
Deg...!
"Bella...!" Jhon berhenti mematung tak melanjutkan langkahnya.
Hasna berontak dari gendongan Jhon dan minta di turunkan, Jhonpun menurunkannya.
Hasna berlari dan langsung saja memeluk Bella menumpahkan tangisnya. "Sayang, kenapa kamu menangis, Nak? apa ada yang jahatin kamu?" ucapnya mengusap punggung Hasna.
"Mama aku mau pulang," pinta Hasna masih terdengar di telinga Jhon.
Deg..!
"Mama...!" Jhon semakin di buat terkejut jika Bella adalah Ibu dari gadis kecil yang ia tolong.
"Iya, Nak. Kita pulang sekarang, kamunya jangan nangis, ok!" Bella masih mengusap punggung putrinya menenangkan sang putri untuk tidak menangis dan Hasna pun mengangguk.
"Bi, aku minta tolong bereskan semuanya! Kita pulang sekarang juga, ya." Bella masih menyangka kalau Jhon adalah Bi Sri. Dia berdiri memangku putrinya dan berjalan ketempat dimana mobil berada.
Meski Bella buta, ia tidak menggunakan tongkat. Ia mampu mengetahui jalan yang pernah di lewati tanpa bantuan orang lain. Dia juga tahu posisi dimana letak setiap barang tanpa lupa dimana letaknya. Indra pendengaran dan daya ingatnya semakin tajam membantu dirinya melangkah.
Jhon mematung tak menjawab, dia ke taman berniat jalan-jalan menikmati keadaan kota kelahirannya setelah sekian lama. Namun takdir malah mempertemukannya dengan Bella. Hati dan pikirannya terus bertanya, "Kenapa Bella mengacuhkan ku seolah tidak mengenaliku?"
Lalu bi Sri datang membereskan semuanya. Dia sudah dapat kabar dari supir bahwa majikannya sudah ada di mobil. Bi Sri meninggalkan Jhon yang sedang kebingungan dan tentunya mematung terkejut. Bi Sri sempat melihatnya namun ia tidak peduli karena merasa tidak kenal.
****
Jhon merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu, dia kembali teringat pertemuannya dengan Bella, gadis yang dulu ia sakiti. "Bella, setelah sekian lama tak bertemu kamu semakin cantik dan lebih dewasa. Tapi, siapa anak yang bersamamu?"
Jhon mengacak rambutnya secara kasar, "Aku harus cari tahu mengenai anak itu! Siapapun dia aku akan menerimanya, aku tidak akan melepaskan kamu lagi, Bella. Aku berjanji akan memperjuangkan mu," tekadnya sudah bulat, meski anak itu bukan anaknya, Jhon akan menerima Bella apa adanya.
Jhon beranjak dari rebahannya, mengambil kunci motor lalu meluncur mencari keberadaan Bella.
****
"Non, biar aku saja yang gendong Non Hasna!" pinta Bi Sri saat sudah tiba di rumahnya.
Hasna sampai tertidur di pangkuan Bella, gadis kecil itu mungkin kelelahan. "Terima kasih, bi."
__ADS_1
"Bella," panggil Dimas baru sampai di pekarangan rumah. "Kebetulan kamu berada di luar. Bel, hari ini kita harus ketemu pemilik konveksi tas. Pihak mereka sudah mengatur waktu meetingnya." Dimas langsung saja berucap dan menggandeng tangan Bella kemudian memasangkan helm ke kepalanya.
"Eh, tapi Hasna..." Bella merasa enggan meninggalkan putrinya tanpa pamit.
"Hasna ada Mama yang jaga, kamu berangkat saja bareng Dimas! Ini kesempatan kamu untuk menjual tas wanita di tokomu." Elsa menyauti ucapan Bella dan dia mengizinkan anaknya mengurusi urusan pekerjaannya dulu.
Bekerja sama dengan pemilik konveksi atau pabrik tas wanita merupakan salah satu impian Bella. Bukan hanya menjual pakaian saja, Bella juga ingin menjual tas wanita, dan berbagai macam sepatu.
"Kalau gitu aku titip Hasna, Mah. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan anakku dalam keadaan sedih. Tadi ia sempat menangis saat berada di taman. Tolong Mama tanyakan kepadanya apa yang terjadi tadi!"
"Iya, nanti Mama akan tanyakan kepadanya. Kalian hati-hati di jalan dan kamu Dim, jangan ngebut bawa motor nya!" ucap Elsa penuh peringatan.
