
Syafira melangkah cepat menuju ruangan dimana Elsa berada. Sebelumnya, ia sudah berkonsultasi dengan dokter untuk membawa Elsa terbang ke luar kota dan dokterpun mengizinkan karena memang tidak ada luka yang serius.
Syafira mendapat laporan dari anak buahnya jika Jhon membawa Elsa ke salah satu rumah sakit terdekat.
"Sus, kenapa beliau di pindahkan bukannya barusan sudah di periksa?" tanya Jhon bingung dan berusaha mencegah. Dia masih menunggu Elsa tersadar dari pingsannya.
"Maaf, Pak. Kami hanya menjalankan tugas saja," jawab salah satu suster yang mendorong brangkarnya.
"Tapi, sus, dia belum..." ucapannya terhenti kala melihat Syafira masuk ke ruangannya. "Syafira!" gumam Jhon pelan.
"Bu," ucap kedua suster dan Fira hanya mengangguk.
Setelah mereka keluar, Fira menatap tajam Jhon menghampirinya dan tanpa aba-aba langsung melayangkan pukulan.
Bugh...Bugh...
Dua pukulan keras Syafira layangkan ke wajah Jhon.
"Kenapa kamu memukulku?" Jhon meringis kesakitan memegang sudut bibirnya yang berdarah.
"Pukulan ini belum cukup atas apa yang telah kau lakukan kepada Bella," sentak Fira.
"Aku tidak mengerti ucapanmu, Ra?" Jhon masih belum ngeh.
"Pria macam apa kamu ini sampai hati memperlakukan Bella sebegitu rendahnya? kamu ambil kehormatannya setelah kamu pakai, kamu menyuruh dia melupakannya. Bahkan kamu sering menidurinya sampai dia benar-benar hamil dan sekarang kamu tidak mengakui kehamilannya. Kamu bahkan diam saja di Om Mahendra berusaha melecehkannya? kau itu manusia apa setan, hah?"
"Kamu pria terbodoh yang hanya bisa menggunakan otot tanpa menggunakan otak. Bella mencintaimu, Bang. Dia sampai rela menyerahkan kesuciannya demi dirimu tapi kau?" tunjuk Fira tepat pada wajah Jhon.
"Kau mencampakkannya dan kaulah yang berpengaruh besar dalam perubahan diri Bella," bentak Fira menatap tajam Jhon.
"Bang Alex, bawa dia ke tempat penahanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dulu dan sekarang! Cukup bagiku membebaskan dia." Syafira begitu saja meninggalkan Jhon yang sedang di bawa Alex dan anak buahnya.
"Hei, apa-apa ini? Syafira kenapa kau mempenjarakanku? bukannya aku sudah menuruti kemauan kalian!" Jhon berontak dari cekalan Alex dan anak buahnya. Alex terpaksa memukul tengkuk Jhon dan Jhonpun tak sadarkan diri.
****
"Selamat tinggal kenangan, selamat tinggal kepahitan, selamat tinggal Jhon, semoga di tempat baru aku menemukan kebahagiaan bersama anakku." Satu tetes air mata kembali meluncur di pipi Bella bertepatan dengan halikopter terbang meninggalkan area halipad di atap rumah sakit.
"Nak, kamu pasti kuat! Kita akan memulai hidup yang baru di sana." Elsa menggenggam tangan anaknya.
Bella hanya mengangguk menatap kebawah memperhatikan kota kelahirannya semakin lama semakin menjauh.
****
Byur....
__ADS_1
Siraman air membangunkan Jhon dari pingsannya. Jhon mengusap wajah yang tersiram air.
"Bukan waktunya bermalasan Jhon. Kau harus bangun dan kerjakan ini semua!" titah seorang pria bertubuh besar memberikan setumpuk pekerjaan yang tidak masuk di akal.
"Apa ini? kenapa kau memberikanku beras bercampur kedelai sebanyak ini?" tentunya Jhon bingung.
"Kau pisahkan beras dan kedelai itu sampai semuanya terpisah sempurna!"
"Aku tidak mau melakukannya! Ck, hanya orang bodoh yang mau melakukannya. Lagian kau aneh-aneh saja memberikanku pekerjaan yang tidak masuk akal," tolak Jhon.
"Kau harus menuruti perintah kami karena kalau tidak, kau tak akan pernah bertemu adikmu selamanya! Bos kami memberikan kau keringanan untuk hidup padahal kau telah menghilangkan dua nyawa dan sudah berencana membunuh Bos kami. Bos kami masih berbaik hati tidak mempenjarakanmu seumur hidup melainkan lima tahun penjara di bawah pantauan dirinya." Pria itu langsung saja meninggalkan Jhon yang mematung.
"Bos, menghilangkan dua nyawa? apa dia Syafira?" batin Jhon bertanya-tanya.
Jhon segera berlari keluar melihat sekeliling tempat. Tempatnya begitu asing karena masih banyak pepohonan dan bangunanpun hanya beberapa beserta beberapa tahanan lainnya. "Dimana ini? kenapa tempatnya begitu asing?" gumam Jhon.
