Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Merawat )


__ADS_3

"Nando? kau sakit?" tanya Bella menghampiri.


Nando mengangguk menahan panas. Wajahnya pun memerah, tangannya mengigil. "hhhhhhh... panaasss.. hhhhh... sakiiittt..." Jaawab Nando seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.


[ Senjata ku kepanasan air panas, sakitt eeyyy. ]


Bella mendekat memegang kening Nando untuk memastikan. Nyes.... sentuhan Bella terasa adem di kulit Nando. Dan ternyata keningnya beneran panasas. Padahal, itu semua efek dari air panas yang tadi di tempel di kening.


"Ayah berenang tidak pakai baju, jadinya meriang," ujar Hasna sambil memijat kaki Nando menunduk sedih. [ merindukan kasih sayang, Ayah mah ] batin Hasna.


"Terus, beliau juga bersin-bersin. Lihat tuh, wajahnya aja sampai merah saking panasnya tuh badan," timpal Devano.


[ panas beneran inimah woy..] titik dalam hati Nando.


"Kenapa tidak ke dokter?" tanya Bella berjalan memutari sofa lalu duduk di hadapan Nando.


"Ini udah malam, Mah." Kali ini si bungsu Ferdi yang menimpali. Bella melihat arlojinya dan rupanya jam sudah menunjukan pukul 21:30


Bella berpikir bagaimana caranya supaya bisa membawa Nando di periksa. Setelah lama berpikir, dia mengingat jika Calista adalah dokter. " Ah iya, Calista kan dokter, Mama telpon dulu dia."


"Jangan!" pekik ke empat orang itu secara kompak.


[ bahaya atuh, bisa-bisa ketahuan bohongnya ] batin Hasna.


[ gawat darurat kalau sampai manggil Calista, bisa-bisa Bella tahu kalau gue bohongan. ] batin Nando.


[ kalau Tante Calista tahu, bisa ancur rencana kita. ] batin Devan.


[ wah Om, kalau sampai Tante Calista kemari kau dalam bahaya Om. Mamaku akan ngamuk nih. ]


Dahi Bella mengkerut seakan heran kenapa mereka begitu kompak melarangnya menghubungi Calista? "Kenapa jangan? Nando sedang sakit seharusnya di periksa ke dokter kan?"


"Anu, Mah. Ayah hanya membutuhkan perhatian saja. Tinggal Mama rawat Ayah sepenuh hati pasti sembuh," tutur Hasna.


Bella semakin tidak mengerti, dia memperhatikan Nando yang menggigil kedinginan. "Ya, perhatiannya dari dokter."


"Maksud Kak Hasna, Mama kompres Ayah Nando sampai panasnya turun. Cuman meriang doang tidak perlu ke dokterkan? Buang-buang uang dan waktu saja." Devano meluruskan maksud Hasna.

__ADS_1


Hhhhhhrrr...hhhhhhrrr...


Nando pura-pura menggigil, matanya ia pejamkan sembari kedua tangannya di atas dada. [ Kapan selesainya sih? Panas... Senjataku aduuuh.. hhffuuu...hhfffuu.. yang sabar ya Joni! ]


"Mah, rawat Ayah, ya? Mumpung ada Mama kesini. Kalau nunggu Tante Calista kelamaan, Mah." Hasna menghiba memohon.


"Iya, Mah. Please." Sahut Devano. Ferdi mah anteng bae dengan cemilan dan kartun kesukaannya namun, sesekali Ferdi melirik ke arah Nando.


[ Om Nando aktingnya menghayati sekali. Wajahnya pun seperti sedang kesakitan, sungguh aktor yang luar biasa ] Batin Ferdi.


"Baiklah, demi kalian Mama akan membantu kalian mengurusi Nando." Pada akhirnya Bella mengalah saat melihat Hasna dan Devano memohon.


[ Bantu sih bantu, tapi ini kapan dinginnya? Tuhaaan ingin kuteriak panaaaas...]


"Mama mau bikin sup buat menurunkan panas badannya dan juga sus bisa menghangatkan tubuh. Dimana dapurnya?" Bella sudah berdiri.


"Tinggal lurus saja belok kanan," tunjuk Hasna.


[ Iya ayo, pergi dulu, Bella! Huss huuss sana! ] Nando sudah tidak tahan lagi menahan panas. Salah satu matanya mengintip pergerakan Bella.


Bella pun beranjak ke dapur dan pada saat itu, Nando terbangun begitu tergesa dan menyibakkan selimutnya.


