Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Perkebunan part 2 )


__ADS_3

Nando mengulurkan tangannya. "Gapai tanganku, Bella! Ayo sayang, kamu bisa."


Tangan satunya berusaha mengambil uluran tangan Nando dan yang satunya memegang kuat akar supaya tidak jatuh. "Aku lelah, Nando." lirih Bella tak kuat lagi menahan beban tubuhnya.


"Coba lagi, kamu bisa menggapai tanganku. Ayo, Bel."


"Mama jangan menyerah! Mama pasti bisa gapai tangan Ayah Nando." Ferdi berkata seraya menyoroti mereka menggunakan senter.


Bella kembali mengulurkan tangannya ke atas berusaha menggapai tangan Nando. Perlahan, ujung jarinya menyentuh ujung jari pria tersebut.


"Ayo..." Nando menundukkan tubuhnya supaya Bella bisa bisa menggapai tangannya.


Akar yang sempat Bella pengang mulai terlepas dari tangannya. Tangannya tak kuat lagi menahan beban dan ia pasrah jika harus terjun ke bawah. Tenaganya semakin terkuras, kepalanya pusing.


"Jangan menyerah, Bella!" Pria itu berusaha menggapai tangan Bella.


"Aku tidak kuat lagi, Nando." lirihnya bertepatan dengan akar yang terlepas dari tanahnya.


"Bella....!" pekik Nando khawatir.


"Mama...!" Ferdi pun tak kalah terkejut. Tapi Untungnya Nando cepat menggapai pergelangan tangan Bella meski tubuhnya hampir sebagian condong ke bawah.


Dengan sekuat tenaga, Nando menarik Bella ke atas jurang. Semakin lama, tubuh Bella semakin naik. Pada saat itu kedua tangan Nando menggapai kuat tangan Bella hingga Bella bisa naik keatas. Nando menarik paksa Bella sampai wanita itu ambruk di dalam dekapan tubuhnya.


Bruk...


Untuk sesaat Bella merebahkan kepalanya di dada Nando mengatur nafasnya yang masih memburu akibat syok dan juga takut.


"Sudah ku tawari kamu ikut denganku tapi kau malah keras kepala. Lihatlah, kau hampir celaka karena keegoisanmu sendiri dan kau membahayakan Ferdi. Dasar wanita bodooh.." umpatnya kesal, marah, khawatir, dan juga bersyukur mereka baik-baik saja. Namun Nando begitu erat memeluk wanita yang masih bertahta di hatinya seraya mengecup kepala Bella yang terbalut hijab.


Bella tidak menjawab, ia masih merasakan syok. Tubuhnya terasa lemah terkuras tenaganya.


Ferdi ikut berjongkok memeluk keduanya. Dia juga masih menangis ketakutan Mamanya jatuh ke bawah. "Mama, Ferdi takut terjadi sesuatu kepada Mama."


Nando memeluk tubuh Ferdi. Sejenak, mereka saling terdiam berpelukan mengatur nafas serta rasa keterkejutannya. Sekian detik berada di dekapan Nando membuat Bella merasa tenang.


"Lain kali, kalau kamu ingin lari ke hutan sendiri saja. Jangan ajak anak-anak. Umur sudah 39 tapi pikiran masih bocah. Egois." Umpat Nando.

__ADS_1


Bella mendongak kesal di salahkan terus. Dia mendorong tubuh Nando sampai pelukannya terlepas. "Mana ku tahu akan terjadi seperti ini. Kalaupun tahu tidak akan ku order mobil Online."


"Kamu sendiri yang egois. Hanya karena enggan ku dekati kau sampai bertindak sendiri."


Bella menggeram kesal. Pertengkaran keduanya di perhatikan oleh Ferdi. Dia ingin berdiri namun, ia kembali terjatuh memegangi kedua pundak sisi Nando. "Aawwwss... kakiku." pekiknya kesakitan.


"Kakimu kenapa? sakit?" Nando panik.


"Mama." Ferdi mengarahkan senter ke kaki Bella. Alangkah kagetnya mata kedua pria berbeda usia itu tat kala melihat darah dari tumitnya Bella.


"Kaki kamu berdarah?!" Nando memeriksa kaki Bella. Ternyata lukanya cukup besar. Mungkin terkena goresan ranting runcing.


Tanpa aba-aba, Nando membopong tubuh Bella.


"Nando..! apa yang kamu lakukan? turunkan aku!" pekiknya terkejut.


"Ferdi, kamu berjalan di depan ke arah selatan! Kau tidak apa-apa berjalan?" titahnya tampan mendengarkan rengekan Bella.


