
Bruukkk....
Kedua pemuda yang sedari tadi panik, cemas, kini terdiam di tempat melihat apa yang terjadi. Keduanya melongo tak berkutik di saat wanita yang mereka khawatiran tengah menghadang makanan yang ada di depannya menjaga supaya tidak ada yang menyentuh.
Para preman yang sempat berkelahi dengan Bella saling lirik melihat siapa yang datang merusak pintu rumah salah satu dari mereka.
"Hei, bocah-bocah, bisa tidak kalau bertamu ketuk pintu dulu kek, mengucapkan salam kek, jangan asal dobrak saja! Pintu rumah saya kalian rusak, pokoknya saya tidak mau tahu kalian harus ganti rugi!" pekik bos preman memegang kepala melihat pintunya rusak.
"Dim, kita tidak salah lihat kan?" bisik Nando heran melihat di dalam rumah sedang banyak orang dan banyak hidangan makanan tersedia.
"Sepertinya tidak, Do. Kayaknya mereka lagi pesta, deh." Balas Dimas juga heran dengan keadaan yang di luar ekspektasi mereka.
"Nando, Dimas, sedang apa kalian di sana?" tanya Bella santai menyantap ayam panggang tanpa rasa takut. "Ayo kemari! Makanannya enak-enak lho. Mereka baik menyediakan ini untuk menyambutku," lanjutnya.
"Kalian budeg apa tuli sampai tidak menjawab ucapan Nak Bella?" sentak Bos preman mengagetkan keterkejutan kedua pemuda itu.
Nando tersadar dari keterkejutannya, ia langsung saja memeluk Bella di hadapan mereka semua. Hatinya terasa lega, rasa cemas dan kekhawatiran yang sempat ia rasakan kini hilang telah sirna melihat wanita yang ia sayangi baik-baik saja.
"Kamu tidak apa-apa kan? mereka tidak ngapa-ngapain kamu? aku khawatir sama kamu, sayang. Aku tidak tenang kalau tidak bisa menemukanmu, aku takut kehilangan kamu." Ucap Nando berkaca-kaca memeluk erat tubuh Bella.
Bella yang sedang memegang ayampun mematung, ia menelan paksa makanan yang tersisa di mulutnya. Ucapan Nando membuat ia terpaku, kata sayang itulah yang membuatnya tak bisa berkutik.
Para preman dan Ibu preman menjadi baper melihatnya.
"Jhon, aku tidak bisa bernafas."
Nando mengurai pelukannya. "Maaf, maaf, aku terlalu kencang memelukmu. Aku sangat bahagia kamu baik-baik saja," ucap Nando menangkup kedua pipi Bella tak memperdulikan ada banyak pasang mata menontonnya.
"Ekheeemm....ekheeemm.... ada kita di mari, Nando," sindir Dimas.
Nando melepaskan tangkupannya namun masih berdiri di dekat Bella.
"Apa kalian keluarga dari Nak Bella?" tanya salah satu wanita yang ada di sana.
__ADS_1
"Iya, kami keluarganya," jawab Dimas.
"Syukurlah, saya ikut senang ada yang menjemputnya. Maaf tadi kami sempat melakukan kekerasan kepadanya," ucap bos preman merasa bersalah tak enak hati.
"Kau..!" Nando geram dan ingin menonjoknya namun di hadang oleh cekalan Bella.
"Dengarkan dulu penjelasan mereka, yang penting aku tidak kenapa-kenapa, Jhon." Nando pun menurunkan kepalannya.
"Maafkan kami, Tuan. Awalnya kami ingin memberikan dia pelajaran karena kami pikir dia adalah salah satu tukang hipnotis yang akan merampok kami," ucap bos preman bernama pak Togar.
Semuanya sudah duduk beralaskan tikar dan di tengah-tengah tersedia makanan.
"Masa cantik kayak gini di bilang tukang hipnotis? emangnya wajahku seperti penjahat ya?" tanya Bella cemberut.
"Kamu emang penjahat, Bel." sahut Nando.
"Bukan, Nando!" jawab Bella kesal.
"Penjahat! Karena kamu sudah mencuri hati aku," balas Nando menatap lekat-lekat wanita yang ada di sampingnya.
"Di simpan dulu gombalannya, kita lanjutkan lagi cerita pak Togar!" sela Dimas. "Silahkan, Pak!"
"Ada dua orang yang datang kemari memberitahukan bahwa akan ada perempuan tukang hipnotis niatnya merampok kami. Makanya kami menyangka Nak Bella tukang hipnotis."
