
"Intan, baju pesanan Bu Retno sudah di ambil belum?"
Intan yang sedang mengepak barang pun menjawab, "Belum, Kak. Seharusnya tiga hari yang di ambilnya, tapi sampai sekarang belum ada yang ngambil juga."
"Tumben sekali Bu Retno telat ngambil? mungkin lagi sibuk," gumam Bella.
"Tan, kalau sudah beres packing, tolong susun baju-baju nya sesuai warna dan bahan ya! Saya mau menyusun tas-tas yang baru datang."
"Iya, Kak. Siap."
Bella berjalan ke depan, dimana tempat tas-tas akan di susun. Iapun mulai menyimpan satu persatu tasnya di lemari pajangan menghadap jalan agar terlihat oleh pembeli.
Saat sedang sibuk, ada satu buket bunga dari seseorang di hadapannya dan tak sengaja ia pegang. Bella meraba-raba memastikan benda apa yang ia pegang.
"Bunga? milik siapa? apa ada yang ketinggalan barang di etalase sini?" tanya dia pada diri sendiri.
Lelaki berahang kokoh, beralis tebal, hidung mancung, mata sedikit sipit dan berwajah tampan itu tersenyum melihat kebingungan Bella.
Ia gemas melihatnya, menurutnya Bella terlihat cantik ketika kebingungan. Dia menatap intens wajah Bella dari depan bersender di lemari kaca.
"Bunga cantik untuk wanita cantik sepertimu, Bee."
Bella menajamkan pendengarannya, seketika senyumnya mengembang saat mengetahui siapa pemilik suara itu. "Alex, ini kamu, kan?"
Tangan Bella mencari tangan Alex, memegang tangan yang ada bunganya.
"Iya, ini aku, kamu apa kabar? satu bulan tidak bertemu kamu tambah cantik saja, pipimu juga tambah cubby, pasti kamu bahagia tidak ada yang menggangu kamu?" ucap Alex mencubit gemas pipi Bella.
Bella yang di perlakukan seperti itu seketika hatinya menghangat, ia tersenyum simpul menundukan wajahnya yang bersemu merah merona.
"Aku baik, Lex. Sesuai pesan kamu, aku harus banyak makan dan sekarang kata Mama berat badanku naik dua kilo," jawab Bella cemberut.
"Waw, bagus dong, biar tambah s*xy," bisik Alex di telinga Bella.
Pluk....
Tas yang Bella pegang ia pukulkan ke tubuh Alex. "Apaan sih, Lex. Aku tahu dulu pakaian ku s*xy-s*xy, tapi tidak usah di ingatkan lagi. Aku ti...."
"Sssttttt..." Alex menaruh jari telunjuknya di bibir Bella. "Tak ada sedikitpun niatan untuk ku mengingatkanmu."
__ADS_1
pletak...
Alex menyentil kening Bella. "Pikiran kamunya saja yang negatif mulu," lanjutnya.
"Isss sakit tahu," Bella mengusap kening yang terkena sentilan. "Emang kenyataannya kalau aku..." belum juga selesai, mulut Bella di bungkam oleh tangan Alex.
"Aku bilang jangan mengungkit masa lalu kamu, Bee! Yang lalu biarlah berlalu, jangan terus melihat kebelakang karena itu akan membuatmu terus terpuruk tak dapat berjalan."
Alex melepaskan bekapannya. "Apa kamu mengerti, Bee?" Bella mengangguk mengerti.
Tingkah keduanya di perhatikan oleh sepasang mata elang yang terlihat geram dan panas melihat kemesraan mereka.
Hatinya terbakar cemburu, ia tak bisa membiarkan Bella di dekati pria lain, iapun menghampiri keduanya.
"Bella, sayang. Rupanya kamu di sini," kata Nando merangkul pinggang Bella begitu saja seolah ingin menunjukan bahwa Bella adalah miliknya.
Alex menatap tangan Nando kemudian menatap tajam mata Nando dengan sinis. Begitupun sebaliknya, Nando tak kalah menatap tajam Alex yang berusaha mendekati Bella.
"Halo, kita ketemu lagi, Jhon Vernando." Ucap Alex tersenyum.
"Jangan sok akrab, loe. Gue tidak kenal dengan loe," balas Nando lupa siapa Alex.
"Kau...?!" Nando memicingkan mata, ia terbelalak. "Alex Ramadanu..!" lirihnya pelan.
******
Langkah Tiara terasa gontai mendengar setiap penuturan dokter bahwa ia terkena penyakit HIV.
