
Ting tong...
"Pagi-pagi begini siapa yang bertamu?" lirih Bella ketika sedang menyiapkan hidangan makanan di atas meja untuk anak-anak lebih tepatnya untuk mereka bersama.
"Biar aku lihat dulu, Mah." Hasna bergegas berdiri ingin tahu siapa yang datang pagi-pagi buta begini.
Ceklek..
"Ayah!" Hasna mengernyitkan dahi. "Tumben pagi-pagi ke sini, ada apa?" tanya Hasna mempersilahkan Nando masuk.
Nando tersenyum mengusap kepala Hasna yang terbalut hijab sekolah. "Ayah ingin mampir saja. Nanti berangkat bareng Ayah ya?"
"Aku sih ayo. Dengan senang hati," jawab Hasna tersenyum seraya berjalan berdampingan.
"Dimana Mama kamu?"
"Di dapur. Kita sarapan bersama, ya?" ajak Hasna merangkul lengan Nando membawanya ke meja makan.
"Siapa yang datang, Hasna?" tanya Bella saat mendengar langkah kaki mendekati meja makan. Dirinya masih menyibukkan diri menuangkan makanan di atas piring anak-anaknya.
"Ayah Nando. Selamat pagi." Ucap Devano dan Felix secara bersamaan. Sontak Bella menoleh ke belakang mengerutkan keningnya.
Nando tersenyum. "Pagi juga. Maaf pagi-pagi sudah menggangu kalian. Ayah Nando cuman mau melihat Mama kalian apakah kakinya sudah baik atau masih sakit? Ayah Nando juga mau mengantarkan kalian kesekolah."
Bella menjawab, "Kakiku sudah mendingan."
"Bohong, Do. Tadi malam saja Bella mengeluhkan kakinya. Katanya masih sakit, perih juga. Saat Tante lihat ternyata bengkak," sahut Elsa.
"Benarkah? pasti kamu tidak kerumah sakit kan? aku sudah bilang untuk di periksa tapi kamu selalu ngeyel tidak perlu. Sekarang kamu duduk biar aku yang melakukan ini semua!" Nando memegang kedua pundak Bella mendudukkan tubuhnya.
"Aku baik-baik saja, Do. Mama saja yang berlebihan. Kakiku tidak bengkak," balas Bella berkata jujur. Dia tahu niat Mamanya untuk lebih mendekatkan dirinya dan Nando. Tapi tidak usah berbohong juga kan.
Elsa tersenyum tipis saat matanya bertubrukan dengan mata putrinya.
"Apapun itu aku tidak mau dengar. Kamu harus di periksa lagi. Jangan menolak apalagi keras kepala, ok!" ujar Nando tegas tanpa mau di bantah.
Bella menghelakan nafasnya Tidak ada satupun anggota keluarga yang membelanya. Justru mereka semua diam dan malah mendukung apa kata Nando.
********
"Bagaimana, Dek? apa kaki Bella baik-baik saja?" tanya Nando pada Calista mengenai lukanya Bella.
__ADS_1
"Kakak tenang saja, lukanya tidak terlalu parah. Tidak bengkak juga, hanya lecet sedikit akibat goresan-goresan batu atau ranting." Jawab Calista seraya menyiapkan obat lukanya.
"Syukurlah, Kakak lega dengarnya." Ucap Nando bernafas lega.
"Tuh kan, apa kataku, kakiku baik-baik saja. Kamu yang ngeyel untuk minta di periksa."
"Kan aku khawatir sama kamu, sayang. Setidaknya hatiku lega setelah tahu luka kamu baik-baik saja tidak terlalu parah."
Nyes...
Bella terpaku akan kata sayang itu. Seketika rona di wajah menghampiri. Sungguh ia malu, malu karena Nando bilang sayang di depan Calista.
Calista tersenyum mengeluarkan kepalanya. Nando sampai membangunkan dirinya pagi-pagi hanya terlalu khawatir pada Bella.
"Ayah, kapan kita berangkat sekolahnya? ini udah siang." Pekik Hasna dari balik pintu masuk.
"Astaghfirullah, Ayah lupa. Ayo kita berangkat." Nando berdiri. "Dek, makasih udah mau Kakak repotin pagi-pagi buta gini. Ayo sayang, kita antar anak-anak sekolah."
[ Bisa gak sih gak usah panggil sayang di depan Calista? aku malu. ]
********
"Ferdi belajar yang rajin ya, sayang."
