
"Jangan anakku! Kami akan mengganti semua kerugiannya dan kasih kami waktu. Tapi jangan kau jadikan Bella pelayanmu!" Elsa mencegah Hendra dengan menghadangnya.
"Diam kamu! Ini sudah menjadi keputusanku! Kau harus menuruti semua perintahku!" bentak Hendra mendorong keras Elsa menyingkirkannya dari hadapan dirinya.
"Aku tidak mau...! Mah, tolong aku..!" teriak Bella berontak dengan derai air mata terus membasahi pipinya.
"Pasukan..! Jaga wanita ini agar dia tidak bisa mengganggu aktivitas ku! Dan jaga kamarku supaya tidak ada yang masuk ke dalam!" pekik Hendra menyuruh anak buahnya untuk menjaga Elsa dan berjaga di depan kamarnya.
Anak buah Hendra mencekal kedua tangan Elsa supaya Elsa tidak bisa kabur.
Hendra menyeret paksa Bella.
"Tidak...! aku tidak mau melayanimu, Pah! Kau Papa ku, aku anakmu!" pinta Bella histeris terus berontak.
"Jangan, Pah!" Elsa berontak namun tidak bisa lepas sebab kiri kanan di cekal oleh dua orang ajudan berbadan besar.
Hendra menyeret dan melemparkan Bela ke atas ranjang secara kasar. Hendra mulai melakukan aksi yang selama ini ia inginkan. Di dalam sana Bella terus menjerit, menangis, memohon, meminta tolong kepada siapa saja yang ada di sana.
Meski mendengar setiap jeritan pilu Bella, Jhon tidak berkutik sedikitpun. Walaupun di dadanya terasa sesak mendengar ucapan memohon Bella ia tak mau membantu. Dia berpikir wanita seperti Bella harus di berikan pelajaran supaya tidak seenaknya bertindak.
Elsa tertunduk lesu di lantai mendengar teriakan anaknya. Hatinya sakit dan hancur dengan apa yang terjadi kepada mereka. Elsa menangis sesegukan mendengar teriakan Bella yang meminta menyudahi dan memohon untuk melepaskan dirinya. Ruangan yang di tempati Hendra tidak kedap suara. Jadi bisa terdengar keluar ruangan. Elsa tidak bisa mencegah keinginan Mahendra dan tidak bisa melawan para ajudan Hendra.
Ketika Mahendra ingin menggauli Bella tiba-tiba yang ia lihat bukanlah Bella melainkan sesosok tubuh besar berwajah menyeramkan penuh darah dan orang itu menyerupai Albern Alexander.
Hendra sampai tersungkur kebelakang saking terkejut dan takutnya. "Se setaann!" pekik Hendra segera memakai pakaiannya.
Dalam hati, Bella merasa bersyukur karena Mahendra belum sempat menggaulinya. Namun, ia tetap merasa jijik dan merasa hidupnya sudah hancur. Meski ia pernah menjadi wanita bayaran, jika di perlakukan seperti ini ia merasa tidak terima.
Setelah berselang lama, Hendra keluar dari kamar dengan pakaian berantakan dan tersenyum puas pada Elsa. "Anakmu sungguh mantap, akan ku pastikan dia terus melayaniku sampai kerugian perusahaan ku bisa terselesaikan secepatnya." Ucap Hendra tak merasa bersalah. Diapun berjalan meninggalkan tempat itu padahal dia berusaha menutupi kegagalannya.
Elsa mengepalkan tangannya, matanya sudah memerah akibat amarah yang sudah memuncak. Dia murka dan dia mengambil senjata yang ada di salah satu pengawal Hendra.
"Dasar baj****n kau Hendra! Brengsek! Tidak punya hati! Kau pantas mati...!" umpat Elsa murka.
__ADS_1
Dorrr....
Suara tembakan menggema di ruangan tersebut.
Hendra memegang pundak yang terkena tembakan. Dia membalikan badan, rahangnya mengeras, giginya terdengar berbunyi kemudian dia menghampiri dan menampar Elsa bolak balik sampai bibir Elsa mengeluarkan darah dan tersungkur ke lantai akibat pingsan.
"Tinggalkan mereka! Antar saya kerumah sakit!" titah Hendra. Kesadarannya sudah mulai melemah akibat tembakan di tubuhnya. Para pengawal yang berjumlah tiga orang itupun memapah Hendra ke rumah sakit. Namun belum juga sampai mobil, Hendra pingsan.
Jhonpun ikut meninggalkan tempat itu, sebelumnya ia menoleh ke belakang dan matanya menatap tak percaya melihat kedua pipi Elsa terdapat cap lima jari. Karena tidak mau ribet, Jhon sampai hati meninggalkan Elsa dan Bella.
Saat sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, hati Jhon gelisah tak menentu memikirkan kondisi Elsa dan Bella. Diapun memutuskan menepikan mobilnya.
"Kau antarkan Tuan ke rumah sakit, aku ada urusan dulu!" titah Jhon pada salah satu anak buahnya.
"Baik, Bos."
Jhon pun segera melambaikan tangan mencegat taksi dan langsung kembali ke rumah Mahendra.
