
Di tengah hamparan pemakaman umum bertuliskan nama Alex Ramadanu, seorang wanita berusia 39 tahun tengah menangis tersedu-sedu merasa kehilangan atas kepergian suaminya yang secara mendadak, dia Arabella.
Bella masih tidak percaya suaminya pergi secepat ini. Padahal, Alex tidak pernah menunjukan tanda-tanda seperti orang sakit. Tapi nyatanya, Alex meninggal akibat penyakit jantung koroner yang menyerangnya secara mendadak. Alex juga meninggal di usianya yang masih terbilang muda, yaitu 41 tahun.
Meski kepergiannya sudah berlangsung tiga bulan yang lalu, namun semuanya masih meninggalkan duka yang mendalam di hati seorang Arabella dan anak-anaknya.
"Mas, kenapa kamu pergi secepat ini? aku tidak sanggup harus kehilangan kamu untuk selamanya. Hatiku sakit, jiwaku terasa hampa, separuh hidupku terasa hilang," lirihnya menunduk mengusap pusara sang suami.
"Pah, kami sangat kehilangan Papa. Aku juga tidak bisa menerima kepergian Papa secepat ini. Kau Papa terhebatku, kau pelindung kami, kami harus apa jika tanpa Papa?" batin Afsheen Hasna Lanika, putri tunggal mereka berusia 15 tahun.
Hasna pun ikut menangis meraskan kehilangan, dia menaburkan bunga di atas makam Papanya dan ini tepat tiga bulannya Alex pergi.
"Pah, Devano janji akan melindungi Mama dan Kakak. Devano juga janji akan membahagiakan Mama dan Kakak semampu Devan. Papa yang tenang di sana, kami menyayangimu, Papa." Batin Devano Ramadanu, berusia 10 tahun. Dia juga ikut menaburi bunga ke atas makam Papanya.
Hasna memeluk Bella yang ada di antara dirinya dan Devano. Bella juga membawa Devano ke pelukannya menumpahkan rasa kesedihan yang mendalam bagi mereka.
Setelah selesai berziarah, mereka perlahan meninggalkan pemakaman tersebut. Bella sempat menoleh kebelakang menatap sedih makam suaminya sambil merangkul kedua anaknya yang akan menjadi penguat dirinya.
"Aku pamit dulu, Mas. Aku akan tetap mencintaimu di relung hatiku terdalam. Aku juga akan menjaga anak-anak kita sampai mereka dewasa," batin Bella sedih.
Meski terasa berat melangkah, perlahan namun pasti, ketiganya melangkah meninggalkan tempat itu.
********
Paris
Di bawah langit yang sama namun berbeda negara. Seorang pria berusia 44 tahun juga tengah menatap makam mendiang istrinya. Dia juga berdoa khusu menengadahkan tangannya membacakan doa untuk ke tentraman istrinya di tempat yang berbeda, dia adalah Jhon Vernando.
__ADS_1
Ini adalah tahun ke tiga istrinya meninggal. Mentari, istri Nando meninggal akibat kangker payudara yang menggerogoti tubuh istrinya. Di pernikahannya, Nando belum di karuniai seorang anak. Dia dan istrinya lebih fokus menyembuhkan penyakit Mentari. Namun, takdir berkata lain.
Pria dewasa itu menatap batu nisan bertuliskan Mentari di balik kaca hitamnya. Tangan kirinya mengusap nisan itu dan tangan kanannya menaburkan bunga mawar di atas makam Mentari.
"Kau yang tenang di sana, istriku. Sekarang kau tidak lagi merasakan sakit. Aku disini baik-baik saja walau ku akui sulit melupakanmu." Pria itu menunduk sedih harus kehilangan orang yang ia cintai. Meski tak dapat di pungkiri bahwa rasa cinta untuk Bella masih bersemayam di relung hati yang terdalam.
Nando berdiri, dia beranjak pergi meninggalkan pemakaman itu. Setibanya di apartemen yang mereka tempati, Nando segera mengemasi barang-barangnya. Dia akan pulang ke tanah air setelah tiga tahun tidak pulang ke kota M.
