TERLANJUR JATUH CINTA

TERLANJUR JATUH CINTA
Drama Resleting


__ADS_3

Acara akad berlangsung dengan lancar, semua mata tak pernah lepas dari sosok mempelai wanita yang kini berjalan dengan anggun di temani Bunda dan Maminya.


Namun, agaknya itu tak berlaku bagi Rega. Karena, mata pemuda itu justru terpokus pada sosok cantik di belakang sang mempelai. Tangannya bahkan terulur untuk menarik gadis itu sesaat setelah mengantar sang sepupu untuk duduk di samping suaminya.


"Apa yang kau lakukan?" pekik gadis itu tertahan, saat Rega menariknya agar duduk bersama.


"Jika kau duduk di sini, kau bisa melihat semua prosesinya dari dekat, lagi pula bukankah akan lebih nyaman jika duduk di samping pria tampan sepertiku." Ucapnya percaya diri.


Si gadis hanya memutar bola matanya, tapi menuruti keinginannya untuk duduk di sampingnya, agaknya gadis itu juga tak punya pilihan yang lebih baik.


🌺🌺🌺🌺


Acara akad selesai, sesuai rencana sore nanti acara akan berlanjut dengan sebuah resepsi sederhana.


Para tamu yang hadir di persilahkan istirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan acara, Rega bergabung bersama keluarga besar Prasetya juga kedua orang tuanya.


Sejujurnya ia sedikit kesal pada sang Mama yang membawa serta gadis pilihan mereka dan mengenalkan gadis itu pada seluruh keluarga sebagai calon istrinya. Ia juga sangat risih karena gadis itu tak pernah mau melepas gamitan lengannya sepanjang acara.


Ingin rasanya ia berteriak menolak namun, gelengan pelan di sertai tatapan permohonan Bunda membuatnya mengurungkan niat, lagi pula ini acara pernikahan Inder, ia tak mau mengacaukan hari bahagia sahabat sekaligus saudaranya itu.


Senyumnya terbit saat melihat Alika berjalan menuju rumahnya, sepertinya gadis itu berniat mengganti kebaya yang di pakainya dengan gaun untuk resepsi.


Pria berhidung mancung itu tersenyum saat melihat gadis itu berjalan melewatinya, ingin rasanya ia mengejar gadis itu, tapi posisinya yang tengah berada bersama keluarga besar nya membuatnya harus memutar otak agar bisa melakukan keinginannya.


Kedatangan seorang pelayan yang membawa nampan minuman membuat otak pintarnya bekerja cepat, ia sengaja menjegal kaki pelayan itu hingga sedikit terhuyung kearahnya dan menumpahkan minuman tepat di jas mahalnya.


"Maafkan saya, Tuan." Ucap si pelayan gugup. "Sa-saya benar-benar tidak sengaja."


"Astaga! Bajumu jadi basah, Ga." Pekik gadis di sebelahnya. "Apa kau tidak punya mata, hah? Kenapa begitu ceroboh!" Bentak gadis itu menatap marah pada pelayan.


"Jangan buat keributan hanya karena masalah sepele seperti ini." Geram Rega pada gadis itu. Ia lalu menatap ramah pada pelayan yang kini tertunduk takut. "Tidak apa-apa, kau bisa pergi." Ucapnya, membuat pelayan itu pamit undur diri setelah kembali mengucapkan permohonan maaf atas kecerobohannya.


"Sepertinya aku harus mengganti pakaianku dulu." Ucapnya.


"Biar ku antar!" Ucap Thalia, membuat Rega menatapnya tajam.


"Kau akan mengantar Rega mengganti pakaiannya?" cibir Ivana, sepertinya gadis yang tengah berbadan dua itu sudah memahami keinginan lelaki yang sudah seperti saudaranya itu.


"Memangnya kenapa?"


"Apa kau tidak merasa malu? Mungkin kalian memang di jodohkan, tapi kaliankan belum halal, bagimu mungkin hal yang biasa, tapi bagi kami yang menganut adat ketimuran, akan terlihat seperti kau seorang wanita murahan." Tutur wanita itu, membuat kedua bola mata Thalia membulat.

__ADS_1


Mau tidak mau, Thalia membiarkan Rega pergi, meski sejujurnya ada sesuatu yang begitu mengganggu pikirannya dari tadi.


🌺🌺🌺🌺


Sementara itu Alika sudah mengenakan gaun cantik yang sengaja ia beli untuk menghadiri pernikahan sepupunya, meski pihak W.O sudah menyediakan gaun untuknya ia tetap bersikeras untuk memakai gaun miliknya sendiri.


Hanya tinggal menaikan resletingnya dan merapikan sedikit riasannya maka ia sudah siap untuk kembali ke pesta pernikahan Za.


