
"Tak akan ku biarkan kau mendapatkan Bella! Apa kau lupa bahwa kau sendiri yang membuangnya dan mencampakan dia?" tunjuk Alex menatap tajam mata Nando.
Nando terdiam membenarkan ucapan Alex, namun itu dulu, sekarang ia tidak akan lagi mencampakkan Bella. Ia akan berjuang demi mendapatkan hati Bella lagi karena ia yakin kalau Bella masih mencintainya.
"Apa kau juga tidak lupa bahwa ada Hasna di antara kita? kemungkinan untuk kami bersama 99% sebab Hasna menginginkan kedua orang tuanya bersama dalam satu atap." Nando pun tak kalah sengit menunjuk wajah Alex. Mata keduanya memancarkan permusuhan antara dua pria yang berjuang demi cintanya.
Bella menutupi kedua telinganya, matanya terpejam kesal. "Stop...!!! Bisa diam tidak? kalian membuatku pusing. Mending kalian pulang saja dari pada berantem di sini!" hardik Bella.
"Aku tidak akan pulang, Bee. Jauh-jauh dari kota J ke sini hanya untuk bisa menemui mu. Eh, baru saja sampai masa langsung kamu usir? capek tahu bolak-balik ke luar kota," jawab Alex.
"Ck, modus loe. Aku juga tidak akan pulang, aku kesini mau menemuimu dan mengajakmu ke suatu tempat," timpal Nando.
Bella menunduk, ia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara kasar. "Kalau kalian mau disini biar aku saja yang pergi!" Bella sudah berdiri namun tangannya di cekal oleh keduanya sehingga ia tidak jadi berdiri.
"Jangan pergi!" cegah keduanya.
"Apaan sih ngikutin omongan gue?" cebik Nando.
Alex mendelik tajam ke arah Nando.
"Aku yang akan pergi kalau memang kehadiranku tidak di perlukan olehmu," ujar Alex berdiri kemudian mengusap kepala Bella.
Bella tertegun akan perlakuan Alex.
"Pergi yang jauh sana! Kehadiran loe tidak di inginkan oleh Bella."
"Lex, aku..."
"Tidak usah menjelaskan apapun lagi, aku tahu bahwa perasaanmu masih untuknya," lanjutnya melepaskan tangan Bella dan pergi dari hadapan Bella.
"Akhirnya dia pergi juga, sekarang tidak ada lagi yang ganggu kita. Kamu mau makan lagi? aku suapin ya!" Nando sudah siap menyodorkan makanan tapi Bella mengangkat telapak tangannya seolah menyetop untuk berhenti.
"Kamu pulang saja, Jhon!" entah kenapa hati Bella tidak rela Alex menjauh. Meski di lubuk hati paling dalam masih menyimpan sedikit rasa cinta untuk Nando, namun hatinya juga menginginkan Alex berada di dekatnya.
"Aku masih ingin bersama mu, Bella."
"Aku mohon pergi dari sini! Izinkan aku untuk sendiri dulu, Jhon!" balas Bella penuh penekanan.
Nando menunduk lesu, ia menyimpan sendok dan beranjak dari duduknya. Dia mengalah karena tidak ingin membuat Bella marah.
Bella menelungkupkan kepalanya ke lipatan kedua tangan di atas meja. "Kenapa jadi seperti ini?" hatinya bimbang.
Alex memperhatikan Bella, ia masih belum pergi dan ingin memastikan Bella baik-baik saja.
******
__ADS_1
Mall
Elsa membawa Hasna ke tempat permainan, ia juga membawa Hasna berbelanja mainan kesukaannya. Gadis kecil itu begitu riang berlarian kesana kemari.
"Nek, aku lelah sekali. Hasna mau bobo, Nek." keluh Hasna memberhentikan langkahnya."
Elsa menunduk, matanya terbelalak melihat keadaan Hasna. "Sayang...!" dia panik melihat wajah pucat beserta darah keluar dari hidung cucunya.
Elsa mencari sapu tangan untuk mengelap darah yang keluar dari hidung Hasna. "Kita pulang ya, Nak." Elsa langsung menggendong cucunya. Saking paniknya, ia sampai lupa membawa Hasna ke dokter.
******
Rumah Bella
"Bi, tolong ambilkan obat di kotak obat serta air hangat! Hidung Hasna kembali mimisan lagi, Bi." Pekik Elsa tergesa membawa Hasna ke dapur.
Nenek satu anak itu mendudukan cucunya di pangkuan dia.
