Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Pura-pura )


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim


Jangan lupa LIKE, KOMEN, dan VOTE nya ya!.


*****


"Dasar bocah semprul, masih Bocil udah main cinta cintaan. Sekolah dulu yang bener, kerja dulu, baru dah pikirin cinta." Sergah Devano gemas pada adik gendutnya sembari memitingkan kepala Ferdi.


"Tahu nih."


"Tahu mah enak, Kak Hasna. Ferdi kan cuman mengutarakan apa yang Ferdi tahu dari Citra. Ferdi suka deketin Adek Zahra, berarti Ferdi cinta sama Adek Zahra," balas Ferdi tak mengalah dengan pengetahuannya.


"Sakarepmu lah. Bocil gini mana paham akan cinta cintaan. Cinta monyet," sahut Hasna.


"Ferdinya lepasin Van, kasian kepalanya di pitingin gitu!" lerai Nando meminta Devano melepaskan tangannya di kepala Ferdi.


"Lepasin Kak! Nanti Adek Zahra tidak mau kalau rambutku rusak." Ferdi melepaskan tangan Devano menyugarkan rambutnya supaya rapi kembali.


Hasna dan Devano jengah akan kelakuan adiknya. Sedangkan Nando terdiam memperhatikan ketiganya. Hatinya merasa ada yang kurang. Dia teringat Bella, bagaimana keadaannya sekarang? apakah wanita itu menangis terdiam sepi atau tertawa bahagia?


"Kalian tertawa bercanda tapi tidak memikirkan perasaan Mama kalian?" celetuk Nando membuat ketiganya terdiam dari candaannya menoleh memandangi Nando.


"Ayah jadi tidak enak dengannya, Mama kalian pasti sedang termenung berdiam sepi tanpa ada yang menemani sedangkan kalian di sini seperti tidak ada beban sama sekali."


"Ayah, kami tau perasaan Mama. Saat ini, pasti beliau sedang menyibukan diri dengan toko bajunya," ucap Hasna.


"Benar itu, makanya kami ikutan kesini. Karena jika kami tidak ada, maka Mama akan ke toko baju," balas Devano kembali memakan cemilannya.


"Om kali yang merasa termenung terdiam sepi meski banyak kami di sini?" celetuk Ferdi santai sambil ikutan mengunyah cemilan di toples yang Devano pegang.


Perkataan Ferdi sontak membuat Nando terkejut. [ kenapa dia tahu kalau hatiku merasa sepi tanpa hadirnya disini? ]


Hasna dan Devan saling lirik mengulum senyum.


"Hmmmm kalau Ayah merasa kesepian, aku akan telpon Mama untuk kesini." Hasna berucap seraya mengambil ponselnya.


"Jangan! Ayah tidak mau mengganggu Mama kalian," cegah Nando. [ boleh, apalagi menginap. Maunya sih. ]


"Mulut bilang jangan tapi hati bilang boleh, munafik." Celetuk Ferdi pokus ke televisi.


[ Eh.. kenapa anak ini selalu benar sih dalam menebak hati? ] batin Nando mengernyit heran.


"Aku telpon Mama ya. Ferdi kau tahu apa yang harus kau lakukan supaya Mama datang?"


"Tahu, Kak."


Hasna mulai melakukan panggilan.

__ADS_1


*********


Bella yang sedang sibuk mengurusi baju-baju yang baru datang toko bajunya mendengar dering telepon. Dia melihat dan rupanya itu Hasna.


"Assalamualaikum, Hasna."


"Waalaikumsalam, Mah."


"Huachiimm.. huachiimm..."


Bella yang mendengar suara bersin-bersin langsung terdiam mendengarkan. "Sayang, siapa yang bersin? suaranya seperti Ferdi?"


"Hmm anu Mah.." Hasna yang berada di sebrang telpon ingin tertawa melihat Devano sedang menggelitik kaki Ferdi. Ferdi itu ajaib, dia akan bersin kalau kakinya di gelitiki dan juga akan bersin-bersin alergi ketika makan udang.


"Huachiimm.. hhrrrr.. huachiimm.. hhrrrr Mah."


"Ferdi, kau sakit?" Bella panik, dia mengambil tasnya kemudian meninggalkan pekerjaan dia demi putranya tanpa berpikir dulu anaknya kenapa.


"Ferdi tidak kenapa-kenapa, Mah. Dia sedang di gelitiki Devan."


"Mama tidak percaya, Ferdi akan bersin-bersin kalau makan udang. Mana mungkin di gelitiki bersin-bersin? Mama akan kesana sekarang juga!"


