
"Ayah Nando, kapan-kapan Ferdi bolehkan main ke perkebunan lagi? Ferdi suka rumahnya, bagus dan sejuk." Ferdi begitu menyukai rumah kayu itu sampai ia enggan untuk pulang.
Bella berusaha keras membujuknya pulang mengingat Ferdi masih sekolah.
"Tentu saja boleh asalkan di saat liburan sekolah. Kita ajak Kakak-kakak kamu dan juga Nenek kamu. Kita adakan kemping di perkebunan." Jawab Nando sembari mengemudi.
"Asiikkk, aku udah tidak sabar untuk berlibur ke rumah kayu lagi." Anak kecil itu begitu girangnya mengetahui Nando memiliki rumah kayu yang nyaman sehingga membuatnya ingin terus merasakan suasana sejuk nan asri.
Nando menoleh tersenyum memperhatikan Ferdi. Dia juga sempat melirik Bella yang tengah diam tak banyak bicara. Lebih tepatnya merasa canggung atas kejadian tadi pagi.
"Untuk yang tadi, aku minta maaf."
"Tidak perlu di bahas."
BEBERAPA SAAT SEBELUM PULANG
Bella tengah mempersiapkan sarapan untuk Nando sebagai rasa terima kasih sudah menolong dirinya dan juga putranya. Dia memasak mie bihun goreng dan juga ikan dikarenakan tidak ada bahan makanan selain dua itu.
Dengan lihainya Bella mengolah ikan menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera. Nando yang baru saja selesai mandi menghirup aroma wangi masakan di dapur. Dia lebih dulu mampir ke dapur dengan tangan sedang mengancingkan kemeja lengan pendek di padukan dengan celana pendek selutut masih dan rambut yang terlihat basah.
Pria itu berdiri tak jauh dari sana memperhatikan wanitanya. "Masak apa?"
Sontak Bella menoleh terkejut sebab Nando berada di sampingnya. Dia menjauhkan wajahnya kala menghirup aroma wangi dari sabun yang di pakai Nando menyeruak ke Indra penciumannya seolah menenangkan jiwa dan ingin menghirup dalam aroma wanginya.
"Ma-masak ikan." Bella sungguh gugup, ia melanjutkan kegiatannya tanpa menoleh lagi. Apalagi mengingat perkataannya semalam jika dirinya memberikan Nando kesempatan.
Nando mengangguk. "Siapa yang menyuruhmu menggunakan dapur ini?"
Eh..
__ADS_1
Bella kembali tersentak, ia mematung apakah dirinya keterlaluan mengunakan dapur tanpa izin pemiliknya? seketika dia menunduk merasa jika dirinya bersalah telah lancang. "Ma-maaf. Aku hanya ingin menyiapkan makanan sebagai tanda terima kasih sudah membantuku dan putraku."
Nando mengerutkan keningnya, lalu sudut bibirnya terangkat menggelengkan kepala. Ingin rasanya dia tertawa melihat raut wajah bersalah Bella. [ Menggemaskan ]
"Lalu kenapa kamu tidak meminta izinku dulu? lancang sekali menyentuh barang-barang ku." Ingin sekali Nando tertawa terbahak. Tapi, ia ingin tahu bagaimana Bella menjawab. Diapun memasang wajah dinginnya.
[ Duuhh.. bagaimana ini? aku sih sok-sok'an ingin masak tampan izin. Jadinya kan dia marah. ]
"Ka-kau marah? maaf." Bella mematikan kompor nya. Bukan karena belum selesai melainkan sudah beres memasak.
"Tentu saja." Balasnya dingin, sedetik kemudian dia tergelak tak bisa lagi menahan tawanya. "Hahahaha kau menggemaskan sekali sih. Wajahmu terlihat lucu." Nando mencubit gemas pipi Bella.
Dia lupa jika dirinya sudah dewasa dan berumur 44 tahun tapi tingkahnya seperti lelaki muda yang sedang merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
"Sakit Nando..." pekik Bella mengusap pipinya memberenggut kesal mencebikkan bibirnya.
Benar saja, pipi Bella terlihat memerah. "Maaf, kekencangan ya?" Dengan lembut, Nando mengusap pipi Bella merasa bersalah telah mencubitnya. Seakan pagi ini begitu manis bagi Nando bisa menikmati waktu bersama orang yang ia cintai sampai ia lupa diri mengusap-usap pipi putih Bella.
Entah kenapa Nando tak bisa menahan untuk memberikan sebuah kecupan di dahi Bella sampai ia nekat mengikis jarak seraya memandang penuh cinta wanita di depannya. Dengan sangat lembut, bibirnya menempel di kening Bella sambil memejamkan mata menyalurkan setiap perasaannya yang masih bertahta di hatinya.
Sampai dimana suara anak lelaki menyadarkan keduanya. "Mama sama Ayah Nando lagi ngapain?"
Nando tersadar begitupun Bella. Keduanya cepat-cepat menjauhkan tubuhnya. Bella menunduk malu, gugup, ketahuan oleh anaknya.
Begitupun dengan Nando yang juga memalingkan wajahnya bingung harus menjawab apa. Tangannya menggaruk kepalanya tersenyum kikuk bagaikan maling ketahuan mencuri.
"Ferdi kita makan dulu ya? ayo sayang." Bella mengalihkan perhatian putranya berharap tidak banyak pertanyaan yang di lontarkan atas apa yang barusan Ferdi lihat.
"Iya, Mah. Aku udah sangat lapar ingin makan."
__ADS_1
Bella tersadar dari lamunannya menunduk menggelengkan kepala. [ Kenapa keinget tadi pagi sih? sungguh memalukan kau Bella. ]
"Kau kenapa? apa kepala mu pusing? kita kerumah sakit ya? aku takut kamu kenapa-kenapa." Ajak Nando khawatir mengingat jika Bella jatuh ke jurang takutnya kepala Bella terbentur.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing. Mungkin kena anemia."
"Kita kerumah sakit saja ya?" Nando bersiap membelokkan arahnya menuju rumah sakit tapi Bella cegah.
"Jangan! Aku beneran tidak apa-apa. Aku hanya ingin segera sampai bertemu anak-anak dan Mana."
"Kau yakin?" tanya Nando memasukkan lagi.
"Aku yakin. Percayalah."
********
"Bella, syukurlah kamu selamat. Mama dan anak-anak sangat khawatir pada kalian." Elsa memeluk Bella penuh syukur anak cucunya baik-baik saja.
Hanya ada Elsa yang menyambut. Hasna dan Devano sudah berangkat sekolah.
"Maaf menmbuat Mama khawatir. Untungnya ada Nando yang menyelamatkan kami."
"Iya, Nek. Ayah Nando seakan menjadi pahlawan kita."
Elsa mengusap pucuk kepala Ferdi. "Makasih sudah mencari dan menemukannya, Nando.
"Sama-sama, Tante. Kalau begitu aku permisi pulang dulu." Nando berpamitan kepada Elsa dan juga yang lainnya.
"Aku pulang dulu, Bella. Sampai berjumpa lagi." pamitnya pada Bella. Bella mengangguk.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."