
"Ma, besok kita jadi kan ke taman? Mama sudah janji mau ngajak aku main di taman." Hasna menagih janji yang telah Bella ucapkan sebelum hari ultahnya.
"Jadi, sayang. Besok kamu bisa bermain sepuasnya di taman. Tapi, kita ajak bi Sri ya, untuk menjaga kamu karena Mama tidak mungkin bisa mencari kamu kalau sampai ada apa-apa sama kamu." Bella mengelus kepala putrinya yang terbaring berbantalkan lengannya.
"Iya, Ma. Aku mengerti kok." Tangan mungil Hasna memeluk erat punggung sang Mama dan sebelum tidur, gadis kecil itu mengecup terlebih dulu wajah Mamanya. "Selamat tidur, Ma. Hasna sayaaang Mama."
Bella tersenyum, "Selamat tidur juga cantiknya Mama. Mama juga sayaaang pake banget, Hasna." Bella mengecup pucuk kepala putrinya kemudian mereka tertidur saling memeluk.
****
Di tempat yang berbeda, Calista begitu bahagia atas kehadiran Kakaknya. Dia sampai memasakkan makanan kesukaan Nando.
"Tambah ini ya, Kak. Aku sengaja memasak ini untuk Kakak. Ini juga di makan, dan ini juga," Calista menuangkan setiap makanan kedalam satu piring yang ada di hadapan Nando.
"Cukup, Dek! Ini terlalu banyak, bisa-bisa perut Kakak meledak memakan makanan sebanyak ini."
"Ini juga udah cukup, tapi yang ada di piring habisin ya! Aku udah masak buat Kakak." Calista memasang wajah memohon dan itu membuat Nando tak bisa menolak.
"Baiklah."
Calista pun tersenyum senang. "Hmmm, Kak. Selama ini Kakak kemana saja? kok aku sulit sekali menghubungimu dan Kakak hanya memberikan uang saja tanpa memberi kabar," tanya Calista melipatkan kedua tangannya di atas meja dan menatap Nando penuh tanya.
Nando sampai menelan makanannya secara kasar, ia minum dan berkata, "Di sana Kakak tidak memegang handphone, di sana juga jaringannya tidak ada, dan di sana juga Kakak bekerja sebagai petani dan gajinya Kakak kirim buat keperluan kamu."
"Tapi, Dek. Uang yang Kakak kirim hanya cukup buat kamu lalu kamu dapat darimana uang untuk kebutuhan kamu sampai bisa kuliah dan beli rumah?" Jhon benar-benar penasaran sebab ia hanya mengirimkan uang sekitar 5 juta per bulan.
"Lho, kan uangnya dari Kakak. Setiap bulan Kakak kirim 10 juta buat keperluan aku sampai bisa sekolah dan bisa beli rumah ini," Calista bingung kenapa Kakaknya malah bertanya seperti itu.
Jhon terdiam bengong memikirkan sesuatu, hatinya berkata dan bertanya, "10 juta...! Apa Syafira yang menambahkan? hanya dia yang bisa berbuat seperti itu."
"Kak, ada apa?" Calista menggoyangkan tangan Kakaknya menyadarkan Jhon dari pikiran bengong.
"Ah, tidak, Kakak hanya tidak menyangka kamu bisa sukses seperti ini," ucap Jhon mengelak.
"Ini semua berkat keluarga Kak Syafira yang selalu mendukung aku dan juga berkat Kakak juga." Calista kembali terbayang saat dulu ia di tinggalkan Jhon.
__ADS_1
"Dulu, waktu Kakak ninggalin aku sendirian hidupku tidak menentu. Aku sampai menjadi tukang koran, tukang buruh cuci, bahkan menjadi tukang gosok hanya untuk membeli sesuap nasi, aku juga harus mengatur waktu antara sekolah dan bekerja."
"Aku juga sempat menjadi pengamen di depan Cafe, dan pada saat itu aku bertemu dengan Kak Syafira, dia memberikanku pekerjaan tetap menjadi penjaga kasir di Cafenya. Apa kakak tahu, dia adalah orang yang datang ke acara perpisahan di SMA bahkan ia juga datang di acara wisuda aku." Calista sampai meneteskan air mata mengingat kebaikan Syafira.
"Maafkan Kakak yang pergi tanpa pamit, dan maafkan Kakak ketika awalan ke sana Kakak tidak menghubungimu selama berbulan-bulan," Jhon merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan. Ia juga semakin bersalah kepada Syafira.
