Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Menginap )


__ADS_3

"Ayah," pekik Hasna menuruni tangga menghampiri Nando. Nando tersenyum melihat Hasna dan Devan berjalan beriringan.


Dia berdiri menyambut uluran tangan Hasna kemudian memeluk anak gadisnya sesekali mengecup puncuk kepala. Nando juga melihat Devan kemudian beralih memeluk anak laki-laki itu.


"Berhubung besok hari Sabtu, lusa Minggu, Ayah ingin mengajak Hasna menginap di rumah Ayah." Ajak Nando.


"Hasna sih mau, tapi Hasna tidak tega ninggalin Mama." Gadis remaja itu sangat merindukan momen kebersamaan dengan Ayahnya tapi Hasna juga tidak ingin mengecewakan Mamanya, dan adik-adiknya. Hasna berpikir, jika dia menerima ajakan Nando akan membuat sedih Devano dan Ferdi.


"Kalau kamu ingin ikut, ikut saja. Mama tidak apa-apa, sayang." Sahut Bella mendengar pembicaraan mereka sembari berjalan ke dapur membuatkan minuman. Elsa sedang berada di toko baju sehingga tidak ada yang membuatkan minuman.


"Bagaimana, kamu mau ikut ke rumah Ayah? Devano dan Ferdi juga boleh ikut," tanya Nando kepada putrinya meminta persetujuan.


"Kamu mau ikut gak, Van?" tanya Hasna pada Devan yang sedang asik makan cemilan.


"Aku sih terserah Mama saja, Kak. Kalau Mama izinin aku ikut, kalau tidak tidak akan. Aku juga ingin tahu rumah Ayah Nando di mana?" kata Devan tak menampik ajakan Nando. Dia juga ikutan manggil Ayah atas saran almarhum Papanya. Walau bagaimanapun, Nando adalah Ayah kandung Kakaknya dan Devan harus menghargainya.


"Mama tidak melarang kalian asalkan kalian bisa mengatur waktu tidur, belajar, bermain, dan jangan lupa shalatnya di jaga." Sahut Bella membawakan segelas minuman beserta cemilannya lalu di simpan di atas meja. Bella juga ikut duduk di dekat Devan. Nando memperhatikan Bella.


"Emangnya Mama tidak apa-apa?" Hasna memastikan lagi dan di angguki oleh Devan sembari mengunyah.


"Sayang, Ayahmu juga berhak atas dirimu karena ada darahnya yang mengalir di tubuhmu. Berhubung Ayahmu tidak sesibuk kemarin-kemarin sampai tidak pulang ke Indonesia, sekarang kamu bisa menghabiskan waktu bersamanya." Kata Bella tersenyum teduh dengan suara selembut mungkin. Namun tetap, ada yang merasa tersindir oleh ucapannya, Nando.


"Aku juga mau ikut ya, Mah." Timpal Devan sekalian meminta izin. Bella tersenyum kemudian mengangguk mengiakan.


[ Selama itu bisa membuat kalian bahagia dan melupakan kesedian, Mama izinkan kalian bersenang-senang ] begitulah pikirannya Bella.


[ Bella, jangan senyum seperti itu! Hatiku meleleh, sayang. Aiishhh... ] desis Nando tak bisa melepaskan pandangannya dari keindahan nyata di depan mata.


"Makasih, Mah. Hasna janji tidak akan nakal."


"Devan pun janji akan menjadi anak baik. Eh, enggak janji deh, tapi akan membuktikannya. Kalau janiii takutnya di ingkari. Tapi bukti sudah pasti di tepati."


"Hasna pun sana seperti Devan, Mah. Lebih baik bukti daripada janji namun palsu," timpal Hasna.


"Kakak-kakak mau kemana emangnya!" sahut Ferdi sehabis pulang bermain di rumah temannya. "Eh, ada Om yang mengintipi Mama. Bagaimana, apa matanya tidak bintitan?" celetuk Ferdi tersenyum usil sembari duduk di pangkuan Bella.

__ADS_1


Nando yang di lontarkan pertanyaan itu menduduk malu.


"Ferdi.." tegur Bella lembut.


"Maaf, Mah. Kakak mau kemana?"


"Mau ke rumah Ayah Nando. Kita mau menginap dua hari di sana," ucap Hasna.


