
Sinar matahari menembus masuk ke sela-sela jendela menyoroti mata Nando. Cahayanya seperti sengaja membangunkan mata terpejam itu.
Nando merasa terganggu akan cahayanya, ia mengerjapkan mata membuka paksa matanya. Tangannya memegang kening, mengambil lap yang masih menempel. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis, "Bella." lirihnya.
Tangan kanan Nando seperti ada yang memegangnya, ia melihat siapa dia. "Bella." Bella tertidur duduk di sampingnya sambil memegang tangan Nando.
"Di saat marahpun kamu masih memperdulikan ku." Dia teringat dulu, Bella selalu merawatnya di saat dia sakit sampai benar-benar sembuh.
Tangan kiri Nando mengusap kepala Bella. Merasa ada yang menyentuhnya, Bella bangun. Dia segera menjauhkan tangannya dari tangan Nando.
"Maaf." Bella gelagapan dalam hati merutuki dirinya sendiri, " Bodoh, kenapa bisa ketiduran di sini?"
"Maaf karena sudah merepotkan mu."
"Kau memang merepotkanku. Karena kau sudah bangun, pasti sudah sembuh, dan silahkan kamu pulang!" usir Bella secara halus.
"Aku masih sakit, Bel. Tega banget ngusir aku."
Bella tak menghiraukan Nando, dia meraba-raba meja mencari mangkuk dan pergi meninggalkan Nando.
"Aku tidak boleh menyerah, semangat Nando!" ucapnya menyemangati diri sendiri.
****
"Jadi Nando Ayah biologis Hasna?"
"Iya, aku juga baru tahu kemarin. Aku sempat syok kalau Kakak ku sejahat itu, padahal aku selalu percaya bahwa kak Nando orang baik tapi ternyata...."
"Pantas saja wajah Hasna begitu mirip dengan Nando. Awalnya aku sempat mengira dia ayahnya, dan ternyata dugaanku benar." Dimas juga terkejut mengenai kenyataan sesungguhnya.
Mereka berdua sedang berada di kantin rumah sakit, Dimas sengaja menemui Calista karena ia merasa rindu pada gadis berpipi cabi itu.
"Lalu apa yang akan Kakak kamu lakukan?" tanya Dimas sambil menikmati makanan di hadapannya.
"Sepertinya dia akan berusaha mendapatkan kak Bella, deh. Apalagi ada Hasna, pasti kak Nando akan terus berjuang. Dia tipe orang yang tidak pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu sampai dapat."
Dimas manggut-manggut mengerti. "Tidak akan ku biarkan dia menang semudah itu setelah apa yang telah dia lakukan!"
__ADS_1
"Maksud kak Dimas?"
"Aku tak akan membiarkan Nando mendapatkan Bella dan Hasna," kata Dimas menatap wajah Calista ingin melihat raut wajahnya.
Calista menunduk murung, "Ternyata Kak Dimas memang menyukai Kak Bella," batin Calista sedih.
Dimas tersenyum tipis melihat reaksi Callista, "Kamu setuju kan kalau aku sama Bella?"
"Hah, i iya, aku setuju, kalian cocok." Jawab Calista tersenyum berusaha menyembunyikan rasa sedih.
"Gadis baik," Dimas mengacak rambut Calista mengelusnya pelan.
****
Tiara melangkah angkuh ke luar dari hotel membawa sejumlah uang dari pelanggannya. Dia mencium gepokan uang yang ada di amplop coklat. "Ternyata gampang juga mencari duit, tinggal cari om-om berjas, di rayu langsung cus meluncur ke atas ranjang."
Dia ingin menghabiskan uangnya untuk berbelanja pakaian dan perawatan tubuhnya agar para pria kaya tergoda dan tercantol akan pesonanya. "Aku harus bikin siapa saja tertarik kepadaku, termasuk Jhon yang sulit ku taklukan."
Saat sedang berjalan masuk ke salon, tak sengaja ia bertubrukan dengan seorang ibu-ibu.
"Bisa gak sih kalau jalan pakai mata?" sentak Tiara.
Tiara mendongak menatap siapa orang tersebut. "Siapa ya? saya tidak kenal." Tiara memicingkan mata menelisik penampilan ibu-ibu itu.
"Saya Sri, Non. Orang yang dulu pernah bekerja di rumah non."
Tiara mengingat-ingat, "Oh ya ya saya ingat. Ada apa ya?" Tiara mengingatnya, dulu Bi Sri pernah menjadi IRT di rumahnya saat masih ada orang tuanya.
"Non kemana saja? nyonya Elsa selalu mencari Non Tiara, dia sampai menyewa seseorang untuk mencari keberadaan non." Bi Sri begitu senang bisa bertemu lagi dengan anak majikannya yang dulu.
"Tu tu tunggu, maksud bibi bagaimana ya? aku tidak mengerti?"