"Uhh susah banget sih." Keluhnya saat resleting gaun yang di kenakannya mendadak macet dan tak mau bergerak naik.


Berulang kali mencoba, berulang kali pula ia gagal, hingga membuatnya menyerah dan memutuskan menelpon ibunya untuk meminta bantuan.


Baru akan menekan angka suara handle pintu yang terbuka membuatnya sedikit panik, segera ia meraih handuk untuk menutupi punggungnya yang masih terbuka.


"Maaf, aku tidak tahu kalau kau ada di dalam." Ucap pria yang baru saja datang.


"Ti... tidak apa-apa pak." Ucapnya gugup. "Lagipula saya juga baru saja akan keluar." Sambungnya, seraya melangkah melewati pria itu.


"Kau mau kemana? Kenapa pakai handuk begitu?" tanya Rega dengan kening berkerut.


"Emhh anu, saya harus ke rumah Za, untuk bertemu Ibu." Jawabnya.


"Handuk nya gak di lepas? Di sana ada banyak tamu, akan sangat aneh kalau kamu kesana dengan handuk di bahu kamu."


"Kenapa?"


Bisa gak sih kita akhiri saja tanya jawab ini. Batin Alika.


" Kenapa?" Rega mengulang pertanyaannya.


"Karena... resleting gaun saya masih terbuka yang memperlihatkan sebagian besar punggung saya." Ucapnya malu-malu. "Itu sebabnya saya harus meminta bantuan ibu saya."


"Hempt!" Rega menahan tawanya.


"Apa kau sedang menertawakanku?" ketus Alika.


"Karena kau sangat lucu!" jawab pria itu, "Kau tak harus menemui ibumu hanya untuk masalah kecil seperti itu."


"Maksudmu?"


"Bukankah ada aku di sini?" ucap Rega membuat Alika menatapnya. "Berbaliklah biar aku membantumu."

__ADS_1


"Ti-tidak usah! Biar aku telpon ibu saja." tolaknya. Ia hendak melangkah tapi pria itu menarik tangannya lembut dan membalikan badannya perlahan.


Alika menurut, otaknya menyuruhnya pergi tapi tubuhnya mematung dan mengikuti apa yang di perintahkan lelaki itu.


"Tak perlu merepotkan ibumu hanya untuk masalah kecil begini, di sana ada banyak tamu, mereka bisa menertwakanmu kalau kau kesana dengan keadaan seperti ini." Ucap lelaki itu lembut, sambil menyingkap handuk dari bahunya.


Alika hanya diam, merasakan bagian belakang pakaiannnya mulai sedikit di tarik, sepertinya lelaki itu sedang berusaha menaikan resleting gaunnya.


Sementara di belakangnya Rega menelan ludahnya kasar, baru kali ini tubuhnya berdesir hebat, dan jantungnya berdebar kencang hanya karna melihat punggung seorang wanita, padahal ini bukan yang pertama kali untuknya.


Apalagi ketika ia menyibak rambut panjang Alika ke depan membuat punggung mulus itu semakin terlihat jelas, tangannya bahkan gemetar saat tak sengaja menyentuh kulit punggung gadis itu.


"Sory!" ucapnya, dan si wanita hanya mengangguk pelan.


Gila! Tangan gue sampai gemetar begini!. Pekiknya dalam hati.


Come on Rega! Jangan bikin malu, seperti gak pernah menyentuh wanita saja!


Perlahan akhirnya ia berhasil juga menaikan resleting gaun gadis itu, " Selesai!" Ucapnya.


Sekuat tenaga ia terlihat biasa saja saat gadis itu berbalik dengan gugup.


"Terima kasih, Pak!" ucap Alika sembari tersenyum manis.


"Sama-sama." ucapnya santai meski jantungnya tengah bertabuh.


"Kalau begitu, saya permisi keluar." Ucap wanita itu.


Rega hanya mengangguk, tapi ekor matanya menatap kepergian gadis itu hingga hilang di balik pintu.


Huhhhh. Rega menghembuskan napas lega, sepertinya berduaan dengan gadis itu tak baik untuk jantungnya saat ini.


🌺🌺🌺🌺


Assalamualaikum, bagaimana kabarnya semua😊 Maaf baru bisa di lanjut.


Badanku drop kemarin, hampir dua minggu, di kasih nikmat sama Allah, mulai dari kepala, gigi sampai kaki nyeri semua😊


Alhamdulillah sekarang udah bisa di ajak buat nulis lagi, semoga masih ada yang stay ya di sini😊 Insya allah kedepannya rajin up lagi, sehat-sehat ya semua, jaga kesehatan karena cuaca juga lagi gak bersahabat.


Lov U All😘😘

__ADS_1


Wassalammualaikum😘


__ADS_2