"Aku ikut. Mah, boleh ya ikut bareng Kakak?" pinta Ferdi menatap Bella penuh permohonan. "Ferdi tidak akan nakal kok, suer tekewer-kewer."


Bella mengusap kepala putranya dan ia mengangguk. "Hmmm Nando, aku titip anak-anakku. Kalau mereka nakal, jewer saja telinganya."


"Isss sadis bener," ketiga anak itu memanyunkan bibirnya. Nando tersenyum.


"Aku akan menjaga mereka dengan baik. Terima kasih sudah mengizinkanku mengajak anak-anak."


"Sama-sama."


********


"Sebenarnya bukan rumah Om. Om hanya numpang hidup di dunia jadi Om hanya mengontrak saja. Ayo masuk!" ajak Nando membuka pintu rumahnya selebar mungkin.


Ferdi sangat antusias ingin melihat keadaan di dalamnya. Meski rumah Papanya sangat mewah tetap saja Ferdi selalu merasa takjub akan keindahan yang nyata.


Mereka berempat berkumpul di ruang keluarga setelah selesai menjalankan ibadah magrib. Devan si tukang makan terus saja mengunyah apa saja yang ada di hadapannya.


"Van, itu mulut tidak capek ngunyah terus? lalu perut tidak meledak penuh makanan?" ucap Hasna.


"Enggak lah Kak. Ini itu buatan Allah jadi tidak mungkin akan meledak. Justru, kalau Devan tidak banyak makan perut Devan akan merasakan sakit."


"Kak Devan mah aneh, orang kalau banyak makan perutnya sakit tapi dia, tidak banyak makan malah terasa sakit. Dasar perut karet," sahut Ferdi.


Nando hanya tersenyum memperhatikan ketiga saudara itu. Meski beda ayah, tapi terlihat sekali mereka saling menyayangi. "Bagaimana dengan sekolah kalian?" tanya Nando mengalihkan pembicaraan ingin mengetahui lebih dalam tentang mereka. Sebenarnya sih cuman iseng nanya doang.


"Eh, iya. Aku jadi teringat dengan undangan sekolahku," ucap Ferdi terlihat murung. Dan itu di perhatikan oleh ketiganya.

__ADS_1


"Undangan apa?" tanya Hasna penasaran.


"Sekolahku mengadakan acara lomba untuk memperingati HUT RI dengan mengundang kedua orang tua murid untuk ikut berpartisipasi merayakannya. Ferdi kan sudah tidak punya Papa," anak lelaki itu menunduk.


Deg..


Nando merasakan sesak melihat kesedihan di mata anak itu. Hasna bergeser duduknya memeluk Ferdi dan Devan menyimpan toples makanan kemudian ikut memeluk Ferdi.


"Kak, pengap." protes Ferdi.


"Maaf." ucap kedua Kakaknya.


"Kalau kamu bersedia, Om boleh ikut menghadirinya?" Nando menawarkan diri.


Ketiga anak itu menatap Nando, mereka saling melirik satu sama lainnya. Nando memandang mereka silih berganti.


"Kalau Om mau aku sih yes," jawab Ferdi.


"Kak Hasna juga yes."


"Kak Devan juga yes."


"Berasa punya Papa lagi. Ya walaupun Mama belum menentukan pilihannya," ujar Devan.


"Kalau gitu, Om jadi Papa kami saja. Mau ya? tadi Om kan bilang jatuh cinta sama Mama. Nanti kami bantu deh deketin Mama." Celetuk anak 5 tahun.


Nando terperanjat, dia bingung kenapa anak seusia 5 tahun sudah pandai bicara? "Apa yang kamu ketahui tentang cinta, deketin Mama kamu, sedangkan kamu sendiri masih anak-anak?" tanya Nando memicingkan mata curiga.


"Sebenarnya aku tidak tahu sih. Tapi kata temen aku, kalau orang cinta itu suka deketin."


"Emangnya siapa yang bilang?" tanya Hasna.


"Citra, dia bilang cinta sama aku dan dia juga suka deketin aku. Tapi aku tidak suka di dekati dia karena aku sukanya sama adik Zahra anaknya Tante Calista," jawab Ferdi santai sembari mengunyah makanan.


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2