Setelah sampai dan dengan tergesa, Jhon menghampiri Elsa yang masih tergeletak di lantai. Sebelumnya ia mencari keberadaan Bella kesetiap sudut rumah dan hasilnya nihil.
****
POV BELLA
Aku terus melangkah mengikuti kemana langkah kakiku membawaku. Aku terus menatap kosong dan berjalan kaki dari pagi sampai sore hari menyusuri setiap tempat.
Banyak orang yang memperhatikanku dan menyangka diriku orang gila baru. Tapi, aku tak peduli akan ucapan mereka. Aku menyesal telah memberikan segalanya kepada orang yang dulu ku cintai. Kini aku sadar bahwa apa yang telah ku lakukan salah. Sekarang nasib hidupku menjadi kacau akibat ulahku sendiri.
Aku merasa hidupku tidak berguna lagi, apa yang ku harapkan semuanya sirna. Ayah dari anak yang ku kandung pun tidak mau bertanggung jawab, rencana penikahan gagal bahkan aku sendiri sempat di lecehkan oleh Papa sambungku.
"Hiks hiks hiks Aku ingin bahagia seperti mereka, namun mengapa rasanya sangat sulit? hidupku sudah tidak berguna lagi. Kini aku benar-benar hancur setelah Papa sambungku sendiri melakukan pelecehan terhadap diriku." Gumam Bela berjalan kaki di atas aspal panas tanpa alas kaki. Dia terus berjalan meratapi nasib hidupnya.
"Tuhan....Aku tidak sanggup lagi hidup kalau pada akhirnya aku harus menjadi pelayan papa sambungku." Bela teriak di atas jembatan dekat sungai. Kakinya mulai naik ke penyangga jembatan.
__ADS_1
Aku tidak memperdulikan mereka yang berniat mencegahku meski orang itu Syafira sendiri. Tekadku sudah bulat ingin mengakhiri segalanya. "Mama, Pak, maafkan aku yang tak bisa menjadi wanita yang baik." Batinku dan akupun langsung melompat.
Dadaku sesak, nafasku mulai tersengal di kala tubuhku terus masuk ke dasar sungai. Penglihatanku mulai buram dan aku merasa hidupku akan berakhir sampai disini. Tapi, ketika tubuhku dan kesadaran ku mulai melemah, aku merasa ada seseorang yang merengkuh tubuhku dan aku sempat melihat. "Syafira!" sampai pada akhirnya aku tak lagi sadarkan diri.
POV BELLA END
****
Rumah Sakit
Bella mengerjap-ngerjapkan matanya, ia mulai melihat kesekeliling tempat. "Seperti rumah sakit," gumam Bella berusaha duduk.
"Bagaimana keadaanmu." Tanya seseorang mendekati brangkar Bella.
Bella sempat terkejut melihat Syafira. "Ngapain kau kesini? pasti kau akan menertawakanku kan? dan kenapa kau menyelamatkanku? pasti kau mau membalas semua perbuatanku?" cerca Bella bertubi-tubi enggan melihat Fira.
"Aku kesini untuk memastikan keadaan janin mu. Aku tidak akan puas hanya dengan menertawakan dirimu. Alasan ku menyelamatkanmu karena ku kasihan kepada anak yang tidak berdosa yang ada di dalam Kandunganmu. Jika ku ingin membalasmu, sudah ku lenyapkan kau di dalam air." Dengan santai dan dingin Fira menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan Bella.
Bella terdiam, namun matanya kembali berembun. "Kenapa kau tidak membiarkan ku mati saja, hah! Hidupku sudah tidak berguna lagi, kau bahkan merebut Reyhan dari ku di hari pernikahan kami. Kau juga sudah membuka semua keburukan ku di hadapan semua orang, bahkan sekarang aku harus menjadi pemuas nafsu Papa sambungku," pekik Bella prustasi dan tersedu.
"Apa dengan membiarkanmu mati hidupmu akan kembali tenang? untuk Reyhan, apakah kau benar-benar mencintainya atau hanya terobsesi saja? aku membuka seluruh rahasiamu bukan maksudku mempermalukan mu melainkan agar kau sadar bahwa yang kau lakukan salah. Dan untuk pelecehan yang kau alami, maaf itu tidak ada sangkut pautnya denganku." Fira kembali memberikan pertanyaan dan menjawab setiap ucapan Bela.
"Setidaknya dengan mati, aku tidak mengalami hal seperti ini lagi. Aku mau mati saja!" pekik Bella melepaskankan jarum infus di tangannya.
"Kau mau mati? ambillah!" Syafira menyodorkan sebuah senjata api ke hadapan Bella.
Bella dan Syafira sempat berdebat dan pada akhirnya Bella luluh dengan setiap perkataan Syafira dan memutuskan untuk pergi dari kota ini di bantu oleh Syafira.
"Halo, Bang. Dimana lelaki itu?" Fira menelpon salah seorang ajudannya dan bertanya keberadaan Jhon.
"Baik, aku ke sana sekarang juga."
Bersambung...
__ADS_1
Di BUKAN JANDA BIASA (Hanya status) saat Bella berniat bunuh diri ada di bab 82 sedangkan Syafira menasehati Bella ada di bab 84.