********


Hasna mengangkat kedua jempolnya atas sandiwara Ferdi. Panggilannya di loud speaker sehingga Nando bisa dengar.


"Yeess... kita berhasil." Pekik Hasna bertos ria dengan adik-adiknya.


"Bentar lagi Mama akan kemari, Om. Jadi Om tidak akan lagi terdiam sepi karena sang bidadari sudah akan tiba di istananya sang pangeran," ujar Ferdi terkekeh. Anak ini benar-benar pandai bicara.


Nando tersenyum, bisa-bisanya mereka mengerjai Mamanya sendiri. Tapi tak di pungkiri kalau dia memang bahagia kala mendengar Bella akan datang kerumahnya. Namun, tiba-tiba saja dia menjadi gugup dan juga bingung harus melakukan apa saat Bella datang.


"Kalau Mama kalian datang bagaimana? apa yang akan Ayah lakukan?" tanya Nando meminta pendapat kepada ketiga anak-anaknya.


Hasna, Devan, dan Ferdi berpikir sembari menopang dagu dengan kompak. Seketika pikiran mereka saling terhubung satu sama lain. "Pura-pura sakit!"


"Apa?! jangan aneh-aneh, deh. Ayah kan tidak sakit." Nando menolak ide mereka. Mana mau pura-pura sakit demi mendapatkan perhatian Bella.


"Dengerin dulu, Mama belum mendengar penjelasan siapa yang bersin-bersin. Nah, Ayah pura-pura meriang. Alias merindukan kasih sayang." Ujar Hasna mulai memberikan pendapatnya.


"Setelah itu, Ayah Nando berbaring di sofa dengan lap di kening macam kompres seraya menggigil," timpal Devano.


"Jangan lupa juga bersin-bersinnya supaya Mama percaya. Untuk menambah keyakinannya, siapkan botol berisi air panas lalu tempelkan ke kening, ke ketik, leher, kaki, sekujur tubuh juga boleh," sahut Ferdi.


"Melepuh dong," protes Nando.


"Ya kali mau berendam di air panas. Cukup di kening saja kok," sergah Hasna.

__ADS_1


Nando nyengir menggaruk kepalanya, pikirannya seketika buntu.


"Eh, malah diskusi Mulu. Buruan kerjakan sebelum Mama sampai!" titah Devan.


Hasna beranjak ke dapur menyiapkan botol berisi air panas. Devan mencari mangkuk beserta lapnya. Kalau Ferdi dan Nando hanya terdiam menyaksikan ke ricuhan yang di lakukan dua anak itu.


"Ayah ini." Hasna memberikan botolnya.


"Baringan, Om!" ujar Ferdi. Nando hanya menurut berbaring di sofa. Devan berlari ke kamar yang pernah ia singgahu mencari selimut.


"Terus ngapain?" tanya Nando.


"Tempelkan botolnya, Yah!" kata Hasna. Nando mengambil botolnya kemudian menempelkan di kening dengan kedua telapak tangannya memegangi.


"Ini panas Hasna," protes Nando.


"Kan biar meyakinkan Ayah."


"Protes mulu, mau dapetin Mama gak?" sergah Ferdi dengan ekspresi kesal.


"Maulah masa kagak," jawab Nando sinis.


"Makanya nurut!" sergah Hasna, Ferdi dan Devan yang sudah kembali membawa satu selimut tebal.


"Ferdiii.." pekik Bella tanpa mereka sadari telah sampai.


"Mama!" ketiga bocah itu panik.


"Bella! Aduh, ini botolnya di sembunyikan dimana?" ujar Nando ikutan bingung dan panik.


"Aku buka pintunya ya?" kata Devan dan di angguki Hasna. Ferdi mah sudah duduk anteng.


"Di bawah selimut!" jawab Hasna mengambilnya lalu menaruh sembarangan botol panas itu kemudian menyelimutinya.


Plukk...


"Aduuhhh." Mata Nando melotot menahan sakit dan juga panas ketika botol panas itu mendarat sempurna di atas senjatanya. [ Senjata gue kepanasan woyy ]


Hasna duduk di bawah kaki Nando kemudian memijatnya. Dan Devan membuka pintunya setelah semuanya aman.


"Ferdi, kamu tidak..." Bella mengernyit saat melihat putranya baik-baik saja. "Kamu tidak sakit?"


"Bukan Ferdi tapi ayah, Mah." Sahut Hasna.


Bella berjalan masuk karena ia tidak melihat Nando. Semakin mendekat, nampaklah Nando yang sedang menggigil dengan wajah memerah menahan panas.


"Nando."

__ADS_1


__ADS_2