"Panas.. Panaasss.. Fyuuhhh fffyuuuhhhh.." Nando mengambil botol yang ada di atas miliknya lalu membuangnya ke sembarang arah kemudian mengipas-ngipasinya. Dan itu di perhatikan oleh ketiga kurcaci yang ada di sana.


Mereka mengulum tawa melihat Nando jingkrak-jingkrak mengipasi bagian intinya menggunakan bantal sofa.


"Ck, tidak usah tertawa! Ini panas sekali." Nando mencebik kesal.


"Jadi, dari tadi wajah Om memerah menahan sakit dan panas?" tanya Ferdi berbisik.


"Sudah tahu pake tempe," sergah Nando kesal.


"Ffhhh... Kasihan sekali senjatamu, Ayah Nando." Ledek Devan.


Hasna cekikikan di balik telapak tangan yang menutupi mulutnya. [ Kasihan sekali kau Ayah. ] Hasna kembali menoleh kearah dapur.


"Mama..."

__ADS_1


Sontak, Nando kembali berbaring menyelimuti dirinya, menempelkan kain kompres, dan kembali pura-pura menggigil dengan mata yang terpejam.


Hhhrrrrr... Hhhrrrrr...


Ketiga kurcaci itu juga kembali duduk seperti semula. Bella menyimpan satu mangkuk sup ayam di atas meja, melihat kompresan yang akan merosot ke lantai. Bella mengambil kompresannya, lalu mengecek kembali suhu tubuhnya.


"Sepertinya tidak sepanas tadi."


[ Iyalah, tadi mah senjataku yang kepanasan. Kelau kepanasan berduaan denganmu si oke. Eh, otak mesumm! ] umpat Nando dalam hati.


"Diingiiiin..." ucap Nando.


"Kamu makan suonya dulu, Do. Agar badanmu terasa angetan."


"Kamu suapii ya?" Pinta Nando lesu sembari menggigil.


"Iya, Mah. Mama suapi bayi gede ini. Siapa tahu sakitnya sembuh tidak sepanas dan sesakit salah satu anggotanya," celetuk Ferdi tapi matanya menatap televisi.


"Hasna saja yang suapi Ayahnya." Bella menyuruh Hasna.


"Hoaaaammm.. Hasna ngantuk, Mah. Mama saja ya, aku mau tidur dulu." Pamit Hasna mengucek matanya pura-pura mengantuk kemudian berdiri beranjak ke kamarnya.


"Lho, Hasna!"


"Aku juga ngantuk, Mah. Tuh, sudah mau pukul 22:40 waktunya tidur. Ayo, Ferdi!" Devano juga ikutan berdiri mengajak adiknya masuk kamar. Ferdi pun mengangguk.


"Kok kalian pada pergi sih? ini gimana?" Bella memekik heran. Masa dirinya yang harus mengurusi Nando.


"Huachiimm.. hhhrrrrr... dingin..." [ yes, bisa berduaan. Tak apalah pura-pura sakit asal bisa di rawat dia. ]


Bella menghelakan nafasnya secara kasar. Dia duduk di tempat yang tadi Hasna duduki. "Bangun dulu, makan dulu sup nya mumpung masih hangat!" Bella mengambil mangkuknya dan Nando perlahan mendudukkan tubuhnya sambil di selimut.


"Aaaaaa." Nando sudah membuka mulutnya berharap Bella menyuapi dirinya. Bella ragu-ragu untuk menyuapinya tapi, melihat Nando yang memang seperti sakit kedinginan menjadi tidak tega. Diapun menyendok kan supnya, meniupinya dulu dan itu di perhatikan oleh Nando.


[ Kamu semakin cantik Bella. Andai aku bisa memiliki kamu lagi. ]


Bella menyodorkannya kemudian Nando menerima suapan dari Bella sambil memandangi wajah Bella yang menunduk menatap sup. Pria itu menatap dalam-dalam wajah wanita yang ternyata masih bertahta di hatinya.

__ADS_1


[ Cinta itu nyatanya tak pernah pudar meski seberapa besar dan seberapa kuat ku berusaha melupakanmu. Aku memang pernah mencintai wanita lain yang menjadi istriku tapi kenyataannya, cintaku padamu yang lebih dominan. Apa salah kalau seandainya ku mengharapkan mu kembali? apakah akan ada kesempatan untukku bisa mendapatkan hatimu dan menjadi pendampingmu? ]


__ADS_2