"Kau tak akan bisa keluar dari sini karena pulau ini pulau terpencil yang di sediakan Bos untuk para penjahat yang sudah mengusik mereka. Maka tidak akan ada yang bisa keluar dari sini selain Bos sendiri yang mengeluarkan," kata penjaga yang sedang main catur.
"Skak..."
"Sialaaann! Kalah mulu. Kau curang, Juned."
"Kaunya saja yang tidak bisa main catur, Beno."
Jhon terdiam tak bisa berkata apa lagi, kini ia harus menjalani hari-harinya di pulau ini atas penjagaan yang ketat sampai masa tahanannya habis.
****
"Rumah?!" Elsa sampai terkejut.
"Benar, ini rumah yang telah Bos sediakan untuk kalian tempati."
Bella tak bisa berkata apapun, Syafira begitu baik padanya. Elsa juga sampai berkaca, "Tuhan, kenapa dia begitu baik pada kami setelah apa yang kami lakukan?"
"Silahkan masuk!" anak buah Syafira mempersilahkan keduanya masuk dan membawakan koper mereka kedalam lalu pergi setelah urusannya selesai.
Bella dan Elsa menatap bangunan kokoh berlantai satu itu. Rumahnya minimalis dan sangat nyaman untuk di tinggalin bahkan sudah lengkap dengan perabotan.
"Aku merasa bersalah karena sudah berbuat jahat kepadanya, Ma. Tapi sekarang, dia adalah orang pertama yang membantuku," ucap Bella duduk di sofa.
"Mama juga merasa bersalah. Mama janji, mulai hari ini Mama akan menjadi orang yang lebih baik lagi." Janji Elsa yakin ingin merubah sikapnya.
"Aku juga sama, semoga aku bisa menjadi wanita sebaik Syafira. Dan aku janji tidak akan mengulangi hal yang sama lagi." Janji Bella di hadapan Mamanya.
****
__ADS_1
Ting-tong
Pagi-pagi sekali seseorang sudah bertamu ke rumah Bella. Elsa yang kebetulan telah selesai membuat sarapan membukakan pintu.
"Mau mencari siapa ya?" tanya Elsa kepada seorang gadis muda yang sudah tersenyum ramah kepadanya.
"Pagi, Tante. Aku mau bertemu Bella, apa Bella nya ada?" katanya.
Meski bingung, Elsa mempersilahkannya masuk dan menyuruhnya duduk.
"Sebentar, saya panggilkan dulu Bella nya. Eh, itu dia..." Elsa tak jadi ke kamar di karenakan Bella sendiri menghampiri tamunya.
"Bel, ada yang mencarimu."
Bella tidak mengenal siapa dia, namun iapun duduk. "Maaf ada apa ya mencari saya?"
"Sebelumnya perkenalkan, namaku Fitri, manager keuangan SC and R di kota ini. Kedatangan ku kemari atas perintah atasan kami, Syafira."
"Syafira?!"
"Dia ingin memberikan ini kepada kalian!" Fitri menyerahkan sebuah koper yang ia bawa dan menaruhnya di atas meja.
"Apa ini?" tanya Elsa dan Bella secara bersamaan.
"Nanti juga kalian akan tahu isinya. Kalau gitu saya pamit dulu karena masih banyak urusan yang harus saya kerjakan." Pamit Fitri beranjak dari duduknya.
"Ah, ia silahkan!" Kata keduanya masih bengong.
Elsa penasaran, ia segera membuka kopernya dan keduanya terbelalak kaget melihat isinya adalah uang gepokan besar berjumlah sepuluh gepok dan jika di hitung mencapai 1 M.
"U uang..!!"
Handphone baru Bella berbunyi dan ia segera mengangkatnya. "Hallo."
"Hallo, Bel. Ini aku Syafira. Apa Fitri sudah mengantarkan kopernya?"
"Su sudah, tapi, maksudnya ini apa, Ra?"
"Aku tahu kalian pasti akan membutuhkannya dan aku tahu bahwa kalian tidak akan menerima Cafe pemberiankanku. Maka dari itu, aku memberikan uang, sebagian kalian bisa gunakan untuk modal usaha dan sebagian lagi bisa kalian gunakan untuk membeli ruko, dan peralatan usahanya. Semoga uang itu bisa membantu kamu."
Bella menengadahkan wajahnya mengerjapkan mata yang sudah berair. "Kenapa kau membantuku sejauh ini?" lirih Bella enggan dan menyesal.
"Walau bagaimanapun kamu adalah saudaraku meski bukan anak kandung Om Mahenda. Tak akan ku biarkan saudaraku terluntang lantung. Sudah dulu ya, semoga uang itu bermanfaat untuk kalian." Syafira mematikan panggilannya setelah Bella mengiakan.
Bella tak bisa berkata apapun lagi, dia hanya bisa menangis diam menyesali perbuatannya kepada orang sebaik Syafira. "Aku janji akan menggunakan uang ini sebaik mungkin, terima kasih, Ra. Kebaikanmu tak akan pernah ternilai."
__ADS_1
Bersambung....