"Ini nyonya..." Bi Sri menyimpan mangkuk berisi air hangat dan obat di atas meja serta makanan.
Elsa mencelupkan lapnya, meremas, kemudian mengelap darah yang masih menetes. Ia sangat panik dan khawatir.
"Hasna...! Apa yang terjadi sama kamu, Nak?"
"Sebaiknya kita kasih tahu keadaan non Hasna ke Nona Bella, Nya. Kita juga lakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyakit apa yang menyerang Non Hasna."
"Nek," lirih Hasna seperti orang sesak.
"Kamu makan dulu ya, sayang. Lalu minum obat!" bujuk Elsa menyodorkan makanan yang telah di sediakan Bi Sri.
"Aku tidak mau, rasanya tidak enak." Tolak Hasna menggelengkan kepala menolak makan.
"Makan sedikit saja, ya!" Elsa tak hentinya terus membujuk.
"Aku tidak mau," jawab Hasna lemas berada di pangkuan Elsa.
"Bi, bagaimana ini? kenapa sekarang nafsu makan Hasna berkurang? sekarang dia juga sering kelelahan dan sering mimisan, bahkan saat tadi aku menggendongnya ada benjolan di ketiak Hasna."
"Makanya kita bawa ke dokter, Nya. Supaya kita tahu penyakitnya apa."
"Penyakit apa yang kalian bicarakan?" tanya seorang pria.
Elsa dan Bi Sri menoleh ke belakang.
"Alex..!"
__ADS_1
"Den Alex..!"
*******
Tiara melangkah masuk ke apartemennya, ia mencoba membuka password namun tidak bisa.
"Kenapa tidak bisa di buka?" ia kembali menekan tombol password, tapi iapun tetap tidak bisa.
"Apa yang terjadi? apa Adit mengganti password nya? aku rasa tidak mungkin Adit melakukan itu." Tiara menunduk mondar-mandir khawatir.
Ia melihat seseorang berjalan ke apartemen nya dan orang tersebut memencet tombolnya dan apartemen tersebut bisa terbuka. Tiara melotot tak percaya kenapa orang lain bisa membukanya sedangkan ia tidak bisa?
"Maaf tuan, ini apartemen milik saya, kenapa Anda bisa membukanya sedangkan saya sendiri kesulitan?" tanya Bella mencegah dua orang masuk ke dalam.
"Ini apartemen kami, Nona. Pemiliknya sendiri yang menjual apartemen ini kepada kami melalui calo."
"Tu tu tunggu, saya pemiliknya dan saya tidak mungkin menjualnya. Anda pasti berbohong Tuan, Nyonya," tuduh Bella.
"Mungkin Anda yang mengaku-ngaku, Nona. Mending Anda pergi saja dari sini!" usirnya langsung masuk tapi Tiara malah ikut masuk mencari setiap barang-barangnya.
"Hei..! Anda tidak sopan sekali masuk ke apartemen saya!" sentak sang wanita menarik paksa lengan Tiara lalu menghempaskan tangannya secara kasar.
"Sudah suami saya katakan ini milik kami. Kami membelinya cast dan Anda pergi dari sini!" sentaknya langsung masuk menutup pintu apartemen.
"Ini apartemen ku. Buka!" pekik Tiara menggedor pintu masuk.
******
Kediaman Bella
"Maaf, aku langsung masuk karena pintu depan terbuka," ucap Alex.
"Penyakit apa yang kalian bicarakan? siapa yang sakit?" tanyanya mendekati Elsa. Namun, ia terbelalak terkejut melihat Hasna sesak, dan masih keluar darah dari hidung mungilnya.
"Hasna....! Apa yang terjadi dengannya?" pekik Alex langsung mengambil Hasna. "Kita bawa dia kerumah sakit!"
"Tapi, Lex, tidak perlu! Hasna mimisan akibat sariawan. Nanti juga akan berhenti," cegah Elsa.
"Tidak, Tante. Kita harus bawa dia ke dokter! Jangan sepelekan masalah seperti ini, bahaya!" Alex tak memperdulikan Elsa, ia segera membawa Hasna tanpa persetujuan Elsa. Hatinya gelisah dan ia sangat panik serta khawatir akan kondisi Hasna.
"Papa..." lirih Hasna di sela sesak nafasnya.
Bersambung....
__ADS_1
Babang Alex Ramadanu, pria yang akan bersaing dengan Nando untuk mendapatkan hati seorang Arabella.