudian jatuh menimpanya.


Tubuh gadis itu menindih tubuhnya yang masih polos di bagian atasnya, bibir gadis itu menempel sempurna di bibirnya membuat keduanya melebarkan bola mata namun tetap bergeming di tempatnya.


Kedua pasang netra mereka beradu pandang dalam jarak yang begitu dekat, kejadian yang tiba-tiba itu membuat keduanya mematung beberapa saat, hingga gadis itu segera beranjak bangun dari tubuhnya, dan langsung menutup mulutnya.


"Ma-- maaf kan aku, a...aku benar-benar tidak sengaja melakukannya." ucap gadis itu terbata.


"Ini, jasmu." Lanjutnya seraya menyerahkan pakaian nya lalu segera melarikan diri dari hadapannya.


Senyuman tersungging di bibir Rega, ia menyentuh bibirnya, lalu meraba dada nya yang masih berdebar hebat.


"Gila! bagaimana bisa jantungku berdebar sehebat ini, padahal bibir kami hanya menempel?"

__ADS_1


__ADS_2