
"Bolehkah Ayah duduk di sini?" Nando izin terlebih dulu untuk duduk di dekat Hasna.
"Mau duduk silahkan, mau tidak juga silahkan, itu kosong kok," jawabnya dingin. Gadis kecil itu tak sedikitpun menoleh ke arah Nando, matanya terus fokus ke permainan Lego yang ia susun sesuai warna.
Nando menghelakan nafas. "Lagi main apa sih, serius banget kayaknya?" Nando duduk di samping Hasna memperhatikan kegiatan sang putri.
"Masa enggak tahu ini apa? pasti Om tahukan ini namanya apa?" imbuh Hasna jutek.
Nando menggaruk kepalanya, "Susah banget deketin ni anak," batinnya.
"Hmmmm hehehe Ayah hanya iseng bertanya saja, siapa tahu Hasna mau menjelaskan lagi bikin apanya."
Hasna tak menjawab.
"Spadaaa, Hasna, Om Dimas mampir bawa makanan dan mainan kesukaan kamu, nih." Dimas nyelonong masuk menghampiri Hasna dan langsung duduk di tengah-tengah Nando dan Hasna.
"Waahhhh! Om Dimas tahu saja makanan kesukaan aku. Ini juga, mainannya bagus banget! Aku suka, Om. Makasih ya, Om Dimas emang calon Ayah pengertian," kata Hasna berbinar melihat ayam krispi dan nugget kesukaannya di tambah mainan Barbie hidup membuat Hasna semakin berbinar bahagia.
Nando kesal dan mencibikkan bibirnya melihat sikap Dimas yang menurutnya ingin mencuri perhatian Hasna. "Ck, modus lama," batinnya.
"Iya, dong. Om kan emang akan jadi Ayah kamu, makanya Om harus pengertian dan yang pasti sayang sama kamu, mau menerima kamu dan Mamamu," sindirnya kepada Nando.
Nando merasa tersindir akan ucapan Dimas. "Hasna, sayang. Ayah juga punya hadiah untuk kamu," Nando tak ingin kalah sama Dimas.
"Hadiah apa?" Hasna pun menoleh.
Sebenarnya Nando tidak memiliki hadiah apapun, tapi ia tidak ingin kalah dari Dimas. Nando berpikir dulu hadiah apa yang akan di berikan pada putrinya.
"Mana hadiahnya? katanya punya hadiah untuk Hasna? pasti Om bohong," cerca Hasna menengadahkan tangan mungilnya.
"Punya, Ayah punya hadiahnya," Nando mengambil dompet mencari sesuatu untuk di berikan kepada sang putri.
Sebuah gelang serut berhiaskan permata kecil berbentuk hati Nando pasangkan ke tangan mungil sang putri.
__ADS_1
"Ini hadiah untuk Hasna, gelang ini Ayah beli ketika dulu Ayah bekerja sebagai penjual minuman. Dulu, Ayah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli ini. Tadinya Ayah akan berikan hadiah ini untuk ibu dari anak-anak Ayah sebagai pengingat bahwa Ayah pernah berjuang untuk kehidupan yang sekarang."
"Gelang ini begitu berarti untuk Ayah karena butuh perjuangan untuk bisa membelinya. Begitupun dengan Hasna, Hasna sangat berarti bagi Ayah dan Ayah akan terus berjuang demi mendapatkan maaf dan kasih sayang dari Hasna."
"Maafkan Ayah yang tidak ada di saat kamu membutuhkan Ayah, maafkan Ayah yang tidak pulang-pulang. Maafkan Ayah," ujar Nando memasangkan gelang ke tangan mungil Hasna memegang erat tangan putrinya dan menatap penuh penyesalan sempat tidak menginginkan keberadaannya.
Dimas terdiam, ia tahu kehidupan temannya saat dulu. Dia juga tahu perjuangan Nando untuk membeli gelang ini karena dialah yang dulu mengantarnya ke toko perhiasan. Meski harganya tidak seberapa, namun perjuangannya lah yang begitu besar.
Hasna juga menatap wajah Nando dengan berkaca-kaca, gadis kecil itu tidak bisa berbohong bahwa dia benar-benar merindukan sosok Ayahnya. "Ayah," lirih Hasna pelan.
Nando langsung memeluk tubuh mungil sang anak, mengecup pucuk kepala sang putri penuh sayang dan penuh perasaan. "Maafkan Ayah."
Bella dan Elsa mendengar pembicaraan mereka dari pintu dapur. Hati Bella kembali terenyuh akan sikap Nando dan hadiah yang di berikan untuk putrinya.
