Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
Menerima


__ADS_3

"Mama, kapan Papa tinggal bareng kita? kata Bunda, Papa Alex akan terus bersama kita?" gadis kecil bermata sipit itu menghampiri Bella dan berdiri di hadapannya.


"Lho, kok bawa-bawa Bunda, sih?" protes Syafira seolah tidak tahu dan kaget.


"Kan tadi Bunda bilang, Papa Alex akan terus bersama kita, itu artinya Papa akan tinggal bareng kita kan?" mata polosnya terlihat bingung.


"Hmmm, berarti Papa boleh tinggal bareng Mama?" tanya Alex membawa Hasna duduk di pangkuannya.


"Boleh, aku malah senang ada Papa karena Papa selalu ada buat aku dan Mama," jawabnya menatap mata Alex.


"Lalu Ayah Nando bagaimana? dia juga Ayah kandung kamu dan ingin tinggal bareng Mama, lho. Bukannya kamu ingin Ayah dan Mama bersama," tanya Alex ingin tahu isi hati Hasna.


Syafira, dan Felix menatap Hasna. Mereka berdua sudah bisa menebak keinginan Hasna.


"Hasna juga mau Ayah bersama kita. Tapi, Hasna tidak mau bikin Mama sedih. Hasna mempersilahkan Ayah untuk dekat dengan kami tapi tidak untuk merebut Mama dari Papa Alex. Hasna tahu kalau Ayah tidak menginginkan Hasna, dan Hasna juga tahu kalau Mama sering nangis gara-gara Ayah."


"Untuk itu, Hasna tidak mau bikin Mama nangis lagi karena Ayah. Papa, mau kan Papa Alex membahagiakan Mama dan tinggal bareng kami?" pintanya menatap penuh harap Alex bersedia mengabulkan permintaan nya.


Alex memeluk tubuh mungil Hasna. "Papa tidak Bisa janji untuk membahagiakan kalian. Tapi, Papa akan terus berusaha membuat kalian bahagia."


Alex mendudukan Hasna di kursi, ia beranjak mendekati Bella. Alex berjongkok menggenggam tangan Bella.


"Alex...!" Bella terkejut Alex tiba-tiba menggenggam tangannya di hadapan semua orang.


"Bee, aku sudah mengenalmu selama hampir empat tahun, dan selama itu cukup bagiku mengenal dalam kepribadianmu. Di hadapan semua keluargamu, aku Alex Ramadanu ingin mengungkapkan perasaanku bahwa aku mencintaimu Arabella."


Bella tak dapat lagi berkata, ia tidak menyangka Alex akan mengungkapkan perasaannya di hadapan semua orang. Matanya sudah kembali berkaca-kaca sebab ada pria yang menghargainya sebagai wanita.


"Bee, maukah kamu menikah denganku, menjadi ibu dari anak-anakku dan menua bersamaku?"


"Alex...!" Bella semakin tak bisa berkata. Bibirnya bergetar menahan rasa bahagia yang semakin membuncah. Namun ia tersadar bahwa ia hanyalah wanita hina yang tidak pantas mendapatkan Alex.


"Aku tidak sempurna, Lex. Aku... aku wanita kotor... aku... seorang pela*ur. Carilah wanita yang jauh lebih baik dariku, Lex." Bella melepaskan genggaman Alex. Dadanya sesak mengingat kembali masa lalunya yang kelam.


Mereka yang ada di sana terkejut mendengar penolakan Bella. Mereka berpikir Bella akan menerima begitupun Alex tapi ternyata, Bella menolaknya.


"Berapa kali ku bilang bahwa aku menerima kamu apa adanya, Bee. Lupakan masa lalu, kita bangun masa depan yang bahagia bersama Hasna. Kamu mau kan menikah denganku?" ungkap Alex meyakinkan Bella kalau dia benar-benar menerima Bella.


"Apa kamu tidak akan menyesal menikahi wanita seperti ku?" tanyanya memastikan takut Alex akan menyesal saat sudah di pertengahan jalan.

__ADS_1


"Tidak akan." jawabnya yakin dan tegas.


Air mata Bella semakin meluncur, senyumnya mengembang dari bibir tipisnya, dan Bella mengangguk. "Aku mau."


Lega, semua yang ada di sana merasa lega dan ikut bahagia Alex mampu mendapatkan hati wanita yang di sukai ya.