"Itu semua masa lalu, sekarang Kakak sudah pulang dan aku ingin Kakak menemaniku di sini sampai kita memiliki keluarga," ucap Calista tersenyum teduh.
Jhon tak bisa berkata apa-apa, ia menyesal dan semakin bersalah.
****
Sesuai janjinya, Bella mengajak Hasna bermain di taman. Mereka menggelar piknik kecil di area taman itu.
"Ma, aku mau main gelembung." Hasna membawa gelembung untuk di mainkan di taman.
"Iya, sayang. Kamu mainnya jangan jauh ya!"
"Iya, Mah." Balas Hasna mulai meniupkan gelembungnya.
"Iya, Non." Bi Sri sibuk menyusun cemilan sesekali memainkan handphone nya.
Saat sedang asik bermain, Hasna melihat pedagang balon. Gadis kecil itu mengejar pedagangnya sebab ingin membeli balon berbentuk hello Kitty.
"Bi, Hasna mana ya? kok aku tidak bisa mendengar suaranya." Bella terus menajamkan indra pendengaran guna memastikan keberadaan putrinya.
Bi Sri terkejut karena saking asyiknya melihat handphone sampai lupa dengan putri majikannya. "Non, bibi panggilkan dulu ya. Non tunggu di sini saja!" ucapnya merasa bersalah.
"Ah, iya, Bi. Cepetan ya, soalnya aku mau ke toko."
Bi Sri pun mulai mencari keberadaan Hasna. "Aduh, kemana Non Hasna? kalau sampai tidak ketemu bisa di pecat ini mah," gumam Sri mencari kesana-kemari penuh kekhawatiran.
Hasna masih mengejar pedagang balon yang di motor. "Mang, tunggu! Aku beli balonnya, Mang!" teriaknya melambaikan tangan.
Pedagang balon tidak mendengar teriakan Hasna sebab bising dengan suara knalpotnya.
__ADS_1
"Mang...." teriaknya mengejar sampai ke dekat jalan raya dan tanpa sengaja ada motor yang ingin menyerempet tubuh kecilnya.
"Dek, awaaass..." pekik seseorang berlari dan langsung memangku Hasna sebelum motor itu menabrak tubuh mungilnya.
Sang pengendara mengerem motornya. "Kalau jaga anak yang benar! Untung saya tidak menabraknya, kalau sampai bocah itu tertabrak saya rugi harus mengeluarkan uang," bentaknya emosi.
"Hei..! Anda yang seharusnya menjalankan motor dengan benar! Ini jalanan, banyak orang lewat, seharusnya Anda sadar itu! Anda pikir ini jalan nenek moyangmu seenak udelnya kebut-kebutan?" bentak Jhon tak kalah tegas dan tentunya marah.
Pengendara itu nyalinya menciut melihat kemarahan Jhon. "Maaf," ucapnya dan langsung pergi meninggalkan mereka.
Hasna terus menatap lekat-lekat wajah yang sedang menggendongnya.
"Dek, kamu tidak apa-apa? kamu di sini sama siapa? dimana Ibu dan Ayah kamu? kenapa kamu bisa sampai sendirian di sini?" cerca Jhon menatap mata Hasna.
Deg...!
Ia tertegun menatap mata beningnya Hasna apalagi melihat wajahnya terlihat seperti dirinya namun ini versi wanita.
"Ayah...!" lirih gadis kecil dan matanya berkaca-kaca. "Apa Ayah tidak mengingatku?" tanya Hasna kecewa.
"Ayah?!" Jhon mengernyit bingung. "Maaf, Dek. Aku bukan Ayahmu! Kamu salah orang, Dek." balas Jhon merasa tidak mengenal gadis kecil ini.
Hati gadis kecil itu semakin kecewa, Ayah yang di tunggunya tidak mengenali dirinya. Hasna berpikir bahwa Ayahnya telah melupakan dia dan Ibunya sampai tidak pulang kerumah selama bertahun-tahun.
"Om antar kamu ke Mama mu, ya?"
Hasna mengangguk dan menunjukan arah dimana Bella berada. Jhon pun mulai berjalan masih dengan Hasna yang berada di pangkuannya.
Langkah Jhon semakin dekat dengan wanita yang duduk membelakangi dirinya. Bella juga mendengar langkah kaki mendekati dirinya.
"Bi, apa Hasna sudah di temukan?" tanya Bella menoleh kebelakang.
Deg...!
"Bella...!" Jhon berhenti mematung tak melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Bersambung....