Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
Tuhan.....Jangan Kau Ambil Anakku!


__ADS_3

Buah hati adalah karunia sekaligus titipan Sang Kuasa, terkadang justeru dari mereka kita belajar menjadi lebih dewasa. Dewasa dalam mengambil tindakan lebih tepatnya berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu.


Belajar sabar, sabar dalam mendidik anak, sabar membesarkan anak, sabar merawat anak di saat anak rewel, sabar mengajarkan anak dalam hal apapun.


Belajar disiplin, disiplin bangun pagi, disiplin mengerjakan tugas rumah, disiplin mengatur waktu.


Dari anak juga kita sering belajar tentang kekuatan hati, kejujuran, ketulusan, kepolosan, dan bagaimana mencintai dengan baik tanpa pamrih.


Anak kecil kadang jauh lebih tau tentang arti kasih sayang dan perhatian yang sebenarnya. Pikirannya begitu suci, nalurinya sangat manusiawi, jiwanya bersih, dan hatinya suci.


Anak adalah titipan surga dari Tuhan yang harus kita jaga, kita rawat, kita didik, dan kita arahkan untuk menjadi salah satu jalan kita menuju surga.


Bella berusaha keras menjaga, melindungi, mengayomi titipan dari Tuhan untuknya. Tangan mungil Hasna terus ia genggam tak ingin melepaskannya.


Bibirnya sesekali mengecup punggung tangan sang anak dan sesekali mengecup kening putrinya. Hatinya hancur di saat sang putri di nyatakan terkena kanker darah.


Jiwanya terguncang, batinnya terkoyak, matanya tak henti meneteskan cairan bening yang seakan tak pernah habis untuk keluar.


"Kenapa ini terjadi kepada putriku, Tuhan? dia hanyalah anak kecil tak berdosa yang tak tahu apapun mengenai dunia. Jika engkau ingin menghukum ku, hukumlah aku semaumu tapi jangan kau hukum putriku."


"Aku yang berdosa, aku yang melakukan kesalahan, namun kenapa harus putriku yang mendapat hukuman?" batin Bella menjerit sakit terbaring memeluk tubuh mungil putrinya tak ingin jauh dari Hasna.


"Mama, Hasna ingin bobo bareng Mama dan Ayah. Boleh ya?" pinta gadis kecil itu di pelukan Bella.


Bella mengerjap-ngerjapkan mata supaya air matanya tak menetes. Hatinya bimbang antara menolak dan mengiakan.


"Mama, boleh ya Hasna bobo bareng Ayah dan Mama? kali iniiii....saja..." ucapnya kembali memohon sambil memainkan kancing baju Bella.


"Boleh, nanti Mama bilang sama Ayah," jawab Bella terpaksa mengiakan permintaan putrinya.


"Terima kasih, Ma. Aku syenang bisa bobo bareng kalian, ini yang aku mau dari dulu," girangnya membalas pelukan Bella.


"Segitu inginnya kah kamu menginginkan Mama dan Ayah bersama?" batin Bella.


******


Sementara di ruang tamu, semua orang sudah berkumpul.

__ADS_1


Dimas dan Alex duduk di kursi sebelah kanan, Calista dan Nando duduk di sebelah kiri, sedangkan Elsa berada di antara kedua kursi tersebut.


Hasna sudah di perbolehkan pulang namun harus tetap dalam pengawasan dan tidak boleh kelelahan.


Berhubung tidak ada jadwal praktek, Calista ikut kerumah Elsa menemani Kakaknya.


"Jadi kalau ingin sembuh Hasna harus melakukan kemoterapi?" tanya Elsa.


"Sebenarnya ada beberapa pengobatan yang umum diberikan untuk mengobati leukemia pada anak," jawab Calista.


"Pertama Kemoterapi. Ini merupakan pengobatan utama untuk leukemia anak. Anak akan menerima obat antikanker untuk diminum atau disuntik ke dalam vena, otot, atau kanal tulang belakang."


"Kedua Radioterapi atau terapi radiasi. Terapi ini menggunakan radiasi berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker."


"Ketiga Terapi target. Pengobatan ini menggunakan obat yang dapat menyerang sel kanker secara spesifik tanpa merusak sel yang sehat."


"Dan terakhir Transplantasi sumsum tulang. Pengobatan ini dilakukan dengan mengganti sel punca yang rusak akibat penggunaan kemoterapi dosis tinggi dengan sel punca yang sehat," jelas Calista menyebutkan pengobatan apa saja yang bisa di lakukan oleh Hasna.


