
"Mama, kenapa putriku bisa masuk ruangan Operasi?" Bella sedikit berlari menggunakan tongkat menuju ke ruangan tunggu operasi. Dia langsung bertanya meski tempat duduk masih jauh.
Dengan setianya Alex berada di belakang Bella takut wanitanya jatuh tersandung. Kalau Nando, ia lebih memilih jalan duluan daripada berada di belakang dekat Alex.
Alex menuntun Bella untuk duduk di dekat Elsa, dia sendiri berdiri menyenderkan punggungnya ke dinding memasukan kedua lengannya ke dalam saku.
Kalau Nando sudah lebih dulu duduk di samping dekat Dimas. Dia sama sekali tidak ingin melihat rivalnya itu. Baginya, Alex sebuah hama yang akan terus menempel kemanapun Bella pergi
Elsa menggenggam tangan sang putri. "Putrimu akan segera sembuh, Nak. Hasna sudah mendapatkan pendonornya. Hasna sudah tidak akan lagi merasa kesakitan lagi. Sekarang dokter sedang berjuang untuk menyembuhkan putrimu," kata Elsa menangis terharu menatap wajah sang putri.
Ucapan Elsa bagaikan angin segar di siang hari. Hati Bella terasa lega mendengar putrinya akan sembuh begitupun dengan Alex dan Nando.
"Benarkah, Mah?! Hasna sudah mendapatkan donor sumsum tulang belakang? benarkah putriku akan sembuh?" tanya Bella memastikan kembali pendengarannya. Tangis bahagia meluncur deras dari matanya membasahi pipi putih dan pucat itu.
"Iya, sayang. Hasna akan sembuh," imbuh Elsa memeluk Bella.
Setelah sekian lama menunggu, pintu ruangan operasi terbuka. Para dokter yang menangani Hasna juga ikut keluar.
"Tolong bawa pasien nya ke ruangan rawat inap, sus!" titah seorang dokter laki-laki.
Elsa, dan lainya segera mendekat, kalau Bella masih duduk sebab ia tidak tahu siapa yang keluar cuman telinganya terus mendengarkan. Dan ia ikutan berdiri ketika nama putrinya di sebut.
"Dok bagaimana keadaan cucuku, Hasna?"
"Operasi transplantasi sumsum tulang belakang nya berhasil. Sekarang cucu Ibu sedang dalam masa pemulihan."
Lega, senang, beban yang sempat ada di pikiran mereka terasa plong. Bella sontak langsung memeluk tubuh Alex, ia menangis bahagia putrinya bisa terselamatkan. Bella bisa mengetahui itu Alex dari wangi parfum yang di kenakan Alex.
"Hasna, Lex...putriku akan sembuh, aku bahagia dia tidak akan merasakan sakit lagi. Dia akan kembali normal seperti biasanya, Lex." Tangis Bella pecah di pelukan Alex. Hanya laki-laki ini yang sering menjadi sandarannya selain sang Mama.
Alex membalas pelukan Bella, mengusap pucuk kepala dan punggung Bella secara bergantian. Dia tidak bicara apapun hanya sebuah pelukan hangat yang ia salurkan untuk menenangkan dan memberikan sandaran terbaiknya untuk Bella.
Nando yang melihat pemandangan itu mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Kalau ia tidak ingat ada di mana, mungkin Alex sudah ia hajar.
Dan keluar lagi satu brangkar yang membuat Elsa, Nando, dan Lex tercengang. Dia atasnya terbaring seorang wanita yang ia kenal.
__ADS_1
"Calista..!"
"Kenapa dia yang jadi pendonor? bukan kah ia bilang tidak cocok?" batin Nando bingun dan penasaran.
Calista tersenyum melihat mereka. Ia ikut senang bisa membantu menyelamatkan keponakannya. Matanya tak lepas dari pria yang berdiri dekat tempat duduk, "Dimas," batinnya.
Dimas juga menatap Calista, dia tersenyum tulus dan mengucapkan kata 'terima kasih' pelan tak terdengar.
******
Dengan sangat antusias dan senyuman tak pernah pudar, Bella memangku tubuh mungil putrinya tak ingin sedikitpun beranjak jauh dari Hasna.
Hanya tinggal menunggu pemulihan, Hasna dapat di perbolehkan pulang.
"Sayang, apa kamu lapar? Mama suapi lagi ya."
