Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Lamaran )


__ADS_3

"Nando..!" Bella bingung harus menjawab apa? Hatinya masih belum siap untuk menikah lagi. Tapi, jika dirinya menolak, ia takut pria di hadapannya sakit hati dan menjauhinya. Kalau menerimanya, apa tidak terlalu terburu-buru mengingat suaminya baru meninggal 7 bulan yang lalu?


Selama beberapa bulan memang Nando menunjukan keseriusannya dalam mendekati Bella. Mulai dari kejutan-kejutan kecil sering Nando berikan.


"Aku tahu kalau kamu mengalami kebimbangan dalam memutuskan segalanya. Cuman, aku tidak ingin berlama-lama untuk tidak menikahimu. Aku takut khilaf, sayang. Maka dari itu, maukah kamu menikah denganku?" tanya Nando mengulang kembali perkataannya berharap Bella mau menjawabnya.


Bella masih diam memikirkan apa yang harus ia ucapkan. Menerima, atau menolak. Dia memejamkan mata berharap dapat petunjuk. Dan benar saja, sekelebat bisikan dari relung hati terdalam menyuruhnya untuk menerima. [ Mas, maaf, bukan maksudku ingin menggantikanmu tapi, aku akan berusaha menerima orang pilihanmu. Semoga kamu tidak marah kalau aku menerima Nando. Aku mencintaimu, Mas ]


Nando memandangi wajah Bella. Dadanya bertalu bergemuruh cemas. Bella kembali membuka mata dan pandangannya tertuju pada pria di hadapannya yang sedang memandanginya.


"Bismillahirrahmanirrahim. Aku menerima pinangan mu. Datanglah kepada Mama dan anak-anak untuk melamar ku secara resmi. Aku menunggu kedatangan mu dan jangan kecewakan aku lagi." Dengan lantang penuh keyakinan, Bella memberikan sebuah jawaban yang membuat Nando tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah, makasih sayang. Makasih sudah mau memberikanku kesempatan. Besok aku akan datang kerumahmu bareng adikku." Nando begitu bahagia, dia menggenggam kedua tangan Bella menatapnya penuh haru. Dirinya berjanji tidak akan menyakiti Bella seperti dulu ia menyakitinya.


"Besok?! Secepat itu?"


"Iya, karena aku tidak ingin menunggu terlalu lama lagi. Dan, jika kita berduaan tidak akan timbul fitnah." Jawab Nando mengerlingkan matanya menggoda Bella.


Bella menunduk, wajahnya bersemu merah malu di goda seperti itu.


*********


Ting..tong


Pagi-pagi sekali rumah Bella sudah kedatangan tamu tak di undang. Sedangkan sang pemilik rumah masih berkutat di dapur menyiapkan makanan.


"Bella, coba lihat siapa yang datang?" Pekik Elsa dari ruang keluarga sambil mengecek tugas pemasukan toko baju.

__ADS_1


"Tanggung, Mah. Aku lagi masak." Jawab Bella tak kalah keras.


"Biar aku saja, Nek." Sahut Devano seraya menuruni tangga sudah rapi dengan seragam sekolahnya berwarna merah dengan baju batik.


"Iya."


Devano membuka pintunya. "Ayah Nando." Devano heran melihat Nando datang bersama dengan keluarganya, Calista, Zahra, dan Dimas. Mereka juga membawa beberapa bingkisan yang telah di hias sedemikian rupa seperti hantaran pernikahan.


"Pak, tolong turunkan hantarannya!" Pinta Calista pada sopir.


"Baik, Bu."


"Devan, Mama?" tanya Nando.


"Oh, Mama ada di dalam lagi masak sarapan. Ayo masuk?" Devan mempersilahkan mereka masuk ke dalam.


"Vano, siapa sayang?" tanya Elsa belum melihat ke ruang tamu.


Bella yang baru saja selesai memasak terkejut baru ingat kalau Nando akan datang kesini. "Ayah Nando kesini?"


"Iya, Mah. Mereka juga membawa hantaran pernikahan. Ayah Nando juga menanyakan Mama."


[ Seriusan? Secepat ini? Aku kira dia akan datang sore atau malam hari. Eh, malah pagi-pagi begini. ]


"Ya, sudah. Kamu tolong bawa kue-kue yang ada di sana ke depan ya? Mama mau ganti baju dulu." Titahnya pada Devan seraya beranjak pergi ke kamarnya yang ada di lantai atas. Bella masih mengenakan dress rumahan sebatas lutut tanpa lengan dengan rambut di cepol asal.


