Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
Bella hilang


__ADS_3

"Apa kamu senang seharian bermain bareng Ayah?"


"Sangat, sangat, senang, Ayah. Aku ingin setiap hari seperti ini, aku juga ingin kedua orang tuaku selalu menemaniku bermain," jawab Hasna berbinar bahagia.


"Ayah akan usahakan setiap hari kerumah Mama supaya bisa bermain bareng kamu," ujar Nando menyuapi Hasna ice cream.


"Kenapa Ayah tidak tinggal bareng kami saja?" tanya Hasna polos.


Nando melirik ke arah Bella.


"Hasna, tidak semua orang tua akan tinggal satu rumah. Ada sebagian orang tua yang akan terpisah karena suatu hal, begitupun dengan Mama dan Ayah yang tidak bisa tinggal bareng," jawab Bella mengusap rambut Hasna menatap kosong ke depan.


"Kenapa tidak bisa? teman-teman Hasna semuanya tinggal bareng Ayah, kenapa aku tidak bisa?" Hasna mulai cemberut dan mendung.


"Dengerin Ayah, untuk saat ini kita tidak akan tinggal bareng, tapi suatu saat nanti kita pasti akan tinggal bareng. Ayah janji itu!" ucapnya yakin.


"Jangan memberikan harapan kepada seseorang, kalau tidak di tepati rasanya akan jauh lebih menyakitkan," timpal Bella menjilat ice cream corong.


Nando tersenyum melihat Bella belepotan, ia memegang pipi Bella. "Eh, mau ngapain?!" Bella menjauhkan wajahnya.


"Kalau makan jangan belepotan begini." Nando melanjutkan niatnya mengelap bibir Bella yang ada coklat menggunakan ibu jarinya.


Tentu saja perlakuan Nando membuat Bella termangu. "Kenapa perasaan ini masih ada?" batinnya.


"Hmmmm aku bayar dulu makannya, kalian tunggu dulu, ya!" Nando sudah berdiri dari duduknya.


"Kan bisa panggil pelayan untuk minta bill nya?" tanya Bella heran.


"Sekalian pesan lagi buat Mama mu dan Calista. Kamu gak usah khawatir, aku akan segera kembali, kok!" ujar Nando mengusap punggung tangan Bella.


"Ayah, aku ikut." Sahut Hasna sudah turun dari kursinya.


"Ya sudah, ayo!" Nando pun menuntun Hasna berjalan menuju meja kasir untuk membayar sekalian memesan lagi.


"Ayah, lain kali kita jalan-jalan lagi, ya."


"Iya, sayang. Tapi kamu harus ajak Mama juga, ya."


"Iya, Yah." Namun mata Nando celingukan mencari keberadaan Bella yang sudah tidak ada di tempat.


"Kemana Bella? apa Hasna melihat Mama pergi?" tanya Nando menunduk pada Hasna.

__ADS_1


"Tidak, Yah. Dari tadi aku ikut Ayah ke sana," tunjuknya ke arah meja kasir.


"Lalu Mama kemana?" Hasna juga celingukan mencari.


"Mbak, mbak, apa kamu tahu wanita yang duduk dengan saya pergi kemana?" tanya Nando ke pekerja yang ada di sana.


"Tidak tuan, saya tidak tahu. Mari Tuan,"


"Ah, iya, terima kasih." Nando mempersilahkan pekerja tersebut untuk pergi.


"Mama," Hasna sudah mulai panik, gadis kecil itu sudah ingin menangis, dan Nando segera menggendongnya.


"Mungkin Mama sedang ke toilet, kita cari lagi ya." Nando pun bertanya ke setiap orang yang di sekitarnya barang kali salah satu dari mereka ada yang tahu.


Namun sudah kesana kemari bertanya tidak ada satupun yang melihat. "Kemana lagi kita mencari? ruang Cctv."


"Ayah, Mama kemana?" Hasna sudah terisak takut Mama nya beneran hilang.


Nando sudah khawatir, cemas, panik, ia takut Bella nyasar dan kenapa-kenapa.


"Mbak, bisa bantu saya? istri saya tadi duduk di situ," tunjuk Nando ke meja no 5.


"Saya sama anak saya kemari tapi setelah kembali dari sini istri saya sudah tidak ada. Saya minta tolong untuk menunjukan ruangan Cctv mencari tahu keberadaanya karena dari tadi kami tidak menemukannya."


