Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Titik terang )


__ADS_3

Puk.. puk.. puk..


Seseorang menepuk-nepuk pipi Bella secara halus seakan takut menyakitinya. Orang tersebut sedang berusaha menyadarkan wanita yang ia sekap dalam keadaan tak sadarkan diri akibat obat bius.


"Kamu tidak terlalu banyak memberikan obat biusnya kan?"


"Tidaklah, mana berani memberikannya dalam dosis banyak. Dia kan orang yang Nando cintai."


"Tapi kenapa belum bangun juga? Ini sudah hampir dua jam Bella pingsan. Kalau sedikit tidak akan selama ini?"


"Mana ku tahu, coba kamu bangunkan lagi!"


"Hei, bangun! Jangan bikin saya takut dong. Apa kamu mati? Jangan mati dulu sebelum saya kasih kejutan kepada pria itu." Dia menepuk-nepuk kembali pipi Bella.


Bella merasakan sentuhan seseorang membuatnya mulai tersadar dari pingsannya. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang mulai menyinari penglihatannya. Setelah terbuka sempurna, ia mengedarkan pandangannya meneliti setiap tepat itu.


"Aku dimana ini?" lirihnya.


"Kau di rumah kami." Bella melihat ke arah suara. Matanya terbelalak terkejut dengan apa yang ia lihat.


"Kalian?! Jadi kalian yang menculikku?!"


"Hahahaha kau tidak bisa kabur dari sini sampai misi kita berhasil."


********


Lain halnya dengan Nando masih kelimpungan mencari Bella. "Bella, kamu kemana? Ini semua gara-gara ku tidak bisa menjagamu. Seandainya aku ikut menemanimu kau pasti tidak akan hilang begini."


Drrrrrttttt... Drrrrrttttt...


Ponsel Nando bergetar. Ia melihat siapa yang menelpon. "Tante Elsa! Ya Allah, apa yang harus ku katakan kepadanya? Pasti saat ini Tante Elsa menyuruhku untuk mengantarkan pulang Bella."

__ADS_1


Dia menarik nafas dalam-dalam dari hidung kemudian membuangnya lewat mulut. Keringat dingin mulai membasahi area wajah sesekali mengucapkan peluh tersebut. "Tenang.. tenang.. tenang.."


Nando menggeser tombol warna hijau. "Assalamualaikum, Tante."


"Waalaikumsalam. Nando, apa Bella masih bersamamu? Ini sudah mau jam sembilan malam namun, ia belum pulang juga. Kata Devano, terakhir kali pergi bersamamu."


"Hmmm Tante, Nando akan ke sana sekarang juga."


"Oh, iya, baiklah. Tante tunggu kepulangan Bella. Tante khawatir sama dia."


"Baik, Tante." Jawabnya lesu. Dia harus siap mendapatkan amukan dari Elsa. Dia juga harus berkata jujur mengenai semuanya.


***********


Tibalah Nando di depan rumah Bella. Nyalinya menciut tak berani melangkah masuk. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya merasa gugup, takut dan juga merasa bersalah tidak bisa menjaga Bella sampai ia kecolongan kehilangan jejak Bella.


Tangannya terulur mengetuk bel.


Ting tong


"Nak Nando." Elsalah yang membuka pintunya. Cuman, matanya seakan sedang mencari sesuatu. "Lho, Bellanya mana? Apa dia tertidur di dalam mobil?"


"Hmmm Tante, maafkan aku. Aku lalai menjaga Bella." Nando menunduk merasa bersalah atas apa yang terjadi barusan.


Elsa mengernyit, "Maksudnya lalai menjaga Bella apa?"


"Bella... Bella hilang entah kemana."


"Apa?! Bella hilang? Kenapa bisa? Kamu itu gimana sih, jaga Bella saja tidak bisa." Pekik Elsa terkejut mendengar kabar Bella hilang.


"Maaf Tante. Saya salah tidak hati-hati dalam menjaga Bella. Saya menyesal tidak bisa menjaganya." Raut wajah Nando murung menunduk sedih. Dia bingung harus mencari kemana lagi. Sebelum menemui Elsa, dirinya sempat menanyakan kepada anak buahnya dan tak ada satupun yang mengetahui dimana Bella. Dia juga mencari dulu ke tempat dimana Bella sering kunjungi dan sukai.

__ADS_1


"Kau ceroboh sekali, Nando. Bagaimana kalau Bella di apa-apain orang? Dari dulu kau hanya bisa membuat onar di kehidupan anakku. Tante tidak mau tahu, kau harus menemukannya malam ini juga!" Sergah Elsa marah.


"Baik Tante. Aku akan...." Belum juga selesai bicara, ponselnya berdering dan iapun mengangkatnya dulu. Dahinya mengkerut tak mengenali no ponselnya. [ No baru, siapa ya? apa mungkin ada kaitannya dengan Bella? ]


"Pasti kau sedang kebingungan mencari wanitamu, bukan?"


"Aaaaa Mas Nando.. tolong aku.."


Deg..


Mata Nando terbelalak terkejut. Seketika pikiran negatif mulai menghampiri kalau Bella di culik.


"Bella..! Kau siapa, hah? kau apakan Bella?" Nando terkejut mendengar teriakan Bella.


"Tidaaaaak.. jangan lakukan itu.. ku mohon... Jangan!" Jerit Bella histeris ketakuatan membuat Nando semakin panik.


"Siapa kau? Jangan sakiti Bella!" Sentak Nando.


"Kalau kau ingin wanitamu selamat datanglah ke xxxx sendirian tanpa memanggil polisi. Jika kau melanggar, aku tak segan-segan menikmati santapan di depan saya ini. Hahahhaha..."


"Jangaaaaan..." teriak Bella.


Tut.. Tut..


"Haloo.. haloo... Brengsekk.."


"Ada apa Nando?" Elsa yang sedari tadi mendengarnya ikutan panik dan ingin mengetahui apa yang terjadi.


"Bella, Bella sepertinya di culik orang tak dikenal. Aku harus datang menyelamatkannya, Tante. Aku khawatir pria itu menyakiti Bella."


"Bella di culik?! siapa yang menculiknya? kenapa anakku selalu mendapatkan masalah ketika bersamamu?" Elsa terduduk lesu di kursi yang ada di teras depan rumah.

__ADS_1


Nando diam tak berkutik. Jika mengingat masa lalu, ia memang sering memberikan Bella masalah. Masalah yang membuat hidup Bella berantakan sehancur-hancurnya. Nando menengadahkan kepalanya kea atas menahan air mata yang tiba-tiba mendesak ingin keluar. "Maaf. Saya membuat Bella dalam bahaya. Saya akan mencarinya sekarang juga. Doakan saya supaya saya bisa membawa Bella pulang. Apapun akan saya lakukan demi menyelamatkan Bella. Aku permisi dulu, Tante."


Elsa tak menjawab, ia hanya tertunduk lesu memijat pelipisnya merasakan pusing dan tentunya kaget atas apa yang terjadi.


__ADS_2