Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
Sambutan Kepulangan Hasna


__ADS_3

"Aaaaaaa kenapa jadi begini? dan kenapa Alex bisa ada di kota ini? gara-gara dia Bella semakin menjauh, gara-gara Calista aku gagal menikahi Bella." Di dalam rumah, Nando uring-uringan tidak jelas.


Dia sampai menggebrak meja untuk melampiaskan kekesalannya. "Aku tidak akan membiarkan Bella menikah dengan orang lain! Cukup dulu Syafira yang sulit ku dapatkan dan sekarang, aku tidak akan membiarkan Bella jatuh ke pelukan orang lain."


Sisi lain dari Nando kembali keluar, jika ia menginginkan dan menyukai sesuatu, dia akan terus berusaha mendapatkannya dengan berbagai macam cara akan ia lakukan.


Dia tipe orang yang jika sudah jatuh cinta akan terus mengejar orangnya sampai dapat. Entah ini obsesi atau bukan? tapi yang pasti Nando ingin selalu mendapatkan apa yang ia mau.


Calista melangkah masuk kedalam rumah. Dia baru saja sampai rumah. Alangkah terkejutnya saat ia melihat meja pecah dan melihat Nando terduduk dengan tangan berdarah.


"Kak Nando, apa yang terjadi?" Calista memeriksa tangan kakaknya dan dia segera berlari mengambil kotak obat membersihkan darah dan memperban tangannya.


Nando diam saja, pikirannya masih kacau, ia memikirkan cara supaya bisa mendapatkan Bella.


"Calista, kenapa kamu mau menjadi pendonor untuk Hasna? apa kamu tahu, bahwa tindakanmu membuat Kakak tidak bisa menikahi Bella." Nando kesal kepada adiknya yang menggagalkan rencana dia.


Calista yang sedang memasangkan perban seketika terdiam. "Kenapa Kakak bisa bilang seperti itu?"


"Karena tindakanmu membuat Bella semakin jauh dariku, Calista." ucapnya meninggi menghempaskan tangan Calista.


"Kak, kalau aku tidak segera melakukan tindakan ini yang ada Hasna semakin kritis. Hanya cara itu yang bisa membuat Hasna benar-benar sembuh. Dan untuk soal Kak Bella, Kakak kan bisa berjuang untuk mendapatkan nya," jawab Calista.


"Aaaaaa kau adik yang tidak mengerti keinginan Kakak nya." Nando beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Calista yang terpaku akan sifat sang Kakak.


"Kenapa Kak Nando jadi berubah?" gumamnya bingung.


******


"Sekarang kita sudah sampai," ucap Alex memberhentikan mobil yang ia kendarai di halaman rumah Bella.


"Hore, kita pulang, aku senang Mah, Pah, bisa pulang ke rumah," sahut Hasna girang.


"Tapi, sayang. Kamu jangan dulu berlarian ya, Mama takut."


"Ia, Mah."


Pintu mobil sudah di buka oleh Alex. "Ayo! Apa Hasna mau Papa gendong?"


"Mau mau," jawabnya antusias.

__ADS_1


Alex memberikan punggunya ke Hasna dan gadis kecil itupun langsung menaiki punggung pria yang ia sebut Papa.


"Bee," dengan penuh perhatian Alex juga membantu Bella turun dari mobil.


Ketiganya jalan beriringan masuk ke dalam rumah. Saat sudah tiba di pintu masuk....


"Selamat datang Hasna...." pekik semua orang yang ada di dalam.


Bella dan Hasna sampai terkejut melihat banyak orang, bahkan ruangan tersebut sudah di dekorasi sedemikian rupa untuk menyambut kepulangan Hasna.


"Mama, ini indah sekali." Mata Hasna berbinar karena dekorasinya bertema hello Kitty.


"Alex kenapa banyak orang?" tanya Bella menajamkan pendengarannya untuk mengetahui berapa banyak orang yang ada di dalam.


"Mereka datang untuk menyambut kepulangan Hasna dan syukuran atas keberhasilan operasi nya."


Tentunya apa yang mereka lakukan membuat Bella meneteskan air mata bahagia. Dia bersyukur masih di kelilingi orang-orang baik yang tidak pernah mencela, menghina, dan menyindir tentang masa lalunya.


"Hasna sama Nenek yuk, kita ke sana." Ajak Elsa mengambil alih Hasna dari gendongan Alex.


Tentu saja gadis kecil bermata sipit itu mau, ia merentangkan tangannya beralih ke pangkuan sang Nenek.