Elsa mengusap punggung Bella, "Biarkan Nando memberikan kasih sayangnya untuk Hasna. Biarkan dia menebus kesalahannya untuk kebahagiaan putrimu. Hasna begitu merindukan Ayahnya dan membutuhkan sosok Ayah. Walau bagaimanapun Nando adalah Ayah kandung Hasna. Kita tidak bisa memutuskan hubungan darah antara keduanya. Mungkin kamu bisa menolak keberadaan Nando tapi Hasna, dia masih kecil, dia masih membutuhkan kedua orang tuanya."
"Cukup sampai kamu yang tidak merasakan kasih sayang Papamu, tapi tidak dengan Hasna. Selama Nando masih ada, biarkan dia membahagiakan dan memberikan seluruh kasih sayangnya kepada anakmu."
Bellapun mencerna setiap nasehat dari Mamanya, demi Hasna, ia akan membiarkan Jhon mendekati putrinya.
****
"Elsa, dia sudah membunuh Ibu gue, gue lihat sendiri Ibu mati di hadapannya. Tapi bi Sri bilang, Ibu yang ingin membunuh Elsa?" hahaha dia pikir gue percaya sama ocehan pembantu sialan itu? tidak! Gue tidak percaya. Gue tidak akan membiarkan Elsa hidup, gue akan membalasnya. Nyawa di balas nyawa," ujar Tiara kembali meminum wine.
"Udahlah, Ti. Biarkan masa lalu terus berlalu, lagian Ibumu sudah tiada dan tenang di alam sana. Kalaupun Elsa yang salah biarkan Tuhan yang menghukum. Mending sekarang kita main saja, gue udah rindu sentuhan loe."
Keduanya sudah sama-sama mabuk, mereka berdua sudah kecanduan alkohol dan sulit untuk berhenti.
"Tidak akan, gue tidak akan biarkan dia hidup tenang, gue akan membuat dia menyesal telah membuat Ibu gue tiada," balas Tiara menyeringai merencanakan sesuatu.
Tiara duduk di pangkuan Adit dalam posisi berhadapan. "Kamu maukan membantuku? sebagai hadiahnya akan ku berikan kamu kepuasan dan kalau kamu tidak mau membantuku, aku akan...."
"Iya, gue tahu kau akan melaporkan gue ke polisi atas kasus tabrak lari satu tahun lalu. Baiklah, gue akan menuruti perintahmu tapi berikan ku kepuasan dan tandatangani dulu ini!" Adit mengambil sebuah dokumen memberikannya kepada Tiara.
"Apa ini?"
__ADS_1
"Ini surat perjanjian bahwa kamu tidak akan melaporkanku ke polisi," ucap Adit memangut kasar bibir Tiara.
"Hmmmm baiklah, asalkan kamu mengikuti setiap perintahku dan jangan sekalipun menolak!" balasnya tegas mengambil map tersebut dan langsung menandatangani suratnya tanpa di baca terlebih dulu.
Tanpa sepengetahuan Tiara, Adit tersenyum menyeringai. Keduanya sama-sama saling merencanakan sesuatu dan rencana tersebut hanya mereka yang tahu.
****
"Kita akan kemana lagi, nih? masa dari tadi muter di kawasan taman, sih." tanya Nando kepada Hasna dan Bella.
Nando mengajak Hasna jalan-jalan, ia ingin lebih dekat lagi dengan sang anak sambil mendekati Ibunya juga. Hasna pun mengiakan setelah mendapatkan izin dari sang Mama dan minta Bella menemaninya.
Sekarang mereka sedang berada di taman bermain dan sedang duduk di salah satu bangku yang ada di sana.
"Eh, itu ada sepeda, kita main itu yuk, Mah." Ajak Hasna melihat seseorang bermain sepeda saling berboncengan.
Hasna terlihat ceria bisa bermain bareng Ayahnya, ini yang sering ia impikan dari dulu.
"Boleh, kalian tunggu di sini! Ayah akan menyewa sepedanya dulu." Nando beranjak dan segera menyewa sepeda.
Kring kring
"Ayo naik!" ajak Nando sudah siap menggayuh.
"Ayo, Mah. Kita naik bareng Ayah," Hasna menarik tangan Bella memaksanya ikut naik di belakang.
"Kamu sama Ayah saja ya, Mama tunggu di sini saja!" tolak Bella.
"Ayolah, Bel. Apa kamu tidak mau membuat Hasna bahagia?" bujuk Nando.
"Ayo, Mah," rengek Hasna. Dan akhirnya Bella mengikuti kemauan sang putri demi kebahagiaannya.
Ketiganya asik berkeliling sepeda, Hasna di depan, Nando di tengah sebagai supirnya dan Bella di belakang. Bella sesekali tersenyum mendengar celoteh Hasna yang terdengar sangat bahagia. "Tetaplah tersenyum, Nak. Apapun akan Mama lakukan demi kebahagiaanmu," batinnya mencekal erat besi yang ia duduki supaya tidak jatuh.
Bersambung....
__ADS_1