"Baik Ayah. Ferdi tidak apa-apa yang penting Mama tidak kesakitan." Ferdi mengikutinya seraya menyoroti senter di ponsel ke depan.


"Good boy."


"Diam dan turuti aku! Jangan keras kepala!" ucap Nando tegas. Bella diam tak berkutik.


Petunjuk arah Nando ternyata membawanya ke sebuah rumah kayu di dalam perkebunan kelapa sawit. Dua orang penjaga rumah terkejut melihat bosnya telah menemukan wanita yang dimaksud.


"Bos."


"Tolong kau hubungi mereka kalau orang yang dicari sudah ketemu!"


"Baik, bos."


Ferdi menatap kagum rumah kayu tersebut. Terlihat bersih, rapi, nyaman, dan juga sejuk. Nando mendudukkan Bella di tangga.



"Kamu tunggu sebentar di sini. Aku mau mengambil air di situ," tunjuk Nando ke samping kiri. Rumah kayu tersebut kamar mandinya berada di luar samping kiri. Ini tempat peristirahatan Nando ketika sedang berkunjung ke perkebunan.

__ADS_1


Bella mengangguk dan Ferdi terkagum memperhatikan rumah kayu tersebut. Tak lama kemudian Nando datang sambil membawa satu ember air bersih. Dia berjongkok di dekat kaki Bella.


"Ayah Nando, ini rumah siapa?" tanya Ferdi penasaran masih dengan kekagumannya.


"Ini tempat istirahat saat sedang mampir di perkebunan." Jawab Nando sambil mengangkat kaki Bella yang terluka menaruhnya di atas paha kemudian menyingkap sedikit celana kulotnya.


"Perkebunan? ini hutan kelapa sawit milik Ayah Nando?" tebak Ferdi.


"Hanya titipan, Ayah hanyalah pria miskin tak memiliki apapun."


"Sssstthhh..." Bella meringis merasakan perih saat Nando membersihkan kaki Bella yang berdarah supaya lebih bersih.


"Maaf, pasti perih ya? fyuuhhh.. ffyyuuhh..." Dengan hati-hati, Nando meniupi tumit kakinya Bella seraya mengusap pelan menggunakan lam steril untuk membersihkan luka Bella.


Wanita beranak 3 itu menatap intens pria di hadapannya. Ada geleyar aneh yang ia rasakan namun, Bella tak ingin menyimpulkan dulu. Dia memperhatikan bagaimana cara Nando membersihkan kakinya penuh kehati-hatian. Ferdi pun sama, dia menopang dagu memperhatikan pria di depannya.


Mata indahnya sampai tak berkedip memperhatikan Nando yang terlihat cemas dan juga telaten saat membersihkan luka.



"Kamu tunggu disini, aku mau mengambil kotak kesehatan." Nando menaruh pelan kaki Bella lalu beranjak masuk ke dalam rumah kayu mengambil kotak kesehatan.


"Ayah Nando baik, Ferdi menyukainya, Mah."


Bella terkejut lantas menoleh menatap putranya. "Maksud kamu apa?"


"Bukankah Papa sudah menjadikan Ayah sebagai Ayah bagi kami dan juga pelindung kita semua? makanya Ayah Nando datang menyelamatkan kami. Ferdi merestui pilihan Papa."


Bella tak menjawab, dia lebih berpikir apakah dia harus membuka hatinya lagi dan menerima Nando seperti permintaan mendiang suaminya. Nando kembali datang dengan membawa apa yang ia cari. Dia kembali berjongkok menuangkan sedikit alkohol lalu mengoleskannya ke luka Bella.


Bella kembali meringis. Setelah beberapa saat, Nando selesai membalut luka di kaki Bella. Nando juga menyuruh Bella dan Ferdi membersihkan dulu dirinya. Awalnya Bella ragu dikarenakan tidak ada baju. Tapi ternyata, Nando memberikan satu set pakaian baru beserta hijabnya entah darimana dia mendapatkannya? Bella tidak tahu.


"Untuk malam ini kita akan menginap di sini dulu sampai besok pagi. Tidak memungkinkan kita pulang larut malam kan?" Mereka sudah berada di meja makan makan malam bersama.


"Iya, Mah. Kita nginep saja di sini ya?" rengek Ferdi.


"Tapi.."

__ADS_1


"Ini sudah malam, Bella. Kasihan Ferdi." bujuk Nando demi kebaikan keduanya juga. Dia kasihan melihat Ferdi kelelahan.


Bella menghelakan nafasnya, dia tidak boleh egois lagi demi putranya yang memang terlihat lelah dan sudah menguap. Bella pun mengangguk mengiakan.


__ADS_2