Alex pun memasangkan cincin ke jari manis Bella kemudian mengecup lembut tangan Bella. "Sekarang kamu resmi menjadi calon istriku, dan seminggu lagi kita akan menikah."


"Apa? secepat itu?" ucap semua orang terkejut tapi tidak dengan Syafira yang diam santai.


"Lex, apa itu tidak kecepatan, kita harus menyiapkan segalanya. Mulai dari mengurus surat-surat nikah, dekorasi, catering, dan lain sebagainya," ujar Elsa merasa waktunya tidak cukup mempersiapkan segalanya.


Alex berdiri dan kembali duduk di tempatnya. "Aku sudah mempersiapkan segalanya, dan kalian tinggal duduk manis saja. Iya, kan Bos?" tanya nya kepada Syafira.


Syafira mengangguk tersenyum bahagia atas kedua orang yang ia sayangi.


"Wah, kau ponakan durjana, Ra. Bisa-bisa nya bertindak tanpa memberitahukan paman," sahut Doni.


"Ngapain bilang sama paman? Paman saja sibuk terus bareng Amel. Jadi jangan protes kalau aku tak mengajak paman diskusi," sindir Fira pada Doni.


"Tidak usah berantem! Mending sekarang kita makan, aku sudah lapar dari tadi belum makan." Sahut Leo.


*****


Berita pernikahan Bella dan Alex sudah tersebar dan sampai ketelinga Nando. Pria itu tidak terima Bella akan menikah. Dia tidak ingin untuk kedua kalinya wanita yang ia cintai tak dapat ia miliki.


"Sialan, brengsekkk, si Alex benar-benar kurang ajar sudah merebut Bella dariku. Tak akan ku biarkan itu terjadi, Bella harus jadi milikku." Nando beranjak dari duduknya.


"Do, kau mau kemana?" cegah mandor konveksi.


"Mau pulang, ada urusan."


"Hei, kau jangan seenaknya pulang begitu saja! Kerjakan dulu pekerjaanmu setelah beres baru pulang!"


"Saya tidak peduli!" tubuh mandor konveksi di dorong oleh Nando supaya tidak menghalanginya.


*****


Toko Baju

__ADS_1


"Akhirnya Kak Bella akan menikah juga. Selamat ya, Kak. Pokoknya doa terbaik buat Bu Bos." Ucap Intan dan para pegawainya yang lain.


"Terima kasih, ya, atas doanya. Oh, iya, sebagai rasa syukur ku aku akan memberikan kalian bonus."


"Benarkah? aaa terima kasih, Bos." Para pekerja wanita langsung memeluk Bella.


"Isss kalian ini, sesak tahu." Bella memberenggut kesal.


"Maaf Bu, Bos."


Namun sedetik kemudian dia tersenyum mengambil amplop yang ada di dalam tasnya kemudian membagikan kepada karyawan nya.


"Bella aku ingin bicara sama kamu," ucap seorang.


Bella sudah tahu siapa pemilik suara tersebut. "Ada apa lagi, Nando?"


"Kita bicaranya di depan saja, ini penting dan orang lain tidak boleh tahu," sindirnya kepada para karyawan.


"Mereka bukan orang lain, di sini saja kalau ingin bicara!"


"Plis, Bel. Hanya sebentar tapi di luar, ya." pintan Nando memohon.


"Baiklah, hanya sebentar!"


Dan keduanya keluar toko. Disaat sudah ke luar toko, Nando celingukan, ia mengedarkan pandangan mencari situasi yang aman dan langsung saja ia membekap mulut Bella dari belakang menggunakan sapu tangan.


Perlahan Bella mulai lemah, iapun pingsan tak sadarkan diri.


"Maafkan aku, Bella. Aku tidak ingin kamu menjadi milik orang lain. Aku terpaksa melakukan ini padamu karena aku mencintaimu," batin Nando membawa Bella pergi dari sana.


Setelah mobil Nando pergi, Alex tiba di toko ingin menjemput Bella pulang.


"Intan, Bella mana?" tanya Alex kepada Intan yang ada di meja kasir.


"Barusan ia keluar bareng Nando, katanya ada yang ingin di bicarakan sama Bu Bos."


Alex mengernyit, hatinya mendadak tidak karuan mendengar Bella keluar dengan Nando.


"Terima kasih, Tan." Alex segera menelpon seseorang. "Tolong kamu lacak no handphone Nando!"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2