****


Nando dan beberapa petugas cctv terus menatap layar yang ada di depan.


"Itu, itu istri saya!" Nando minta menyetopkan putaran kameranya. "Itu baju pekerja sini kan? kenapa dia membawa Istri saya?"


Resepsionis yang ikut bareng Nando memperhatikan siapa orangnya. "Maaf Tuan, sepertinya dia bukan pegawai sini. Kami bisa mengenali siapa saja yang bekerja di sini," ucap sang resepsionis tidak mengenali wajahnya.


"Kalau bukan pegawai, lalu siapa? tidak mungkin istri saya begitu saja percaya kepada orang lain?" balas Nando meninggikan suaranya. Pikiran negatif mulai muncul di benaknya.


"Huaaaa Mama, aku mau Mama, Ayah. Mama mana?" Hasna menangis di gendongan Nando.


Nando berusaha menenangkan putrinya. "Pokoknya kalian harus cari siapa orang yang memakai pakaian itu, kalau tidak, saya akan melaporkan kalian semua dan akan ku pastikan Cafe ini di tutup!" imbuhnya tegas.


"Baik, Tuan."


****

__ADS_1


Nando dan Hasna sudah sampai di rumah, dari depan teras Elsa sudah menunggu kedatangannya karena Nando memberitahukan kalau Bella hilang. Elsa langsung mencerca Nando dengan berbagai macam pertanyaan.


"Jhon, kenapa Bella sampai bisa di culik? siapa yang sudah menculiknya? bagaimana keadaan dia sekarang, Jhon? kau tahukan Bella tidak bisa melihat, bagaimana ia bisa kabur kalau hanya untuk melindungi dirinya sendiri ia tidak mampu." Elsa sangat panik, dia khawatir akan kondisi putrinya.


"Aku juga tidak tahu siapa yang telah menculik, Bella. Kejadiannya terlalu cepat dan tak terlihat," balas Nando.


"Mama, Nek. Mama di ambil orang jahat," ujar Hasna menangis merentangkan tangannya minta di gendong Elsa.


Elsa mengambil alih Hasna dari gendongan Nando. "Ini semua gara-gara kamu, Jhon. Sudah tahu Bella tidak ingin ikut, kamu malah tetap memaksanya. Sekarang Bella entah dengan siapa? apa sudah makan atau belum? baru pertama kali di berikan kepercayaan menjaga Bella saja sudah tidak becus," Elsa meluapkan kekhawatiran nya dengan memarahi Nando.


Nando tak berkutik sedikitpun, ia sadar kalau ia telah lalai. "Aku akan membawa Bella kembali, Tante. Ini janjiku," ujar Nando yakin, dan ia pun berpamitan kepada Elsa untuk mencari keberadaan Bella.


****


"Halo, Dim. Loe dimana?"


"Gue baru saja pulang bekerja kenapa emangnya?"


"Bella di culik orang tak di kenal, Dim. Loe bantu gue cari keberadaanya!"


"Apa?! kok bisa? baik, gue sekarang kesana dan loe share lokasi tempat kejadiannya!"


Nando mengirimkan alamat Cafe tadi. Dia sudah kembali ke Cafe ingin mencari tahu lebih detail mengenai orangnya.


Sambil menunggu Dimas datang, Nando meminta petugas keamanan untuk membawa dia ke ruangan Cctv. Dia kembali memperhatikan berharap menemukan bukti siapa pelakunya.


Orang yang membawa Bella bertubuh tegap, memakai topi menutupi wajah dan membelakangi cctv. Namun di bagian lehernya ada sebuah tato bergambar naga.


"Stop, Pak. Tolong besarkan bagian tengkuknya!" titah Nando kepada petugas.


Petugas menuruti perintah Nando.


"Gambar itu? sepertinya aku pernah melihatnya? tapi dimana?" batin Nando berpikir keras dimana pernah melihatnya.


"Do, bagaimana hasilnya?" tanya Dimas tergesa masih ngos-ngosan akibat lari.


"Masih dalam pencarian. Dim, apa kau tahu orang itu?"


Dimas menatap layar dan melihat lekat-lekat orang yang ada di gambar. "Wajahnya tidak kelihatan, gue tidak tahu dia."


"Dia pakai tato naga di tengkuk," balas Nando melipatkan kedua tangannya terus mengingat. "Gue ingat, dia orang yang gue pukul di Cafe."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2