
Berhubung Bella menerima lamarannya, maka tanggal pernikahan pun mulai di rencanakan. Keputusan pun di tentukan oleh Elsa jika pernikahan Nando dan Bella akan di gelar satu bulan lagi. Pas di laksanakan ketika hari libur sekolah supaya tidak mengganggu aktivitas anak-anak dalam belajar.
Keputusan Nando dan Bella menikah membuat Hasna dan Devano bahagia. Kini harapan terakhir Papanya telah mereka wujudkan.
"Ayah, Hasna harap Ayah jangan menyakiti Mama. Sayangi Mama, bahagiakan Mama, jangan buat Mama menangis selain menangis bahagia," ucap Hasna sudah berada di dalam mobil menuju sekolahnya.
Nando dan anak-anak berangkat bareng, sedangkan Bella dan Ferdi di antar sopir.
"Ayah akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan kalian semua dengan cara Ayah sendiri."
"Devano juga minta supaya Ayah Nando tidak merespon wanita lain yang mendekati Ayah. Jangan pula terlalu baik pada wanita single. Takutnya mereka baper. Ayah juga jangan terlalu mudah percaya pada orang-orang di sekitar termasuk para pekerja perkebunan," sahut Devano memperingati. Devan mendengar cerita satpam sekolah ketika mobil Nando di tabrak seorang perempuan. Devan juga mengecek cctv bareng satpam itu yang ternyata si wanitanya lah yang sengaja menabrakkan diri.
"Iya, Ayah tahu maksud perkataanmu. Ayah tidak sebodoh itu, Devan. Kamu tenang saja, ayah sudah belajar dari masalalu sehingga membuat Ayah selalu waspada dan menaruh orang-orang kepercayaan kita di tempat yang berbeda."
"Bagus, Devan suka itu."
Nando tersenyum. [ Sifatmu seperti Alex. Tegas, tidak mudah percaya, selalu waspada, pintar dalam segala hal. Next, Alex Ramadanu selanjutnya. Devano Ramadanu. ]
Setelah beberapa saat, mereka tiba di sekolah. Hasna dan Devano turun duluan mengendap-endap takut ketahuan orang.
Tapi, tetap saja selalu ada yang menatap iri mereka yaitu Devi, si anak yang tidak menyukai Hasna. "Hasna, tidak akan ku biarkan calon Papaku kau dekati. Kau harus keluar dari sekolah ini karena kau penggangguku."
Devi berjalan ke arah murid-murid yang sedang berkumpul. "Hei, ada berita baru. Kalian mau tidak? ini mengenai Hasna dan guru baru itu."
"Pak Nando maksudmu?" tanya mereka dan diangguki oleh Devi.
"Berita apaan emangnya?" Jika menyangkut guru baru, mereka langsung semangat. Bagaimana tidak, pak Nando sudah menjadi guru idola mereka. Kebaikannya, keramahannya, pesonanya membuat para murid cewek mengidolakan Pak Nando dan ada sebagian orang berharap menjadikannya Papa sambung.
"Kalian tahu, Hasna selalu berusaha mendekati Pak Nando. Bahkan, dia berusaha menggodanya. Entah untuk di jadikannya Papa sambung atau menjadi sugar Daddy nya aku belum tahu. Tapi, aku sering lihat kalau Hasna selalu mendekati Pak Nando duluan. Sering peluk-peluk gitu. Kan aneh ya, masa murid dan guru bisa seperti itu? coba kalian pikir, Pak Nando tampan, baik, mapan, bisa saja Hasna berusaha menggodanya."
"Masa sih Hasna seperti itu? setahuku dia tidak seperti itu." Sebagian orang tidak percaya. Namun sebagian lagi ada yang mulai termakan omongan Devi.
"Di depannya saja dia polos tapi di belakang kita sungguh liar. Kalian tahu, Pak Nando itu calon suami Ibuku. Apalagi namanya kalau Hasna wanita kegatelan," kompor Devi.
__ADS_1
"Kata siapa Pak Nando calon suami Ibumu? mana buktinya."
"Ok, aku akan kasih buktinya." Devi mengambil ponsel menunjukan foto Nando dan Riska ketika sedang saling merangkul. Padahal itu foto di ambil saat Nando memapah Riska berniat menolongnya. Foto itu di edit sedemikian rupa agar terlihat seperti saling berpelukan mesra.