Semenjak Menikah, Nando lebih memilih tinggal di Paris karena belum bisa melupakan Bella. Sempat satu kali ke Indonesia untuk memperbaiki hubungannya dengan putrinya dan kembali lagi ke Paris setelah hubungan Ayah dan anak itu berangsur baik. Dan dia hanya ke Indonesia setiap satu tahun dua kali dan itupun tanpa bertemu dengan Bella. Kalaupun ingin bertemu Hasna, Calista yang selalu mengajaknya kerumahnya.
Dan juga ada alasan lain yaitu tidak sanggup dan belum bisa melihat kebahagiaan Bella bersama pria pilihannya. Dia memang mencintai Mentari, tapi hatinya juga masih merasakan perasaan terhadap Bella.
Jika bicara soal Bella, Nando belum mengetahui kalau Alex sudah tiada tiga bulan yang lalu. Maka dari itu, dia ingin kembali menetap di Indonesia untuk berdamai dengan masalalunya dan ingin bertemu putrinya.
***********
"Kamu sih telat bangunnya. Udah Mama gedor-gedor pintu kamarmu tapi tidak ada sahutan juga. Kebiasaan deh suka di kunci dari dalam." Omel Bella seraya mengambil uang di dalam sakunya.
"Kagak kedengeran, Mah. Semalam lembur mengerjakan tugas sekolah.
"Ini uang jajan buat kamu. Devan sudah menunggu di dalam mobil." Ucapnya memberikan selembar uang berwarna merah.
"Makasih, Mah." Hasna tersenyum mengambil uang itu. Dia mencium pipi Mamanya dan berlalu pergi menuju sekolah di antarkan sopir keluarga.
Setiap hari, Bella memberikan uang jajan untuk anak-anaknya sebesar seratus ribu untuk satu hari. Baik Hasna maupun Devan selalu menyisihkan uang jajan tersebut sebagian di tabungkan, sebagian di pakai uang jajan dan sebagian lagi mereka bagikan. 50 untuk jajan sehari, 25 di tabung, 25 lagi di sisihkan untuk orang yang lebih membutuhkan. Mereka melakukannya atas didikan Alex dan mereka berdua melakukannya dengan senang hati tanpa paksaan.
Bella menatap kepergian putrinya yang kian hari beranjak dewasa. Sifat dan sikap Hasna persis seperti Alex. Baik, sopan, bertanggungjawab, pandai menabung, sering berbagi, sering menolong sesama dan jarang pandai bergaul dan juga jarang bicara.
__ADS_1
"Kamu berhasil mendidik mereka, sayang. Kamu adalah pria terhebat yang kami miliki. Aku mencintaimu." Gumam Bella mendongak mengerjapkan matanya supaya tidak menangis lagi.
Dia pun beranjak menuju konveksi tas untuk meninjau pekerjaan mereka. Tas yang di hasilkan sudah beredar di seluruh kota Indonesia dengan merk Gucci. ( Halunya bebas ya 🤣🙏 )
Perusahaan yang di tinggalkan oleh Alex untuk anak istrinya dan juga sebuah rumah sakit. Sedangkan Bella sendiri memiliki toko baju online yang juga sudah terkenal ke penjuru Indonesia.
**********
Nando baru saja mendarat di Indonesia, pria itu menatap tanah air kelahirannya. Ada rasa haru dan juga rindu pada tempat itu. Dia menghirup dalam-dalam udara di kotanya.
"Kakak." Panggil seseorang dan Nando menoleh. Dia tersenyum melihat wanita berumur 35 tahun itu.
Calista menghambur kepelukan Nando menangis penuh rindu. "Aku merindukanmu, Kak."
"Kakak juga merindukanmu, Dek." balas Nando memeluk adiknya.
"Apa kabar, Do?" sapa Dimas. Nando mengurai pelukannya, dan memeluk adik iparnya.
"Cukup baik. Aku senang bisa melihat kalian lagi."
"Ayah Nando melupakan aku." Celetuk gadis cantik berusia 9 tahun memberenggut kesal sambil bersedekap dada.
Nando tersenyum, dia beralih menatap keponakannya kemudian berjongkok mensejajarkan tubuhnya. "Apa kabar cantik? Ayah tidak melupakan kamu, kok. Sini peluk?" Nando merentangkan tangannya dan gadis kecil itu menghambur kepelukan Omnya yang di panggil Ayah.
Nando memejamkan matanya dan hatinya berkata, "Memulai dari awal. Semua telah berlalu. )
Bersambung....
__ADS_1