"Sudah cukup, Mah. Aku udah kenyang dari tadi Mama suapin terus," jawab Hasna sambil memainkan boneka pemberian Alex.
"Lalu kamu mau apa? mau minum?" Bella tak hentinya menawarkan apapun untuk sang putri.
Elsa, Alex dan Nando tersenyum melihat keceriaan yang Hasna tunjukan. Mereka begitu bersyukur bisa melihat tingkah menggemaskan dari gadis kecil berusia 4,5 tahun itu.
"Mama, apa sekarang Ayah akan tinggal bareng kita?" tanya Hasna mendongak ingin melihat raut wajah sang Mama dan ingin mendengarkan jawaban Bella.
"Sayang, emangnya kamu mau Ayah sama Mama tinggal bersama?" tanya Elsa duduk di samping Bella.
"Emangnya boleh?" Hasna bertanya kembali menatap mata Elsa penuh harap.
Elsa dan Bella bingung harus menjawab apa, kalau Nando, ia sudah tersenyum bahwa dia akan bisa menjaga dua orang yang ia sayangi.
Sedangkan Alex, pria macho berahang tegas itu diam duduk di sofa ikut menyimak pembicaraan mereka. Hatinya tidak ingin melepaskan Bella, namun ia tidak tega melihat Hasna yang mengharapkan kedua orang tuanya bersama.
Alex terus melihat arloji nya, ia harus segera ke bandara kalau terlambat ia akan ketinggalan pesawat.
"Kalau gitu, Ayah, Mama, dan Hasna akan tinggal bersama selamanya. Apa Hasna mau?" tanya Nando berdiri di hadapan Hasna. Ketiganya seolah melupakan masih ada Alex di sana.
__ADS_1
"Mau..."
Dada Alex sesak, ia tidak ingin merusak kebahagiaan gadis kecil tak berdosa itu. Biarlah dia yang mundur asalkan Hasna dan Bella bahagia. Alex yakin Nando akan berusaha membahagiakan Bella.
Sebelum Hasna melanjutkan ucapannya, Alex memotong terlebih dulu. "Tante, Bella, aku pamit dulu," tuturnya berdiri dari duduk.
"Alex, kami sampai lupa masih ada kamu di sini. Kamu mau kemana?" tanya Elsa turun dari ranjang Hasna.
"Aku harus ke kota J hari ini juga. Aku tak bisa lama-lama di sini."
Bella tertegun, "Kamu mau ninggalin aku dan Hasna?" lirih Bella bergetar menahan tangis.
"Ada Nando yang akan selalu bersama kamu. Aku pamit, Bee." Alex mulai berjalan keluar ruangan.
"Alex...! tunggu...!" pekik Bella ingin turun namun di cegah oleh Nando
"Apa kamu tidak ingin melihat Hasna bahagia? dia sangat berharap kita bersama dalam satu atap," ucap Nando mencegah.
Hasna menatap lekat-lekat wajah sang Mama, "Mah, aku mau kita bersama. Bersama dalam artian Ayah tidak akan pergi jauh lagi. Tapi, aku juga ingin Papa ada bersama kita dan aku berharap Papa bisa tinggal bareng kita selamanya. Hanya Papa lah yang bisa bikin Mama tersenyum bahagia," kata Hasna melanjutkan ucapan yang sempat tertunda.
Nando tertegun, dia sudah percaya diri kalau Hasna benar-benar menginginkannya tinggal bersama dalam artian satu atap selamanya. Tapi....
"Hasna.... apa kamu mau Papa Alex tinggal di rumah kita?" tanya Bella meneteskan air mata haru.
"Iya, Mah. Aku tidak ingin kehilangan Papa terbaikku," jawab Hasna yakin.
Bella langsung memeluk putrinya memberikan kecupan di setiap wajah. "Terima kasih, sayang. Terima kasih." Bella menurunkan Hasna dari pangkuannya ke pinggir bibir ranjang.
Dia mencari tongkat, berdiri tegak dan tergesa mengejar Alex sesekali tangan dan tongkatnya terus mencapa mencari jalan keluar.
"Bella.." Nando mencekal pergelangan tangan Bella. Namun di hempaskan secara kasar olehnya.
"Alex, tunggu...!! Jangan pergi, Alex...!!" pekik Bella berharap Alex belum jauh.
Bersambung....
__ADS_1