"Apa...?! HIV...?!"
"Benar, Nona. Untuk lebih lanjutnya dan mengetahui seberapa parah penyakitnya, Anda harus melakukan serangkaian pemeriksaan."
"Bagaimana mungkin saya bisa terkena virus HIV?" tanyanya syok.
"Virus HIV/AIDS dapat menular melalui darah, ******, atau cairan ****** dari pengidap dan masuk ke dalam tubuh orang yang sehat. Penularan bisa terjadi melalui berbagai cara, seperti berhubungan intim tanpa pengaman, berbagi jarum suntik, hingga transfusi darah."
Tiara terdiam, dia berpikir kalau dari jarum dan transfusi dara tidak mungkin, tapi berhubungan intim? ia sering melakukannya dengan banyak pria bahkan tak terhitung lagi dan si pria tidak menggunakan pengaman.
"La lalu apa yang harus saya lakukan untuk memeriksa lebih lanjut?" Tiara gemetar, ia takut hasilnya di luar dugaan.
__ADS_1
"Anda bisa melakukan salah satu tes, Tes Antigen/Antibodi. Tes ini digunakan untuk mencari antigen maupun antibodi HIV. Antibodi akan diproduksi oleh tubuh ketika kamu terpapar virus HIV. Sedangkan antigen merupakan zat asing yang menyebabkan kekebalan tubuh menjadi aktif. Dalam kasus penyakit HIV, antigen yang dicari adalah p24. Antigen ini diproduksi oleh tubuh sebelum antibodi berkembang."
"Tes ini juga dilakukan dengan pengambilan sampel darah pada ujung jari dan hasilnya dapat diketahui dalam waktu 30 menit."
Tiara pun mengangguk untuk melakukan tes meski hatinya gundah gulana dan ketakutan.
Setelah menunggu sekian lama hasilnya tes sudah keluar. Dokter melihat hasil tesnya dan, "Saya harus menyampaikan berita ini, Nona. Anda positif terpapar penyakit HIV/AIDS," tuturnya.
Duarrrrrr....
Bak tersambar petir, Tiara langsung lesu tak bisa berkata apa-apa lagi. Air matanya seketika menetes begitu saja tanpa permisi terlebih dulu.
Dia tertunduk lesu duduk di kursi taman rumah sakit meratapi penyakit yang tengah menggerogoti tubuhnya.
"Apa ini yang di sebut karma? sekarang aku sakit, akibat karena banyak melakukan hubungan badan. Hahahaha aku sakit, aku sakit," lirih Tiara menangis sambil tertawa.
******
"Makanlah, Bee! aaaa aku suapin, inikan makan kesukaan kamu." Alex menyodorkan steak daging kesukaan Bella.
"Mending makan punyaku saja, Bel. Kalau kamu terlalu banyak makan daging nanti kolesterol," Nando tak ingin kalah. Dia juga menyodorkan buah apel ke mulut Bella.
Bella berada di tengah-tengah keduanya. Mereka sedang ada di ruangan kerja Bella karena keduanya terus mengikuti Bella pergi.
"Ini saja, Bee. Aku belinya di Cafe Syafira."
"Ini saja, sayang. Aku belinya di tukang buah depan sana."
Bella pusing, ia menghadang kedua makanan menjauhkan tangan keduanya. "Aku tidak mau makan! Kalian ini kenapa sih dari tadi maksa aku makan? aku udah makan bekal dari Mama. Jadi stop untuk maksa aku makan!" ucapnya kesal dan tegas.
"Gak papa kalau tidak mau mah. Oh, iya, aku punya hadiah buat kamu." Alex merogoh kantong sakunya mengambil sebuah kalung berbandul hati di tengahnya ada permata. Ia pakaikan ke leher Bella.
"Aku sengaja membelinya dan memesankan berlian ini untuk wanita secantik kamu. Syafira sendiri lho yang bikin desain nya khusus buat kamu," ujar Alex dan tangan kirinya mengusap pundak Bella.
Nando geram, ia melepaskan tangan Alex dari pundak Bella secara kasar. "Maksud loe mendekati Bella apa? dia calon istri gue dan loe jangan coba-coba mendekatinya!" tunjuk Nando.
"Tak akan ku biarkan kau mendapatkan Bella! Apa kau lupa bahwa kau sendiri yang membuangnya dan mencampakan dia?" tunjuk Alex menatap tajam mata Nando.
Bersambung....
__ADS_1