
Hari sudah berganti, sudah dua hari ini Alika harus izin dari pekerjaannya karena luka di kakinya dan Za juga tak mengijinkannya untuk pergi bekerja.
Dua hari ini waktunya lebih banyak di habiskan di kamar pribadi yang disiapkan Raja di rumah ini, tapi hari Za tak bisa menemaninya di rumah.
Saat Alika terbangun dari tidurnya Ia meringis merasakan sakit dilututnya yang mulai terasa lagi.
Alika meraih ponsel diatas nakas lalu menyalakannya sebuah pesan muncul dilayar ponselnya.
pesan itu dari sepupunya-- Queenza.
📩 : "Maaf, Al. Mendadak Kakak mengajakku pergi! Dan aku tak ingin mengganggu istirahatmu untuk sekedar berpamitan.
Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa menelpon dengan telpon yang ada di sebelah lampu tidurmu. Tekan 1 untuk menyambungkan pada kepala pelayan.
Oh, Ya, obatmu kutaruh dilaci. Jangan segan menghubungiku kalau terjadi sesuatu yang mendesak."
Ia tersenyum membaca pesan panjang dari sepupunya, kemudian membalas dengan kata "ok" agar sepupunya itu tak menghawatirkannya.
Alika meraih telpon rumah dan menekan dial satu sesuai arahan Queenza, ia merasa sangat haus saat ini sementara kakinya masih terasa sakit jika dipaksa berjalan.
"Iya, Nona! Apa anda membutuhkan sesuatu?" Ucap suara di ujung telpon.
"Bisa tolong bawakan segelas air putih ke kamarku?"
"Baik Nona, segera saya bawakan."
"Terima kasih." Ucapnya lalu mengakhiri panggilan itu.
Ia kembali duduk disisi ranjang, namun keinginan untuk buang air kecil membuatnya memaksakan diri untuk turun dan berjalan tertatih menuju kamar mandi.
Baru saja ia menurunkan kakinya dan melangkah pelan, secara tak sengaja kakinya terantuk nakas disebelah tempat tidurnya.
"Awwwww" Keluhnya seraya meringis menahan sakit.
__ADS_1
"Astagaaa, kau kenapa?" Ucap lelaki yang baru masuk dengan panik. Lelaki itu menaruh nampan berisi air diatas nakas, lalu membantu nya kembali ke sisi tempat tidur.
"Kamu mau kemana, sih? Kenapa tidak minta tolong padaku?" ucap lelaki itu lagi.
"Aku mau ketoilet, tapi kakiku tersandung jadi jatuh." keluhnya.
"Ya sudah, ayo kubantu."
Alika tak bisa menolak saat lelaki itu memapahnya menuju kamar mandi. Lagi pula apa yang bisa dia lakukan, kakinya masih terasa ngilu jadi ia hanya bisa pasrah, ia juga menurut saat lelaki itu juga memapahnya dan mendudukkannya di sofa kamar.
"Makanlah! Kau belum makan dari tadi." Ucap lelaki yang tak lain adalah Reihan, dengan lembut.
"Terima kasih." Ucapnya.
Alika mengambil makanan yang di berikan oleh Reihan, dan mulai memakannya.
Reihan memperhatikan Alika, membuat gadis itu sedikit merasa tidak nyaman. "Kenapa, menatapku begitu?" Tanyanya berubah ketus.
Reihan hanya tersenyum, kemudian menggeleng. "Tak ada!" Jawabnya.
"Terima kasih," Lagi-lagi hanya itu yang terucap dari bibirnya membuat pria itu terkekeh kecil. "Kenapa tertawa?" Tanyanya.
"Kenapa kau terus berterima kasih, padaku? Bukankah di dalam persahabatan tidak ada kata terima kasih." Ucap Reihan menatapnya lembut.
Alika mendengus kesal. "Persahabatan?" becaknya. "Bukankah apa yang kau lakukan padaku selama ini, hanyalah sebatas melaksanakan tugas dari Tuan mudamu? Jadi persahabatan apa yang kau bicarakan?" Sindirnya dengan nada dingin. Entahlah tapi ia sungguh masih kesal pada lelaki didepannya ini.
"Apa kau tidak bisa memaafkanku, Alika?" Ucap Reihan, lelaki itu menatapnya sendu. "Tak bisakah hubungan kita membaik seperti dulu? Seperti sebelum kau tau jati diriku yang sebenarnya." Imbuhnya
"Aku tau kau kecewa padaku, karena aku pernah memanfaatkanmu untuk mengorek informasi tentang Queenza dan aku minta maaf untuk itu! Tapi tak bisakah kita kembali dekat seperti dulu? berteman lagi seperti saat pertama kita bertemu." Ucap Reihan penuh harap.
Alika membuang muka kesembarang arah, "Tak ada pertemanan yang benar-benar tulus diantara lelaki dan perempuan, Rei!" Ucapnya seraya tersenyum pahit, Ia menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Mereka bisa dekat hanya karena dua gak, perasaan atau unsur saling menguntungkan!" ucapnya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan pria itu? Apa yang mendasari kedekatan kalian? Perasaan atau unsur saling menguntungkan?!" Cibir Reihan membuatnya menatap lelaki itu.
"Pria mana yang kau maksud?" Tanyanya bingung.
"Pria mana lagi, tentu saja pria yang mengantarmu itu, Ada hubungan apa diantara kalian berdua?" tanya Rei lagi.
Alika menatap pria itu.
Apa yang dia maksud adalah Rega? Dan kenapa dia terlihat kesal begitu, Apa dia cemburu pada lelaki itu?
Alika bertanya-tanya dalam hatinya, tapi sesaat kemudian segera ia menggeleng menepis pikirannya.
Tidak Alika! Jangan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, jangan menyimpulkan sesuatu yang belum jelas!
"Alika, aku bertanya padamu?" tanya lelaki itu lagi.
"Emhh kenapa?" Jawabnya linglung.
"Apa hubunganmu dengan manager artis itu?" Tanya Reihan.
"Kurasa itu bukan urusanmu!" Jawabnya dingin.
"Tentu saja jadi urusanku, kau sepupu Nona mudaku, dan sudah menjadi tugasku untuk menyelidiki dan memastikan keamanan orang-orang disekitar Tuan dan Nona mudaku."
Alika tersenyum masam, "Ya! Kau melakukan itu karena tugas, harusnya aku tau." Terselip rasa kecewa dalam suaranya.
" Padahal aku sempat berharap kau bertanya karena cemburu, Rei! Cukup sudah aku tak mau berharap lagi padamu." Batin Alika.
"Hubunganku dengan Manager artis itu adalah urusan pribadiku, dan kau tak berhak ikut campur!" tegasnya.
Aku menyerah, Rei! mulai saat ini aku akan membunuh perasaanku padamu secara perlahan.
Tak ada lagi sanggahan dari pria di depannya keduanya diam, hening, hingga suara Alika memecah kesunyian itu.
__ADS_1
"Kalau kau sudah selesai, kau bisa keluar!" ucao gadis itu. "Dan tolong tutup pintunya."
Reihan menghela napas panjang sebelum beranjak dari tempatnya, ia keluar dari ruangan itu, semua telah berubah, harapannya untuk memperbaiki hubungannya dengan Alika musnah sudah.!