Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
Dejavu


__ADS_3

Bella terus menggigil kedinginan di dalam selimut, dirinya juga sudah mulai bersin-bersin. Dia paling tidak bisa terkena air hujan, jika sampai kehujanan badannya akan menggigil, dan terus bersin sampai tubuhnya kembali merasa hangat.


"Huuuachiiimmm....huuaaacchiiiimm....Ya Tuhan, dingin sekali," gumam Bella di dalam selimut.


"Bel, apa masih terasa dingin?" Jhon yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa khawatir melihat Bella kedinginan.


Bella mengangguk, "Iya, huuuachiimm...dingin banget."


"Lalu aku harus bagaimana supaya kamu tidak kedinginan?" Jhon bingung, dia juga sama kedinginan namun tidak separah Bella.


"Aku tidak tahu, huuacchiimmm."


Jhon berjalan menghampiri Bella dan duduk di belakangnya, tangannya memeriksa dahi Bella. "Astaga! Kamu panas sekali. Buka selimutnya!" tiba-tiba saja Jhon berkata seperti itu.


"Ngapain harus buka selimut?" tanya Bella mengernyit bingung.


"Buka dulu! nanti kamu juga tahu."


Bella pun menurutinya. "Dingin, Jhon." Ucap Bella tambah menggigil saat selimutnya di buka.


Tanpa berkata apa, Jhon membuka kaosnya dan secara perlahan memeluk Bella dari belakang lalu tangannya memegang kedua tangan Bella.


"Jhon..!" ucap Bella terkejut.


"Supaya kamu lebih hangat." Jhon kembali menaikan selimutnya menutupi tubuh keduanya sehingga mereka berdua berpelukan dalam posisi duduk lebih tepatnya Bella di peluk dari belakang.


Lama kelamaan pelukan Jhon semakin erat di kala sesuatu mulai merasuki. "Bella."


"Hmmm."


"Masih dinginkah?" tanyanya sambil menelusupkan wajahnya keceruk leher Bella.


"Masih, aku paling tidak bisa terkena air hujan. Kalau sampai kehujanan, tubuhku akan menggigil, bersin-bersin, dan badanku panas, huuuachiimm."


"Aku punya cara supaya kamu tidak kedinginan lagi."

__ADS_1


"Cara apa?" tanya Bella mendongak.


Jhon menatap mata Bella dan langsung saja dia menempelkan benda kenyal milik mereka. Jhon memperlakukan Bella sangat lembut sehingga membuat Bella terbuai.


Keduanya dengan sadar melakukan hubungan badan di suasana yang sangat dingin akibat hujan deras bercampur petir sampai beberapa kali.


Bella melupakan sesuatu kalau dia sekarang tidak meminum pil kontrasepsi setelah keluar dari dunia malamnya. Bella tidak sampai kepikiran kalau benih dari Jhon akan bersemayam di rahimnya.


Jhon Ambruk di pelukan Bella, napasnya masih ngos-ngosan akibat kelelahan, dan untuk ke sekian kalinya dia meletuskan tembakan ke dalam gua. Bella yang mengalungkan lengannya memeluk erat Jhon dan berbisik pelan di dekat telinga Jhon.


"Aku mencintaimu, Jhon. Biarlah ini menjadi kenangan terakhir kita sebelum aku menikah. Mulai saat ini aku akan melupakanmu dan melupakan perasaanku padamu." Lirih Bella meneteskan air mata.


Perkataan Bella masih di dengar oleh Jhon, namun pria itu tidak menjawab dan malah tertidur di atas tubuh Bella saking lelahnya.


Jhon mulai terbangun dari tidurnya, dan menatap sekeliling. "Jadi semalam aku dan Bella melakukannya." Batin Jhon saat netra matanya melihat Bella sedang duduk menyisir rambut basahnya.


Jhon bangun dan duduk menyenderkan tubuhnya ke sandaran ranjang.


"Selamat pagi, Jhon." Bella menyapa dan tersenyum seperti tidak terjadi apapun.


"Iya, kita memang melakukannya. Tapi, lupakan yang terjadi! Seharusnya kita tidak melakukannya. Apa yang kita lakukan salah." Bella membalikan perkataan yang dulu Jhon sempat bilang kepadanya.


Jhon mematung, hatinya berkata, "Melupakannya setelah apa yang terjadi semalam?"


"Aku harus pergi sebab Nenek dari calon suamiku sudah menelpon. Soalnya kami harus mencari cincin pernikahan hari ini juga." Bella mengambil tasnya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Jhon yang mematung.