"Siap, nyonya bos. Aku akan selalu menjaga Bella dan tidak akan membuatnya lecet sedikitpun," jawab Dimas yakin.
Elsa dan Bella tersenyum, mereka sudah tahu kinerja Dimas yang selalu menjaga Bella dengan baik. Dan mereka berdua langsung meluncur menemui pemilik konveksi tas.
****
Jhon menyusuri tempat dimana tadi dirinya bertemu Bella. Dia berharap bisa menemukan petunjuk mengenai keberadaan Bella.
Jhon memutarkan arahnya mengikuti kemana Bella pergi. Dia menjadi panas dan geram sendiri. "Siap pria itu? kenapa mereka terlihat sangat mesra?" gerutunya.
Dimas memarkirkan motornya dan membuka helm Bella kemudian menggandeng tangannya lalu masuk ke dalam Cafe.
Mereka menemui pemilik konveksi tas dan langsung mengadakan meeting. Bella begitu antusias mendengar produk yang akan ia jual. Dimas juga membantu Bella memilih tas mana saja yang kiranya cocok di jual pasaran. Mulai dari yang paling murah sampai yang harganya tinggi.
Sekian lama berbincang, mereka menyetujui kerjasama dengan pihak pembuat tas. "Terima kasih atas kerjasamanya, semoga kedepannya kita menjadi partner kerja yang saling menguntungkan. Dan mudah-mudahan kita mampu mengembangkan tas nya ke seluruh kota," ucap Bella.
"Saya juga berharap seperti itu, Nona. Bukan saya tidak ingin lama, tapi saya masih ada urusan lain. Kalau gitu saya undur pamit dulu, nona."
Bella pun mempersilahkan nya.
"Dim, aku ingin ke toilet."
"Ya, sudah aku antar ya?"
"Tidak perlu, aku tahu arah jalannya. Kamu tunggu di sini saja, ya?"
__ADS_1
"Kamu yakin?" tanya Dimas memastikan.
"Yakin, insting ku kan sekarang lebih kuat dimana toilet berada," jawab Bella memastikan.
"Ya, sudah. Kamu hati-hati ya." Dimas khawatir, namun ia berusaha yakin bahwa Bella baik-baik saja.
Bella berdiri dan berjalan seperti orang pada umumnya. Meski Bella buta, insting nya sekarang lebih kuat dan ia bisa mengetahui letak setiap tempat.
Jhon yang kebetulan dari tadi memperhatikan gerak-gerik Bella, langsung mengikuti kemana Bella pergi. Dia langsung saja menarik pergelangan tangan Bella setelah ke luar dari toilet.
Tanpa banyak bicara, Jhon membawa pergi Bella dari sana.
"Dim, kamu kenapa? kok kamu langsung maen narik aku gitu saja? ini seperti bukan kamu karena kamu selalu lembut memegang tangan aku." Bella bertanya saat dia sudah menaiki motor Jhon.
Jhon tak menjawab, namun ia merasa panas melihat keakraban Bella dan Dimas. "Darimana dia mengenal Dimas?" batin Jhon.
"Dim, ini bukan kamu. Kamu siapa?" Bella langsung melepaskan cekalannya dari pinggang Jhon. "Hei, kamu siapa? turunkan aku?"
Jhon sempat bingung kenapa Bella tidak mengenalinya. Bella bahkan berontak dan memukul punggung Jhon minta di turunkan. "Toloooong... ada orang yang menculik ku!" teriak Bella ketakutan.
Jhon memberhentikan motornya di depan rumah Calista dan mencekal tangan Bella. "Bella, ini aku?"
"Kamu siapa? aku tidak mengenal kamu? tolong pulangkan aku ke tempat yang tadi!" lirihnya ketakutan.
"Bella, aku Jhon. Tatap mata aku dan lihat baik-baik! Masa kamu tidak bisa mengenaliku?" Jhon menatap mata Bella, tapi Bella hanya menatap kosong arah Jhon.
"Tuan tolong antarkan aku ke tempat yang tadi! Aku tidak mengenal Anda, Tuan!" Bella sudah menangis takut.
Jhon mematung, hatinya sakit dan juga bingung, "Bella," Jhon melambai-lambai tangan ke hadapan Bella namun sama sekali tidak ada respon.
Jhon semakin terkejut, "Apa kamu bisa melihatku?" tanya Jhon takut.
Bella tak menjawab, ia hanya menatap kosong dan hanya menangis gemetar ketakutan.
"Apa yang kau lakukan kepadanya, Kak?" pekik Calista tiba-tiba.
Bersambung....
__ADS_1