"Setelah selesai menguburkan jasad ibu Non, nyonya Elsa ingin merawat Non Tiara. Dia tidak mau Non sampai terluntang lantung sendirian karena di tinggal pergi kedua orang tua non."
"Dia benar-benar ingin membesarkan anak dari orang yang telah mengambil suaminya. Padahal nyonya Tari merupakan pelakor, saking baiknya, dia bersedia di madu sampai dimana Nyonya Tari kembali berulah."
Tiara masih mencerna setiap perkataan bi Sri. "Aku benar-benar tidak mengerti maksud bibi. Tolong bibi jelaskan sejelas-jelasnya!" pinta Tiara penasaran.
__ADS_1
"Mending kita cari tempat duduk dulu supaya bibi bisa menceritakan masa lalu mereka agar tidak ada lagi kesalahpaham di antara kalian!"
Dan keduanya memutuskan mampir di warteg yang ada di sebelah salon.
"Tolong jelaskan maksud bibi tadi!"
Bi Sri menarik nafas mengatur supaya lebih tenang. "Tari sama Elsa merupakan teman baik. Mereka tumbuh kembang secara bersamaan dan kemanapun selalu bersama. Elsa yang memang sudah matre selalu bermimpi ingin mendapatkan suami kaya. Begitupun dengan Tari yang juga bercita-cita memiliki suami kaya dan tampan."
"Sampai dimana Elsa bertemu dengan papanya Bella seorang pengusaha rental mobil. Keduanya menjalin kasih sampai ke jenjang pernikahan dan kehidupan keduanya Bahagia."
"Tapi, nasib Tari tak seberuntung Elsa. Dia mendapatkan suami yang arogan, pemabuk, pejudi. Sehingga Tari memutuskan untuk bercerai darinya."
"Tari selalu memperhatikan kehidupan Elsa yang selalu jauh lebih baik. Sampai dimana Tari berniat merebut kebahagiaan sahabatnya sendiri. Dia mulai mendekati suaminya Elsa dan berakhir menjadi istri simpanannya. Padahal pada saat itu Elsa baru saja melahirkan putrinya."
"Meski Elsa tahu bahwa Tari adalah madunya, namun Elsa tidak melabrak Tari. Dia beranggapan bahwa suaminya berubah karena sikapnya yang matre dan kadang suka menghina orang lain."
"Dia juga begitu legowo di saat Tari mengandung anak dari suaminya. Elsa begitu mencintai suaminya, terus bertahan sampai ajal menjemputnya."
"Pada saat berkabung, Elsa menemui Tari untuk memberitahukan bahwa suami mereka sudah tiada akibat serangan jantung. Namun niatnya malah membawa petaka bagi Elsa karena di saat itu dia mendapat pelecehan dari Tuan Mahendra sampai membuat Elsa hamil."
"Mau tidak mau, Elsa harus meminta pertanggungjawaban Mahendra. Tapi sayang, anaknya tidak tertolong akibat Elsa jatuh dari tangga. Dan musibah kembali datang di saat Tari kembali ingin merebut Mahendra dari Elsa."
"Tari kembali menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Mahendra, dia sampai berniat membunuh Elsa menggunakan pisau. Namun sayang, pisaunya malah tak sengaja tertancap ke perut Tari sendiri karena ia terpeleset jatuh tengkurap," jelas Bi Sri menjelaskan tentang majikannya Elsa.
Tiara mematung mendengar penjelasan Bi Sri, "Ja jadi aku dan Bella adik Kakak satu Ayah? dan Ibu adalah orang ketiga di rumah tangganya mereka?" bibir Tiara gemetar.
"Iya, kalian saudara kandung. Tari iri atas kehidupan Elsa dan dia terus mengganggu rumah tangga Elsa sampai setiap suaminya ia goda. Bibi terpaksa memberitahukan ini kepada Non agar tidak ada kesalah pahaman. Dulu bibi ingin memberitahukan semuanya tapi non lebih dulu pergi meninggalkan rumah."
"Bibi tahu semua ini karena bibi orang suruhan Elsa untuk menjadi mata-mata di rumah Tari. Dan kematian Tari adalah murni salah Tari."
Tiara menggeleng tidak percaya, dia tersenyum sinis dengan kenyataan. "Aku tidak percaya, aku tidak percaya!"
"Itu kenyataannya, Non. Sampai saat ini Elsa masih menunggu putri dari madunya pulang. Dia berharap bisa menemukan putri keduanya dan akan hidup bersama."
Karena selama ini, Tiara tidak pernah menampakan wajahnya di hadapan Elsa. Ia hanya sering menampakan wajahnya di hadapan Bella.
Bersambung....
__ADS_1
Hayooo..... mau di bawa kemana nih alurnya??? bingung kan? sama, aku juga bingung....🤦🤦🙏🙏 niatnya seperti ini, pas di tulis, kok jadi gini?🤦🤦🙏