Devano memperhatikan Bella dan mengangkat bahunya tidak mengerti. Diapun mengambil apa yang di perintahkan oleh Mamanya.

__ADS_1


"Eh, Nando, Calista, Dimas. Ada apa ini? Kenapa banyak sekali bingkisan?" Elsa yang mendengar Devan menyebut Nando segera beranjak ke ruang tamu untuk melihat. Dia sempat terkejut dengan hantaran-hantaran pernikahan.


"Kami mau mengantar Kakak melamar wanita pujaannya," Calista bersuara.


Lalu Nando, pria itu mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang ia cintai. Netra matanya tidak sengaja melihat pergerakan dari dapur dan itu adalah Bella. Jantungnya mendadak berdegup kencang kala ia kembali melihat Bella tanpa hijab yang hanya mengenakan dress rumahan. Dimatanya Bella sungguh mempesona dan membuat adik kecilnya seketika mengeras di balik celana.


[ Oh shi*t... Dia sungguh sangat cantik dan semakin sexy. Yang sabar burung, jangan bikin malu, nanti setelah dapat sarang yang pas kau boleh mengerami sarang burungmu. ]


"Mama sedang bersiap-siap dulu," sahut Devano menyimpan kue-kue di atas meja.


Hasna dan Ferdi tak kalah terkejut. "Ayah!" Panggil keduanya menghampiri.


"Eh, ada Kak Zahra juga," ujar Ferdi tersenyum riang mendekati bocah wanita lebih dewasa 4 tahun di atas umurnya.


"Isshhh... Ngapain duduk di sini? Di sana juga masih kosong." Protes Zahra menggeser duduknya menghindari bocah lelaki berusia lima tahun itu.


Para orangtua menggelengkan kepalanya, mereka sudah tahu keisengan Ferdi yang suka sekali menjahili Zahra dengan terus mendekati gadis itu. Tapi tidak dengan Nando yang pernah mendengar jika Ferdi cinta Zahra. [ Aku rasa Ferdi akan terus mendekati Zahra sampai kelak mereka dewasa. ]


Tak berselang lama Bella turun tangga. Nando tersenyum melihat wanitanya sudah datang dengan penampilan yang sangat cantik.


"Maaf membuat kalian menunggu." Ucap Bella duduk di samping Elsa.


"Hmmm berhubung Bella nya sudah ada, maka aku akan memulainya." Nando menarik nafas terlebih dulu lalu membuangnya.


"Bismillahirrahmanirrahim. Tante, bolehkan saya menggantikan posisi Tante dengan menjaga dan membahagiakan Bella layaknya perhiasan dunia yang paling berharga? Jika allah mengizinkan, saya ingin menjadikan Bella sebagai istri saya, menemani setiap langkah perjuangan saya, menjadi penyejuk hati saya dikala gundah dan menjadi penasihat saat saya melakukan kesalahan, saya merasa seperti telah menemukan orang yang tepat, sekiranya Tante dan anak-anak menyetujui, saya ingin melamar putri Tante juga Mamanya anak-anak dan melanjutkan hubungan kami berdua kejenjang pernikahan. Saya berjanji akan membahagiakan dan memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya. Saya ingin menyampaikan ketulusan hati saya bahwa saya mencintai anak Tante, izinkan kehadiran hidup saya mewarnai hidup anak Tante dan izinkan saya mengajak anak Tante kejenjang yang lebih serius dengan menikahinya. Bersediakah Tante dan anak-anak menerima lamaran saya?" tutur Nando serius.


Elsa tentu kaget karena Bella belum menceritakan lamaran ini. Dia menatap Bella yang hanya menunduk. Elsa menggenggam tangan putrinya. "Tante tidak punya hak untuk menentukan. Biarlah Bella yang menjawab. Nak, apakah kamu mau menerima pinangannya Nando?"

__ADS_1


Bella seketika mendongak menatap Nando yang juga tengah menatapnya menunggu jawaban Bella. "Bismillahirrahmanirrahim, aku menerimanya."


[ Semoga ini adalah jodoh terakhirku, aamiin. Aku percaya rencana Allah lebih indah. ]


__ADS_2