"Lupakan yang terjadi, apa yang kita lakukan salah." Jhon merasa dejavu dengan kata-kata itu. Dulu ia pernah bicara begitu saat terbangun dari tidurnya dan meninggalkan Bella begitu saja. Sekarang dia merasakannya dan hatinya mendadak sakit mendengar Bella berkata seperti itu juga.


Jhon mengacak-acak rambutnya lalu berlalu ke kamar mandi.


****


Sejak kejadian itu Bella jarang bertemu dengan Jhon, lebih tepatnya menghindari Jhon.


Jhon Sendiri bingung dengan perubahan Bella, wanita yang tadinya sering bermanja, sering banyak bicara kini telah menjauhi dirinya. Satu bulan lamanya Bella terus menghindar, bahkan selalu dingin dan tak menyapa meski sedang berpas-pasan.

__ADS_1


"Aaaaa kenapa gue memikirkan Bella terus? Dulu gue sempat bilang lupakan yang terjadi, kenapa sekarang gue yang tidak bisa melupakan apa yang terjadi di pantai." Jhon murung, ia menelungkupkan wajahnya ke lipatan tangan yang ada di atas meja kerja.


"Jhon," panggil seorang wanita dan Jhon mendongak.


"Tiara, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengobrol saja denganmu." Tiara mendekat ke samping, dia pura-pura merapikan pakaian Jhon.


"Bajumu kusut sekali, aku rapikan ya." Tiara berusaha membenarkan dasinya.


"Tidak perlu..! Aku bisa sendiri." Jhon menepis tangan Tiara dan mendorong tubuh Tiara supaya menjauh darinya. Ia merasa risih akan sikap sekertaris Mahendra itu.


Bukannya menjauh, Tiara malah sengaja pura-pura jatuh dan menarik tangan Jhon kedepan saat melihat seseorang memutar gagang pintu ruangan kerja. Keduanya jatuh kebawa dengan posisi Jhon berada di atas menindih tubuh Tiara. Jhon terbelalak kaget ketika ucapan Tiara begitu ambigu.


"Ah Jhon sakit pelan-pelan." Tiara sengaja mengeraskan suaranya supaya terdengar oleh orang itu. Dan dia juga sengaja mengalungkan lengannya di leher Jhon menahan kepalanya untuk tetap berada di ceruk leher dia.


Bella menahan sesak di dada, dan membayangkan apa yang sedang terjadi di balik meja kerja Jhon. Bella berniat menemuinya untuk memberikan undangan pernikahan, namun dia malah di suguhkan oleh kenyataan yang begitu menyakitkan.


"Tiara..! jangan berisik seperti itu! Nanti kedengaran orang lain!" Jhon berusaha melepaskan cekalan Tiara dari lehernya.


"Ah..Jhon." Tiara sengaja membuat lenguhan merdu.


"Jhon...!" bibir Bella bergetar, matanya berkaca-kaca, ternyata ia masih memiliki perasaan terhadap pria itu. Bella berusaha kuat dan berusaha menyembunyikan keterkejutannya melihat pemandangan itu.


Tiara segera melepaskan tangannya dan juga Jhon mendongak, matanya melotot sempurna melihat Bella berada di hadapannya dan dia melihat ke bawah ada Tiara di bawah kungkungannya. Segera dia bangkit dan menjauhkan tubuhnya dari Tiara.


"Bella...! Ini tidak seperti yang kamu lihat." Jhon gelagapan, hatinya tidak tenang dan takut Bella salah faham.


"Tidak perlu kamu menjelaskan apapun, aku ke sini untuk memberikan ini." Bella menaruh undangan pernikahannya di atas meja. "Maaf sudah mengganggu aktivitas kalian, silahkan lanjutkan lagi!" jawab Bella dingin dan menatap sinis Tiara.


Diapun pergi dengan hati yang semakin terluka. Dalam setiap langkahnya air mata terus berjatuhan. "Kenapa perasaan itu masih ada? kenapa aku tidak bisa melupakannya, Tuhan?" batin Bella berlari secepat mungkin menghindari kejaran Jhon.


"Bel, Bella..." Jhon mengejar Bella.


"Hahaha, aku puas melihat kehancuran kalian." Gumam Tiara menyeringai menatap undangan dari Bella. "Akan ku pastikan kau dan Elsa menderita." Ucap Tiara penuh dendam.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2