"Kalau gitu lakukan yang terbaik untuk Hasna, soal biayanya aku yang akan menanggung semuanya!" kata Alex tegas dan yakin.


"Kau tidak perlu membiayai pengobatan Hasna! Aku Ayahnya dan aku yang akan berusaha keras mencari uang untuk pengobatan putriku sendiri!" jawab Nando tak ingin putrinya di bantu Alex.


"Aku bilang tidak perlu...!"


"Cukup...! Kalian tidak usah berdebat lagi! Ini bukan waktunya mempermasalah siapa yang harus bertanggungjawab mengobati Hasna? tapi, sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana cara supaya Hasna bisa sembuh. Masalah biayanya kita bisa patungan, bukan?" lerai Dimas menghentikan perdebatan keduanya.


"Tante ingin cucuku cepat sembuh, kiranya pengobatan seperti apa yang mempercepat penyembuhannya?" tanya Elsa setelah semuanya berhenti.


"Transplantasi sumsum tulang belakang atau sel punca (stem cell). Pengobatan ini cenderung berhasil namun juga cukup sulit menemukan donor yang pas."


"Dengan transplantasi sumsum tulang belakang atau sel punca, pasien kanker darah bisa menjalani kemoterapi dosis tinggi serta pengobatan lainnya. Pasien bisa mendapat transplantasi melalui sel puncanya sendiri (autologous transplant) atau dengan sel punca dari donor yang pas (allogeneic transplant) dan kemungkinan akan cepat sembuh," tutur Calista.


"Kalau gitu lakukan yang terbaik, Kakak bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangku untuk Hasna," ujar Nando.


"Aku juga siap," sahut Alex.


"Saya juga siap, siapa tahu diantara kita ada yang cocok," timpal Dimas.

__ADS_1


Elsa menatap haru, ternyata masih ada orang yang memperdulikan cucunya. "Tante juga siap!"


******


Hari hari telah berlalu, bahkan sudah hampir bulan Hasna menjalani kemoterapi. Dan orang yang ada di sekitar Hasna juga sudah melakukan serangkaian tes untuk mendonorkan sumsum tulang belakang buat Hasna. Namun, diantara mereka tidak ada satupun yang cocok.


Bella melamun di dekat taman depan rumah tak memperhatikan Hasna yang sedang berlarian mengejar kelinci dan bermain sepeda.


"Lagi ngelamunin apa, Nak?" Elsa ikut duduk di samping Bella. Matanya sempat melihat Hasna yang sedang memberikan makan kelinci.


"Mah, apa Hasna akan sembuh? sudah berbagai macam pengobatan kita lakukan, bahkan mencari pendonor buat Hasna pun sudah dilakukan. Tapi, sampai sekarang belum ada yang cocok."


Elsa menggenggam tangan Bella. "Kamu harus percaya bahwa Hasna akan sembuh. Kamu tidak boleh menyerah, kamu harus optimis bahwa Hasna akan baik-baik saja."


"Mama, Nenek, Hasna lelah mau tidur," lirih Hasna menghampiri keduanya.


"Mau Mama temani, sayang?" tanya Bella.


"Aku mau tidur sendiri saja, Mah." tolak Hasna.


"Ya, sudah. Kamu istirahat saja, nanti setelah tidur kita kerumah sakit lagi melakukan cuci darah, ya."


"Iya, Mah." Hasna pun beranjak pergi ke kamarnya.


"Padahal dia sedang sakit, tapi dia terlihat sangat ceria dan wajahnya sangat bercahaya," ucap Elsa


"Hasna anak yang kuat," lanjutnya menatap punggung cucunya yang masuk ke dalam rumah.


******


Seperti biasa, Bella akan membangunkan Hasna dengan mengusap pucuk kepala putrinya. "Hasna, bangun sayang. Ini udah mau empat jam kamu tidur, Nak. Kamu kan harus...." Bella terpaku saat tangannya memegang dahi Hasna yang suhunya terasa tak biasa. Mendadak sendi-sendinya terasa lemas tak bertenaga.


Iapun menyentuh beberapa bagian tubuh putrinya, "Hasna...bangun...sayang!" Bella memangku tubuh mungil putrinya memeluk erat sang anak. Air matanya menetes mengalir deras. "Tuhan.... jangan kau ambil anakku!" jerit batinnya mendekap Hasna.


Bersambung....


Sebenarnya aku kurang paham soal masalah penyakit kanker. Namun sebisa mungkin dan apa yang aku tahu, aku tuangkan dalam tulisan.

__ADS_1


Apabila ada yang salah, mohon di maafkan karena saya tidak begitu paham. 🙏🙏🙏


__ADS_2