"Siap, Ayah Nando." Anak lelaki itu menyalami orang-orang yang ada di mobil kemudian turun dan berjalan masuk gerbang seraya melambaikan tangan lalu berlari masuk.
"Hmmm aku turun di sini ya. Sekalian nunggu Ferdi sampai pulang."
"Tapi kamu tidak boleh pulang sebelum aku jemput kamu. Jangan kemana-mana jika aku belum sampai!" ucap Nando memperingati.
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian Bella, sayang. Lagian aku ngajar hanya sebentar. Pukul 10 pun sudah pulang. Kamu tunggu saja ya?"
Bella mengangguk, "Aku tunggu kamu. Jangan lupa, awas?"
"Iya. Aku pamit dulu."
"Dah Mama. Assalamualaikum." pamit Hasna dan Devano silih berganti menyalami tangan Bella.
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
*******
Tibalah Nando di sekolah. Hasna dan Devano celingukan takut ketahuan orang-orang jika dirinya di antar oleh guru mereka.
"Kenapa?"
"Kami takut ketahuan, apa kata mereka kalau kami ini anak dari salah satu guru disini? apa kata dunia kalau mereka tahu kami ada hubungan dengan pemilik sekolah ini?" jawab Hasna.
"Kak Hasna benar, pasti mereka akan heboh dan berusaha mendekati Ayah Nando dengan para ibu-ibu janda. Sejak awal masuk saja mereka sudah ingin menjodohkan Ayah Nando dengan ibu dari murid yang kehilangan suaminya. Dan aku tidak mau Mamaku jadi imbasnya dan berfikir jika Mama telah memanfaatkan kita untuk mendekati Ayah. Karena mereka tahunya kami anak Papa Alex," tutur Devan di angguki oleh Hasna membenarkan.
Nando menghelakan nafasnya. "Tidak akan yang bisa menyakiti Mama kalian selagi ada Ayah di sini. Hati Ayah juga akan tetap mencintai Mama kalian. Percayalah."
"Semoga saja, Yah."
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tidak begitu menyukai Hasna dekat dengan guru BK sekaligus guru olah raga itu.
"Lagi-lagi Hasna selangkah lebih maju dariku. Aku tidak akan membiarkan dia dekati Pak Nando. Dia harus menjadi Papaku. Enak saja Hasna mau menjadikan pemilik perkebunan jadi target Papanya, tidak akan." ucap Devi.
Devi salah satu murid yang kurang menyukai Hasna. Hasna selalu di gemari banyak orang karena kecantikannya, kebaikannya, kepintarannya, dan kekayaannya dan itu membuat Devi benci. Baginya Hasna adalah saingan terberatnya dan juga merasa iri. Dia juga salah satu keponakan orang yang bekerja di perkebunan. Pamannya Devi bekerja di perkebunan milik Nando, dan Pamannya Devi menginginkan Nando menjadi suami Ibunya Devi. Berharap bisa kebagian kayanya. Ya, harta. Mereka ingin bergelimang harta.
********
Kegiatan mengajar Nando telah selesai, dia lebih dulu pulang untuk menempati janjinya menjemput Bella dan juga Ferdi. Dengan tergesa, dirinya keluar area sekolah tanpa melihat kiri kanan. Saat berbelok keluar gerbang mobilnya tak sengaja menabrak seseorang.
Bruuk...
"Astaghfirullah! Suara apa itu? sepertinya aku menabrak seseorang?" Nando cepat-cepat keluar dan ternyata benar. Dia melihat seorang wanita tergeletak di dekat mobilnya tertindih motor.
"Astaghfirullah Mbak..! Maaf saya tidak sengaja." pekik Nando membantu membangunkan motornya.
"Pak Nando." Satpam sekolah berlari mendekatinya membantu Nando.
"Ssthhh aw... kaki saya sakit sekali." Ringisnya terduduk memegangi kakinya.
"Pak, kakinya terluka." Ucap Pak Dadang melihat luka di betis wanita itu.
Nando bingung, di satu sisi ia ada janji tapi di sisi lain ia harus bertanggungjawab.
"Ayo, Pak. Bawa dia ke klinik terdekat!" pak satpam kembali bersuara mendesak Nando untuk membawanya klinik..
"Maaf, Mbak. Saya antar kerumah sakit ya? ini salah saya tidak hati-hati." Nando tentunya cemas. Demi kemanusiaan ia membantu wanita itu.
__ADS_1