"Ini benar Pak Nando. Dari foto terlihat sekali mereka begitu mesra."
"Wah berarti Hasna berusaha menggoda Pak Nando kalau begitu ceritanya."
Mereka mulai percaya akan gosip yang di sebarkan Devi. Devi menyeringai, [ Sebentar lagi kau akan di keluarkan dari sekolah ini karena sudah mencoreng nama baik sekolah. ]
Berita itu mulai menyebar ke seluruh area sekolah. Hampir semua murid SMP membicarakan Hasna yang selalu berusaha menggoda Pak Nando. Bahkan, berita itu mulai terdengar ketelinga anak-anak SD terutama Devano dan Zahra.
"Kak, ada kabar miring, mereka membicarakan Kak Hasna, menuduhnya menggoda Om Nando."
"Kakak juga tahu, Zahra. Entah siapa yang sudah menyebarkan berita hoax ini tapi yang pasti, Kak Hasna sekarang sedang di fitnah. Kita ke kelas kak Hasna." Devano dan Zahra bergegas pergi ke sekolah bagian SMP.
"Kok aku merasa mereka sedang menatap benci kamu ya, Na?" ujar Riri berjalan menuju kantin bareng Hasna.
"Aku juga bingung. Mereka seperti sedang membicarakan ku. Tapi apa?" Hasna pun memperhatikan mereka.
"Devano, Zahra, ada apa kalian ke wilayah SMP?" tanya Hasna.
"Ada berita miring mengenai Kakak. Kita bicara di taman saja." Ajak Devan menarik tangan Kakaknya di ikuti oleh Riri dan Zahra.
"Berita apa, Van?" tanya Hasna sudah duduk di taman sekolah.
"Mereka membicarakan Kakak dan menuduh Kakak menggoda Ayah Nando, Pak Nando."
"Apa?! Ayah Nando? maksud kalian Pak Nando guru kita?" pekik Riri.
"Ssttt... Riri, jangan berisik!"
"Maaf, tapi aku bingung kenapa Devano memanggil Pak Nando Ayah."
__ADS_1
"Karena Pak Nando Ayah kandungnya Kak Hasna. Kak Devano dan Kak Hasna satu Ibu beda Ayah," jelas Zahra menimpali.
"Zahra..." Hasna menggeram kesal adik sepupunya membongkar siapa dirinya.
"Zahra benar, Kak. Mungkin sekarang waktunya mereka harus tahu kalau Kak Hasna anaknya Ayah Nando. Jangan biarkan berita miring itu semakin simpang siur dan membuat Kak Hasna di keluarkan oleh sekolah."
Riri tentu terkejut mengetahui faktanya. Setahu dia Hasna anaknya Alex.
"Eh Kak, ngapain sekolah ngeluarin Kak Hasna? toh pemiliknya juga Om Nando, Ayah kandung Kak Hasna sendiri. Justru, mereka yang menyebarkan berita hoax yang akan kena hukuman."
"Apa?! Pak Nando pemilik sekolah ini? aku tidak mimpi kan? aku berteman dengan orang kaya."
"Ini bukan waktunya mengurusi keterkejutan Kak Riri. Sekarang, kita harus bicara sama Pak Nando langsung. Ayo Kak?" ajak Devan sudah berdiri mengulurkan tangannya.
Hasna mendongak menatap Devano, adik yang selalu berdiri paling depan membela dirinya mati-matian dari orang-orang yang ingin berbuat jahat kepadanya dan kepada keluarganya. Hasna menerima uluran tangan Devan. Jika adiknya siap maka dia harus lebih siap.
********
Ruang guru
"Wah, saya beneran tidak percaya kalau Hasna wanita seperti itu. Sudah kecil sudah menjadi pelakor berusaha menggoda gurunya sendiri."
"Ini tidak bisa di biarkan, kepala sekolah harus segera bertindak. Kalau di diamkan sekolah ini akan tercemar."
"Eh, itu pak Nando."
Nando berjalan ke ruangan guru. Dia belum mendengar perihal Hasna.
"Pak Nando."
Nando menoleh, "Iya."
"Pak, apa benar murid teladan sekolah kita Hasna sedang berusaha menggoda Bapak? kalau benar harus laporkan ke pihak sekolah, Pak."
__ADS_1
"Hasna? menggoda saya?"