
Reihan sudah lebih dari seminggu sibuk menggantikan sang Tuan muda, menghandle semua pekerjaan yang tak bisa dilakukan Raja karena tuan mudanya itu sedang sibuk melepas rindu dengan sang adik yang baru di ditemukannya.
Di samping itu ia juga harus mengumpulkan bukti-bukti yang diminta Raja padanya, semua ini membuatnya harus berhenti dan mengakhiri penyamarannya menjadi karyawan sebuah resto dan juga membuatnya tak lagi bisa bertemu dengan Alika.
Reihan menyandarkan tubuhnya pada kursi, mengingat Alika membuatnya cukup gelisah.
Bagaimana kabar gadis itu sekarang? Apa yang akan terjadi kalau gadis itu mengetahui kebenaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya? Apa dia akan marah?
Semua pertanyaan itu terus berputar di pikirannya, sebenarnya ia ingin menemui gadis itu, meminta maaf dan menjelaskan semuanya, tapi setumpuk pekerjaan yang tak kunjung usai membuatnya harus mencari waktu untuk melakukan itu.
Sebuah panggilan menyadarkan lamunannya, panggilan yang berasal dari atasannya itu segera ia angkat.
Ia tertegun sesaat setelah panggilan itu berakhir, tuan mudanya memintanya menjemput Alika.
Reihan menghela napasnya, sejujurnya ia belum siap bertemu dengan gadis itu, tapi ia juga tak mungkin membantah perintah tuan mudanya.
🌺🌺🌺🌺
Hari sudah beranjak sore dan disinilah Reihan berada, restoran tempatnya dulu bekerja.
Mau tak mau ia harus menjemput Alika seperti perintah tuan mudanya, kini hatinya sedang berdebar, wanita yang di tunggunya sudah terlihat keluar dari resto.
Alika terlihat kaget begitu mobil yang di kendarainya berhenti tepat di depannya.
Reihan keluar, ia menunduk sopan pada gadis itu dan memintanya untuk ikut dengannya, setelah menyebutkan nama Queenza dengan sukarela gadis itu masuk dalam mobilnya.
"Apa kau tak merasa harus menjelaskan sesuatu, Rei!" tohok gadis itu setelah beberapa saat mereka hanya saling terdiam.
"Saya adalah asisten tuan muda pramudza." Jawab Rei dengan memasang wajah datar.
"Lalu kenapa kau bisa bekerja di restoran?" tanya gadis itu lagi.
__ADS_1
"Tuan muda menugaskan saya untuk mencari informasi keberadaan adiknya yang hilang, dan menurut informasi yang saya dapat Anda adalah orang terdekatnya." Tuturnya masih memasang wajah sedatar mungkin.
"Jadi kau sengaja mendekatiku untuk menggali informasi tentang adik tuanmu itu? Begitukah Rei!" Hardik gadis itu. "Apa itu berarti semua kebaikanmu padaku itu palsu, dan kedekatan kita hanya alasan agar kau bisa mendapat info dariku?"
Ia tak mampu menjawab, hanya terus konsisten dengan wajah datarnya dan pokus pada jalanan.
Tak ada lagi pertanyaan dari wanita itu, keadaan sangat hening sampai di tempat yang mereka tuju.
Reihan turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Alika. "Terima kasih." Ucap gadis itu.
"Sama-sama, Nona. ini sudah menjadi tugas saya." ucapnya.
"Iya, ingatkan aku kalau apa yang kau lakukan padaku adalah tugas, tak lebih!" ucapnya sinis.
Reihan menatap punggung wanita yang kini berjalan menjauh bersama adik Tuan mudanya, ada sesak yang hadir kala gadis itu bersikap dingin padanya.
Namun, untuk saat ini ia belum bisa memikirkan tentang itu, amanah dari sang ayah untuk membantu tuannya belum selesai.
🌺🌺🌺🌺
Rega menyadarkan kepalanya di kursi kebesarannya, ia gelisah.
Sudah dua hari ini ia bolak-balik kerumah Alika dan juga resto tempatnya bekerja hanya untuk bertemu gadis itu.
Gila! Ini benar-benar gila! Bagaimana mungkin seorang Rega Arya Prakasa kelimpungan hanya karena seorang wanita.
Ia bahkan membual dengan dalih ingin bertemu dengan Diana di restoran itu, padahal ia ingin melihat Alika saat bekerja, sayangnya dua hari ini gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Kemana dia?" monolognya.
Dering telpon di meja kerja membuyarkan lamunannya,
__ADS_1
"Pak, ada Mama Anda ingin bertemu." Ucap sang sekertaris di sebrang telpon.
Rega menghela napasnya, " Suruh masuk saja." Ucapnya kemudian memutuskan sambungan telpon itu.
Benar saja, tak lama masuklah seorang wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda. Wanita itu duduk dengan elegan seraya menyapukan pandang ke seluruh ruangan itu.
"Mama gak nyangka ternyata perusahaan kalian bisa semaju ini." ucapnya bangga.
"Katakan saja ada urusan apa Mama datang kemari, jika Mama datang bertanya tentang rencana licik kalian, aku sudah bilang, aku tak ingin terlibat dengan permainan kotor kalian!" ucapnya.
"Kenapa kau bicara sekasar itu pada Mama, Nak? Kau benar-benar membuat Mama sedih melihat sikapmu." Ucap Mamanya.
"Walau bagaimanapun kami ini orang tuamu, sudah kewajibanmu membantu kami." Imbuh Mama dengan arogan.
Rega mendengus kesal, "Kewajiban? Kalian mengingatkanku tentang kewajiban seorang anak? Lalu apa kalian sudah sudah memenuhi kewajiban kalian sebagai orang tua?" ucapnya.
Rahang Rega mengeras sebab ia mengeratkan gigi, sebisa mungkin ia manahan emosinya agar tak meledak. Walau bagaimanapun Bunda Arini selalu mengingatkannya untuk tetap menghormati kedua orang tuanya.
"Apa yang tidak kami lakukan untukmu? Kami selalu memberikan fasilitas terbaik untukmu."
"Kewajiban orang tua bukan hanya memberikan uang dan fasilitas mewah, Mah!" ucapnya getir. "Tak selamanya kebahagiaan itu dinilai dengan uang!" Imbuhnya.
Mamanya mendengkus, "Jangan menceramahi Mama, Rega! Mama jauh lebih tau tentang kehidupan ini, tak akan ada yang mau memandang kita ketika kita miskin dan tak punya kekuasaan, dan Mama tak mau kembali ke masa itu!" ujarnya.
"Besok gadis itu akan datang. Mama tak mau tau, kau harus menemuinya!" ucap sang Mama.
"Aku sudah bilang, aku tak mau terlibat dengan permainan kalian!" tegasnya.
"Temui dia dulu, Mama yakin kau tak akan menyesal. Dia gadis yangcantik, tak akan ada ruginya jika kau menjalin hubungan dengannya." Bujuk Mamanya lagi. "Mama janji tak akan memaksamu jika kau tak menyukainya, tapi Mama mohon temui dia dulu."
Rega tak lagi mendebat ibunya, ia bersedia bertemu gadis itu dengan catatan orang tuanya tak akan memaksanya untuk menikah dengan gadis itu.
__ADS_1