Nando dan Dimas mengangguk mengerti.
"Tadi kami sempat dengar kalian tertawa dan berkata, ternyata ini nikmat juga, kita harus sikat habis dia, dan juga teriakan Bella, itu kalian sedang apa ya?" ujar Dimas mengulang ucapan yang sempat mereka dengar.
"Oh itu, tadi kami sedang memakan ayam bakar buatan istri saya, dan kami berniat menghabiskan makannya yang terasa nikmat bila di santap. Begitu pemirsa, jadi kalian jangan salah paham ya pemirsa!" ucap Pak Togar.
"Oooooohh seperti itu," jawab kompak Dimas dan Nando.
"Tapi kenapa kalian langsung baik kepadaku? padahal sebelumnya kalian sempat menyangka aku orang jahat?" tanya Bella yang dari tadi penasaran. Saat tersadar dari pingsannya Bella malah langsung di suruh makan oleh istrinya pak Togar.
__ADS_1
"Semua karena cincin yang Anda gunakan Nak Bella. Cincin itu sama seperti milik Nona Syafira dan siapa saja orang yang memakainya berarti dia adalah saudara Nona Syafira."
"Kalian kenal Syafira juga?" tanya Nando.
"Dia wanita yang sudah membantu kami mendapatkan tempat tinggal ini. Dulu kami hidup di jalanan, dan dia datang menawarkan kami tempat tinggal serta jaminan kehidupan asalkan kami berhenti dari dunia kami yang kelam."
"Awalnya kami tidak percaya, namun setelah dia menunjukan tempat ini beserta surat tanah kamipun percaya. Dan kami semua bersedia tinggal di sini dan bekerja sebagai para petani kemudian hasil panennya dia yang beli untuk usaha Cafe dan Restoran nya," lanjut pak Togar menjelaskan mengenai Syafira yang teramat baik kepada mereka.
"Dari situlah kami berjanji akan melindungi orang-orang di sekitar nona Syafira. Dan dia bilang, dimanapun kami bertemu dengan orang yang memakai cincin seperti yang Bella pakai itu tandanya dia adalah saudara Non Syafira. Karena hanya keluarganya yang memiliki cincin tersebut."
Nando, Dimas, dan Bella tak berkata, terutama Bella.
"Bahkan dari jauhpun kamu selalu melindungiku, Ra. Padahal dulu aku pernah jahat sama kamu," batin Bella menunduk terharu.
****
Bella duduk di depan teras menikmati angin malam. Mereka di suruh menginap malam ini saja mengingat waktu sudah malam dan butuh waktu untuk sampai.
Nando menyematkan jaketnya ke tubuh Bella. Bella yang sedang melamun pun terkejut.
"Eh...!"
"Di luar dingin, pakailah supaya tubuhmu terasa hangat."
"Nando, terima kasih," ucap Bella menahan jaket Nando di pundaknya sebab ia memang kedinginan.
Nando duduk di samping Bella, memeluk kedua lututnya dan menatap langit malam bertaburan bintang. "Malam ini terasa indah ya, bintang-bintang tak lagi bersembunyi di balik awan. Mereka menampakan keindahannya seolah ingin menunjukan ke seluruh penghuni dunia."
Bella mendengarkan dan ikut menengadahkan wajahnya ke atas meski ia tak bisa melihat apapun. "Tapi aku tak bisa melihat keindahan apapun, Jhon."
Nando menoleh mendekatkan wajahnya menatap lekat-lekat wanita cantik yang sempat ia sakiti, "Kamu tidak akan bisa melihatnya karena keindahannya ada di depan mataku," bisik Nando.
Hembusan nafasnya terasa hangat di pipi Bella, ia sampai menolehkan wajahnya dan tanpa sengaja bibir keduanya saling bertubrukan. Bella terbelalak dan langsung menjauhkan wajahnya.
__ADS_1
Nando langsung memeluk tubuh Bella. "Maafkan aku, aku pernah membuatmu terluka luar dalam. Aku juga pernah tidak mengakui kehamilanmu. Setelah kamu pergi, aku merasa kehilangan dan hidupku terasa hampa. Selama itu pula aku sadar ternyata aku mencintaimu, Bella. Melihat kamu di culik orang membuatku merasa trauma, aku takut kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya. Aku mencintaimu, Bella. Maafkan aku yang terlambat menyadari perasaanku," lirih Nando meneteskan air mata.
Bersambung....