Bukannya bergerak melangkah, Bella malah memeluk Alex berterima kasih.


"Terima kasih untuk kejutannya."


"Siapa bilang ini dariku? aku juga tidak tahu menahu tentang ini semua." Karena Alex tidak di beritahukan apapun mengenai kejutan ini.


"Siapa lagi kalau bukan Syafira, Bella." sahut seorang wanita mendekati Bella.


Bella melepaskan pelukannya, "Mami Dita." Dita tersenyum dan langsung memeluk Bella mengecup kening wanita yang sudah ia anggap putrinya.


Bella memejamkan mata meresapi kasih sayang yang Dita berikan untuknya. Air matanya kembali menetes tiada henti.


Dita membawa Bella duduk di antara keluarga Syafira dan Reyhan. Alex juga ikut duduk di dekat Leo dan Doni. Semua orang berkumpul untuk menyambut kepulangan Hasna.


Hasna duduk penuh tawa bersama Felix, Anin, dan anaknya Amel Kedua gadis itu bermain bermacam boneka di temani Felix yang menjadi penjaganya.


"Apa kau tahu, Syafira sampai membatalkan rapat penting demi bisa menyambut kepulangan Hasna," kata Dita.

__ADS_1


"Dia juga sampai menyewa pesawat untuk kita semua. Dia begitu antusias ingin segera ke sini melihat putrinya" lanjut Dita.


Bella dan Elsa terharu, keduanya merasa beruntung berada di keluarga Syafira yang sangat baik dan welcome.


"Kenapa kalian baik sekali padahal kita bukan..." ucapan Bella di potong oleh Syafira yang kebetulan duduk di dekat Bella.


"Jangan pernah bilang kalau kita bukan saudara. Kamu saudaraku, kamu Kakakku jadi kita akan melakukan apapun supaya bisa berkumpul seperti ini." Cegah Fira merangkul tangan Bella.


"Syafira benar, kita semua akan menjadi saudara dan jangan pernah mengungkit lagi siapa kalian dan seperti apa kalian di masa lalu!" timpal Dinda yang duduk di samping Elsa.


Dita dan Dinda memeluk Elsa. Sedangkan Syafira dan Amel juga memeluk Bella.


"Kita akan menjadi saudara, dan juga sahabat selamanya," ucap Amel memeluk kedua wanita yang umurnya tidak jauh dengan dia.


Dan para pria, mereka juga ikut terharu melihat para wanitanya yang begitu saling menghargai, saling menyayangi, terutama Reyhan. Dia semakin mencintai istrinya yang sangat luar biasa. Cintanya semakin bertambah berkali-kali lipat dengan sifat dan sikap yang Syafira miliki.


******


Sedangkan di tempat yang berbeda, keadaan Tiara semakin memburuk. Tubuhnya semakin tambah kurus saja, dan sudah berbagai macam pengobatan ia lakukan namun hasilnya tidak memuaskan.


Tiara tinggal di kontrakan kecil, ia masih saja bekerja di club padahal sudah terkena penyakit HIV. Hanya dari sanalah ia bisa mendapatkan uang, sedangkan tabungannya semakin menipis dan tinggal tersisa 10 juta saja.


"Tubuhmu semakin kurus, Tiara. Kalau seperti ini tidak akan ada yang mau sama kamu. Sebenarnya kamu sakit apa, sih?" tanya teman seprofesi Tiara.


"Akhir-akhir ini nafsu makan gue kurang. Dan jadinya ya seperti ini," jawabnya mencari alasan.


"Itu tidak mungkin sebab...."


"Tiara, saya tidak bisa lagi memperkerjakan kamu di sini," ucap pemilik club datang ke ruangan para pekerja.


"Kenapa bos? saya sudah berusaha melayani mereka dengan baik."


"Justru karena pelayanan kamu mereka menolak. Kau menyebarkan penyakit ke mereka dan saya juga tidak mau ketularan penyakit mematikan mu itu. Sekarang kau pergi dari sini!" usirnya menarik paksa lengan Tiara menyeretnya keluar.


"Bos, kalau saya tidak bekerja saya tidak punya uang, Bos."


"Bodo amat, kami tidak ingin tertular penyakit sepertimu. Pergi dari sini! dan mulai saat ini kau di pecat!" ucapnya menghempaskan Tiara keluar club dan beranjak masuk.


"Aaaaaaaa ini semua gara-gara Elsa dan anaknya. Kalau mereka tidak membuat Ibu dan bapakku meninggal, aku tidak mungkin hidup seperti ini." pekiknya mengacak-acak rambut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2